Rabu, 24 Juni 2009

LAPORAN BIOLA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Secara geografi Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam laut yang berpotensi untuk dimanfaatkan secara lestari. Sumber daya alam laut tersebut antara lain terdiri atas berbagai jenis ikan, moluska,dan krustase. Masyarakat pesisir sejak lama telah memanfaatkan sumber daya alam laut tersebut sebagai sumber makanan, mineral, obat-obatan, dan energi (Gordon 2000,South & Skelton 2000).
Lautan di dunia merupakan kesatuan ekosistem dimana serangkaian komunitas dapat mempengaruhi faktor-faktor fisik dan kimia air laut di sekelilingnya. Ekosistem yang besar ini dapat dibagi menjadi daerah-daerah kecil dimana parameter fisika dan kimia mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap populasi dari daerah tersebut (Nybakken, 1998).
Laut, seperti halnya daratan, dihuni oleh biota, yakni tumbuhan-tumbuhan hewan dan mikroorganisme hidup. Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut, mulai dari pantai permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Keberadaan biota laut ini sangat menarik perhatian manusia, bukan saja karena kehidupannya yang penuh rahasia, tetapi juga karena manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Pemanfaatan biota laut yang makin hari makin meningkat dibarengi oleh kemajuan pengetahuan tentang kehidupan biota laut yang tertampung dalam ilmu pengetahuan alam laut yang dinamakan biologilaut (marine biology).

Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat untuk mengungkap rahasia kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah jenisnya luar biasa besarnya dan keanekaragaman jenisnya luar biasa tingginya.Tingginya, keanekaragaman jenis biota di laut barangkali hanya dapat ditandingi oleh keanekaragaman jenis biota di hutan hujan tropik di darat. Tidak kurang dari 833 jenis tumbuh-tumbuhan dilaut (alga, lamun dan mangrove), 910 jenis karang (Coelenterata), 850 jenis spon (Porifera), 2500 jenis kerang dan keong (Mollusca), 1502 jenis udang dan kepiting (Crustacea), 745 hewan berkulit duri ( Echinodermata), 2000 jenis ikan ( Pisces), 148 jenis burung laut (Aves), dan 30 jenis hewan menyusui (Mammalia), diketahui hidup di laut. Di samping itu tercatat juga tujuh jenis penyu dan tiga jenis buaya (Reptilia). ((Romimohtarto, 2005)
Laut adalah bagian dari bumi kita yang tertutup oleh air asin. Kata laut sudah dikenal sejak dulu kala oleh bangsa kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa di beberapa Negara di Asia Tenggara. Laut lepas yang luas dibatasi oleh benua-benua kita kenal sebagai samudra.
Secara ekologis terdapat fenomena dinamis seperti: abrasi, akresi, erosi, deposisi dan intrusi air laut. Di samping itu, masih terdapat juga fenomena nonalamiah seperti: pembabatan hutan mangrove untuk pertambakan, pembangunan dermaga/jetty untuk pendaratan ikan dan reklamasi pantai. Gejala yang umum terjadi di wilayah kepesisiran adalah interaksi faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan, sebagai penyebab adanya ketidakseimbangan siklus biogeokimia (Cook dan Doornkamp, 1990).

Untuk itu dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan tekonologi manusia mulai menyadari pentingnya laut dan potensi sumber daya di dlamnya. Birowo (1991), mengemukakan bahwa laut bermanfaat sebagai sumber atau media seperti sebagai pangan, transportasi, sumber mineral, bahan baku, industri, bahari, tambang, pertahanan dan keamanan, sumber energi, pemukiman, pariwisata dan tempat limbah.
1.2. Tujuan
Dengan dilaksanakannya praktikum lapangan tersebut, diharapkan mahasiswa tidak hanya dapat mengenal berbagai objek studi dalam mata kuliah Biologi Laut tersebut secara teoritis (baik morfologi maupun anatominya) tetapi juga secara langsung (melalui identifikasi langsung). Ditambah juga dapat mengenal habitat dan kebiasaan hidup objek tersebut di alam. Ini sangat penting, mengingat dalam penelitian akhir mahasiswa dituntut mampu melakukan berbagai prosedur penelitian secara mandiri.
1.3. Manfaat
Manfaat praktikum adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai organisme laut terutama yang hidup di daerah pantai.






II. TINJAUAN PUSTAKA

Biologi laut yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut, berkembang begitu cepat yang mengungkap kehidupan berbagai jenis biota laut yang jumlah dan jenisnya cukup banyak. Tingginya keanekaragaman jenis biota laut hanya dapat ditandingi oleh keanekaragman jenis biota di hutan hujan tropik di darat. (Romimohtarto, 2005).
2.1 Daerah Intertidal atau Litoral
Menurut J. C. Bribbs (1974) zona interdal atau zona litoral adalah daerah kawasan pantai yang terletak antara pasang laut tertinggi dan pasang surut terendah.
Litoral adalah daerah yang terletak diantara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh air pasang yang dikenal sebagai pantai laut (sea shore). Pantai laut ini bentuknya bermacam-macam. Pada beberapa tempat ada lereng pantainya membentuk landai di sini terdapat jarak yang besar antara tanda-tanda air pasang tertinggi dan air pasang terendah. Selain bentuk landai ini ada juga lereng panytainya yang berbentuk curam. Pada pantai yang demikian tanda-tanda air pasangnya akan kelihatan saling berdekatan.
Pada daerah pantai yang terdiri dari pasir atau kerikil yang berssih daerah intertidalnya (daerah pasang surut) dapat mendukung sejumlah besar dan berjenis-jenis organisme. Contohnya : pantai yang terdiri dari batu-batuan (rocky shore) merupakan tempat yang sangat baik untuk hewan-hewan atau tumbuh-tumbuha yang dapat menepel diri pada batu-batuan yang ada. Organisme yang dapat hidup pada areal ini adalah gastropoda, mollusca dan tumbuhan rumput laut.
Daerah pantai ini kaya akan jenis-jenis organisme, namun demikian kehidupan di pantai ini mengalami beberapa masalah, diantaranya organisme yang ada harus dapat menyesuaikan diri atau menghindar dengan membuat lobang atau membenamkan diri dalam keadaan bahaya akibat kuatnya sinar matahari pada waktu air surut.
2.2 Organisme Epifauna dan Infauna
Epifauna adalah semua hewan yang hidup di atas substrat dasar lautan atau perairan, misalnya kepiting, siput laut, bintang laut, timun laut, dll.
Infauna adalah semua hewan yang hidupnya di bawah substrat yaitu dengan cara menggali lubang atau membenamkan diri pada substrat dasar lautan (perairan), misalnya cacing, tiram, remis, bivalva, dll.
Odum (1971) menyatakan bahwa perkembangan maksimum dari epifauna dijumpai di daerah pasang surut, tetapi dapat juga meluas di daearah yang lebih dalam. Sedangkan infauna mencapai perkembangan yang maksimum di daerah yang lebih dalam dari epifauna. in-fauna yaitu yang hidup didalam sedimen; dan epi-fauna yaitu yang hidup menempel pada daun-daun/ rumput laut dan di atas dasar laut.
2.3 Organisme Bentik
Komunitas fauna bentik terdiri dari lima kelompok, yaitu Mollusca, Polychaeta, Crustacea, Echinodermata dan kelompok lain yang terdiri dari beberapa takson kecil Sipunculidae (owak-owak ), Pognophora dan lain-lain.
2.4. Fungia danai
Fungia danai adalah pertapa karang, sering ditemukan dengan diameter melebihi kaki yang melintasi. Fungia yang dirancang unik, berbentuk kubah sedikit alami yang mungkin ada "peot" atau dilipat ujungnya. Semua pada umumnya cembung di atas dan agak cekung di bagian bawah. Sebagian besar ditemukan pada puing-tercakup dalam air dangkal. Berwarna dalam hampir setiap warna cerah dari pelangi,. fungia ada polyps yang biasanya tetap sepanjang hari di alam, baru memberi makan pada malam hari. Polyps memperpanjang secara acak (Chadwick, Nanette, 1988).
Gerakan Fungia danai biasanya phototaxic, artinya mereka bergerak menuju cahaya. Hal ini tampaknya menjadi perilaku adaptif karena photosynthetic dan memerlukan cahaya. Kemampuan luar biasa untuk gerakan tidak diakhiri dengan sederhana (Eric Hugo@aol.com)
2.5. Nerita costata
Nerita costata adalah bahasa Yunani yaitu Nereites atau nerites adalah kata siput laut dari berbagai jenis. Costata berasal dari bahasa Latin kata Costa, memiliki tampilan ribs, atau tulang rusuk. Nerita costata tumbuh dengan panjang antara 20 - 35 mm.. Di luar bibir dan ujung yang tajam (Wilson, B. 1993).
Inner lip dari sel telah membuka gundukan disebut gigi kuat, dengan satu besar satu di belakang akhir Yang abu-abu atau hijau operculum yang ditandai dengan sangat halus granules.dan operculum berfungsi mencegah kehilangan air. Sel adalah puntul eksterior hitam, dengan garis-garis putih ke kuning antara ribs. Sel interior adalah putih.


2.6. Scylla serrata
Scylla serrata hidup pada daerah berlumpur, mangrove marshes, dan di mulut sungai estuarine lingkungan (Motoh 1979). Spesies ini asli dengan Indo-Pasifik dan telah diperkenalkan ke Florida, Hawaii, dan di tempat lain, paling sering sengaja dalam upaya untuk membentuk populasi ini spesies komersial penting.
Studi menunjukkan Scylla serrata dewasa menjadi reproductively mulai dari sekitar 90 mm carapace lebar, sering dalam tahun pertama kehidupan (Robertson dan Kruger 1994, Knuckey 1996) Pada molting, laki-laki perempuan lebih menghidupkan dan melakukan persetubuhan, pengiriman spermatozoa non-mobil yang dapat disimpan oleh perempuan sampai ke beberapa bulan ke bulan sebelum digunakan untuk membuahi beberapa kuku-kuku sampai dengan 2 juta telur (Chen 1976).











III. METODE PRAKTIKUM


3. 1. Waktu dan Tempat
Pratikum lapangan biologi laut ini telah dilaksanakan pada tanggal 18 Mei di pantai Cerocok Painan Sumatera Barat.
3. 2. Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum biologi laut ini adalah jaring untuk menangkap biota laut, formalin untuk mengawetkan biota yang tertangkap, kamera untuk mendokumentasikan kegiatan serta gambar biota laut, plastik untuk tempat biota laut, alat-alat tulis untuk mencatat hasil tangkapan.
3. 3. Metode Praktikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan atau mencari langsung biota laut ke lokasi yang ditentukan.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum ini adalah praktikan langsung turun ke lokasi yang telah ditentukan. Secara kelompok mencari dan mengumpulkan organisme laut yang memungkinkan dapat diambil dan diamati. Khususnya yang berukuran makro. Semua hasil biota laut yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan diberikan formalin secukupnya untuk mengawetkan biota laut.




IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Melalui identifikasi yang dilakukan di laboratoium ekologi perairan, didapatkan hasil organisme sebagai berikut :
4.1.1. Morula granulata

Klasifikasi
Phylum : Molusca
Class : Gastropoda
Ordo : Neogastropoda
Family : Thaididae
Genus : Morula
Spesies : Morula granulata

MORFOLOGI
Morula granulata adakah seekor keong ditutupi oleh spiral-spiral dari benjolan- benjolan disekililig kulitnya . Seekor keong dewasa memiliki sebuah bibir luar yang tebal yang terus menerus hitam, coklat atau hitam margarine. Morala mengalami pertumbuhan sekitar 15 mm, dan melekat pada batu- batu yang basah ditempat yang rendah dan terbuka.

4.1.2. Holothuria marmonata

Klasifikasi
Phylum : Echinodermata
Class : Thaepicea
Ordo : Phyrosoma
Family : Holothuridae
Genus : Holothuria
Spesies : Holothuria marmonata

Morfologi
Tubuh memanjang seperti ketimun yang sering disebut timun laut, mulut terdapat diujung dan yang satu lagu anus. Ada kaki tabung di tiga bagian ventral yang digunakan untuk berjalan dan mempunyai alat hisap seperti bintang laut. Tubuh seperti kulit dapat memanjang dan dapat mengkerut, sebagian besar teripang bernafas melalui pohon respirasi, sebuah alat bercabang terdiri dari banyak tabung. Dalam phylum Echinodermata terdapat berbagai kelas diantaranya kelas Crinoidea,kelas Echinodea, kelas Holothurioidae, kelas Ophiuroideayang semuanya berhabitat diair laut yang berpasir halus

4.1.3. Fungia danai
Klasifikasi
Phylum : Echinodermata
Class : Anthozoa
Ordo : Fungiadiae
Genus : Fungia
Spesies : Fungia danai

Morfologi
Tubuh berbentuk lingkaran, ditengah-tengah tubuhnya terdapat lekukan , tubuhnya tidak, hidupnya menempel dan warnanya bermacam-macam.


4.1.4. Nerita costata
Klasifikasi
Phylum : Molusca
Class :Gastropoda
Ordo : Caenogastropoda
Famili : Neritidae
Genus : Nerita
Spesies : Nerita costata

Morfologi
Tubuhnya terdiri dari empat bagian utama yaitu: kepala, kaki, isi perut, dan mantel. Pada bagian kepala terdapat dua mata ,dua tantakel, sebuah mulut,dan sebuah siphon. Tubuhnya yang lunak dilindungi oleh cangkang yang keras dan berwarna dasar coklat dan hijau tua.
Nerita sp merupakan keong berukuran besar, cangkanya berbentuk membulat. Perputaran seluk (whort) berbentuk spiral yang jelas. Seluk akhir (bodywhort) berbentuklingkaran yang cembung dan membesar.

4.1.5. Scylla Serrata

klasifikasi
Phylum : arthropoda
Kelas : crustacea
Sub kelas : malacostraca
Super ordo : eucarida
Ordo : decapada
Sub ordo : pleocyemata
Famili : scylladae
Genus : scylla
Spesies : Scylla Serrata

Morfologi
Kepiting Bakau mempunyai bentuk karapas oval melebar, cembung pada kedua sisinya. karapas dibagian punggung sébelah atas dipenuhi oleh tonjolan – tonjolan seperti kutil dalam berbagai ukuran, sedangkan pada punggung bagian bawah terdapat tonjolan – tonjolan berbentuk lajur – lajur melintang yang memanjang dengan enam duri di bagian samping belakang( postero- lateral). Kerapas lebih besar dari pada panjangnya sehingga bentuknya menyurupai telur. Panjang karapas sedikit lebih panjang dari setengah lebarnya pada bagian tepi dari karapas bentuknya agak melengkung, dengan lebih kurang terdapat 10 gigi kecil yang tersembunyi da bawah bulu pendek. Di bagian tepi belakang dari karapas pada jenis ini, terdapat bagian yang melebar seperti sayap yang menutupi sabagian besar kaki – kakinya dsan dilengkapi dengn 5 gigi, bergirigi disebelah atas, sedangkan di sébelah bawah tanpa duri atau gigi.

4.1.6. Torinia variegata
klasifikasi
Kelas : gastropoda
Ordo : mesogatropoda
Famili : areolteatonicidae
Genus : torinia
Spesies :Torinia variegata

Morfologi
Morfologi spesies Torinia variegata ini mudah dikenali, seperti jenis siput yang lain Torinia variegata juga mempunyai cangkang yang keras yang berpilin berguna sebagai rumah sekaligus sebagai pertahanan terhadap predator, mempunyai sepasang antena dan sepasang mata yang dapat disembunyikan, warnanya relatif terang perpaduan antara coklat dan putih.

4.1.7. Pisania striata

Klasifikasi
Kelas : Gastropoda
Sub kelas : Proso branchia
Ordo : Neogastropoda
Famili : Margellietae
Genus : Pisania
Spesies : Pisania striata

Morfologi
Pada dasarnya kelas gastropoda ini mempunyai bentuk pigmen yang sangat berbeda, yaitu dengan bentuk warna penampang cangkangnya seperti batik yang mempunyai dua sisi corak waena yaitu putih dan coklat, dan jenis gastropoda ini memiliki panjang antara 15-30 mm. Selain itu bentuk cangkangnya yang agak begitu runcing dan hampir mirip seperti bekicot.

4.1.8. Drupa morum

Klasifikasi
Pilum : Molusca
Kelas : Gastropoda
Ordo : Caenogastropoda
Superfamili : Muricacae
Famili : Muricidae
Genus : Drupa
Spesies : Drupa morum

Morfologi
Cangkang asimetris dan biasanya menggulung seperti ular memutar kekanan dan mempunyai bungkulanyang berwarna hitam, cangkang bagian dalam berwarna ungu, hanya memiliki satu buah insang, terdapat operculum yang terbuat dari zat kapur atau zat tanduk, garis-garis pada operculum kadang dapat menentukan umur, memiki kaki besar dan lebar untuk merayap dan mengeruk pasir dengan pergerakan yang cukup lamban.

4.1.9. Pinctada fucata

Klasifikasi
Filum : Molusca
Kelas : Bivalva
Famili : Petriidae
Genus : Pinctada
Species : Pinctada fucata

Morfologi
Tiram mutiara adalah salah satu dari molusca laut yang tertutup dua cangkang atau katup, digabungkan oleh perekat dari bahan serat laut, selama cangkang itu masih tumbuh, terbentuknya alur-alur yang jumlahnya menunjukkan umur molusca tersebut. Cangkang tersebut dapat membuka (saat istirahat), namun dapat pula menutup dengan cepat dengan gerakan otot engsel yang kuat. Molusca memiliki insang sebagai alat pernafasan terdapat di rongga kaki.

4.1.10. Litorina scabra

Klasifikasi
Kelas : Gastropoda
Ordo : Mesogosteropoda
Famili : Litorinidae
Genus : Litorina
Spesies : Litorina scabra

Morfologi
Pada spesies jenis Litorina sp memiliki ciri morfologi yaitu warna cangkang ada dua jenis, yaitu berwarna merah tua dan ada juga yang berwarna kecoklatan, cangkang seperti kurucut.

4.1.11. Sacculina sp

Klasifikasi
Pilum : Artrhopoda
Kelas : Entomostraca
Ordo : Cirripedia
Genus : Sacculina
Spesie : Sacculina sp




4.2. Pembahasan
Filum Molusca meliputi keong, tiram, cumi-cumi, gurita, sotong dan sebangsanya. Bentuknya simetri bilateral, tidak beruas, dan banyak diantara mereka mempunyai cangkang dari kapur. Tubuh biasanya pendek, terbungkus dalam mantel dorsal tipis yang mengeluarkan bahan pembentuk cangkang berupa satu, dua atau delapan bagian. Saluran pencernaan lengkap, sering berbentuk U atau melingkar. Mulut dengan radula yang mempunyai deretan-deretan gigi kitin kecil melintang. Sistem sirkulasi mencakup jantung sebelah punggung dengan satu atau dua aurikel atau rongga atas dan satu ventrikel atau rongga bawah. Pernapasan dilakukan oleh satu atau banyak insang yang disebut ctenidium. Ekskresi oleh ginjal yang disebut nefridia, terdiri dari satu atau dua atau hanya satu saja. ((Romimohtarto, 2005).
Gastropoda adalah hewan berukuran relatif besar yang menarik. Pada kelas hewan ini terjadi reduksi menjadi satu ginjal, beberapa jenis hanya memiliki satu insang. Cangkang limpet tidak kelihatan mengulir, meskipun pada tingkat larva, cangkangnya ulir yang kemudian hilang setelah menjadi dewasa.
Filum Echinodermata bentuk simetri meruji hanya terdapat pada dewasa, pada larva, bentuknya simetri bilateral.
Arthropoda merupakan kelompok terbesar diantara seluruh dunia hewan. Namanya berasal dari kakinya yang bersendi. Sifat umum kelas ini mencakup kerangka luar keras dari kitin, yakni polisakarida majemuk, suatu jenis karbohidrat. Cangkang ini dihasilkan oleh epidermis dan karena sifatnya yang tak elastis jika mengeras, ia harus ditanggalkan secara berkala untuk memungkinkan hewan tumbuh. Sifat umum yang terpenting yang berlaku untuk semua anggota kelompok Arthropoda dan khas filum ini ini ialah adanya embelan tubuh yang bersendi dan bebas dari bulu getar. Bentuk tubuhnya simetri bilateral dan tubuhnya terdiri dari ruas-ruas yang tersusun secara linier berurutan.
4.2.1. Morula granulata
Keong laut (Morula granulata) dapat ditemukan di sekitar kolam. Batu karang yang datar dengan kedalaman dari intertidal hingga 5 kaki. Kebanyakan menumpuk pada batu gamping darat yang berada di aliran air lancar. Melekat pada batu-batu yang basah di temapat yang rendah dan terbuka secara sempurna.
Salah satu sumber daya alam laut ialah keong laut darikelas Gastropoda. Daerah penyebaran keong laut terutama meliputi wilayah Indo-Pasifik termasuk Indonesia dan umumnya ditemukan hidup di perairan dangkal di daerah tropik (Robert et al. 1982).
Keong laut memiliki kandungan asam lemak omega-3 dan omega 6 yang bermanfaat bagi perkembangan otak dan untuk mencegah penyakit jantung. Ada dua jenis asam lemak omega-3 yaitu docosahexaenoic acid (DHA) dan eiocosapentatonoicacid (EPA). (NaturalHub 2000).

4.2.2. Holothuria marmonata
Di Indonesia banyak terdapat didaerah Manado, Pulau Bangka, Lampung, Kepulauan seribu dan Indonesia timur. Teripang adalah hewan avertebrata yang memilki bentuk dan jenis beraneka ragam dengan nama daerah yang berbeda-beda hidup dilaut dangkalyang berpasir halus dan ada juga dibatuan karang.
Teripang (holothurians) adalah kelompok hewan invertebrata laut dari kelas Holothuroidea (Filum Echinodermata), tersebar luas di lingkungan laut (marine) diseluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di lautan India dan lautan Pasifik Barat. Tidak kurang sekitar 1250 jenis teripang telah didiskripsikan, dibedakan dalam enam bangsa (ordo) yaitu Dendrochirotida, Aspidochirotida, Dactylochirotida, Apodida, Molpadida, dan Elasipoda. Beberapa jenisnya hidup mebenamkan diri dalam pasir dan hanya menampakan tentakelnya. Sedang jenis-jenis teripang komersil biasanya hidup pada substrat pasir, substrat keras, substrat kricak karang dan substrat lumpur. Sekitar 25 jenis teripang berpotensi komersil diidentifikasikan berasal dari perairan karang di Indonesia (Darsono,1995).
4.2.3. Fungia danai
Hidupnya didasar laut dan ada juga yang di air tawar hidupnya selalu menempel pada batu-batuan dan biasanya berkelompok (koloni) dan berkembang biak sangat cepat.
Dari sekian banyak atribut unik yang fungiids, termasuk fungia, mereka luar biasa adalah kemampuan terbatas untuk bergerak.. Melalui asymmetrical inflasi atau deflasi mereka di sel-sel jenis gerak peristaltik, fungia dapat bergerak di seluruh substrat. Hal ini terlihat pada gerakan yang maksimal hingga 30 cm per hari! Karena itu, ia mungkin tidak mengejutkan untuk menemukan fungia berlawanan sepenuhnya di samping akuarium.
Karakteristik lain dari fungia yang cukup fenomenal adalah mantel lendir. Hal ini sangat berat, dan memungkinkan mereka dengan mudah dan cepat menolak sedimen didepositkan di atas permukaan.Tapi, yang adaptif kualitas lendir mantel mereka tidak berhenti dengan tugas yg sederhana.Berisi sejumlah besar nematocysts yang menggunakan karang tidak hanya dalam pertahanan, namun efektif untuk membantu dalam mengambil makanan dari plankton.
4.2.4. Nerita costata
Spesies ini banyak hidup di zona intertidal dan subtidal. Dan ada juga yang ditemukan pada hutan bakau dan sekitarnya, dibawah dan dibalik koral, terumbu karang, di pasir maupun lumpur.
Banyak tersebar hampir diseluruh perairan Asia pasifik di Cina, Taiwán, Beijing, Australia, Meksiko, Indonesia, Philiphina dan lain- lain.
Nerita costata sepertinya akan sedikit dibandingkan jenis lainnya nerite. Karena rentang yang terbatas hanya terjadi di pantai dan bersembunyi di balik batu pulau Great Barrier Reef di sepanjang pantai timur Queensland, dan nampaknya jarang seluruh nya jangkauan, dapat memiliki dampak yang terancam oleh minyak yang tumpah meluas.
4.2.5. Scylla Serrata
Carapace yang memiliki empat tumpul frontal gigi dan setiap anterolateral margin telah sembilan berukuran hampir sama luas gigi. Claws yang kuat dengan, Kepiting besar ini dapat melebihi 18 cm lebar carapace. Scylla serrata adalah hewan karnivor, dideskripsikan sebagai aktif, agresif spesies dan beberapa derajat persaingan dengan rekan-spesies asli yang terjadi adalah kemungkinan besar. Scylla serrata adalah ekonomis penting karena keduanya yang liar-panen dan stok produk budidaya komersial dan komersial dipanen di tempat-tempat yang telah diperkenalkan dan sengaja didirikan di mana penduduk telah dihasilkan. (Samonte dan Agbayani 1992, Perry 2006).
4.2.6. Torinia variegata
Hewan ini banyak ditemukan pada daerah pantai terutama pantai Afrika selatan dan Indonesia.
4.2.7. Pisania striata
Untuk sebarannya gastropoda ini hidup pada perairan subtropis yang kaya akan bahan makanan, dan gstropod ini selalu bereproduksi tergantung pada keadaan kondisi lingkungan yang baik, tidak ada gangguan dari pengaruh lingkungan disekitarnya dan kondisi memungkinkan.
4.2.8. Drupa morum
Terdapat pada daerah pantai berbatu, hidup dengan habitat dilingkungan yang cukup lembab, berpasir, maupun pada liang-liang yang gelap, banyak dijumpai disepanjang pantai Pasifik barat dan Samudra Hindia.
4.2.9. Pinctada fucata
Pinctada fucata terdapat pada daerah yang memilki terumbu karang, dengan demikian Pinctada fucata terdapat seperti di negara Indonesia, Jepang, Amerika, Australia, dan lain sebagainya.
Tiram biasanya simetri bilateral, mempunya cangkang setangkup dan sebuah mantel yang berupa dua daun telinga atau cuping. Tiram mempunyai dua cangkang di kedua sisi tubuh hewan. Karena cangkangnya ini disebut tangkup (valve) dan dua buah jumlahnya maka kelas ini dinamakan Bivalva. Bentuk cangkangnya digunakan untuk identifikasi. Sebagian besar hidup di laut, hanya sedikit yang hidup di darat. Sebagian besar mempunyai kelamin terpisah dan menyebar telur dan sperma ke air untuk pembuahan.
4.2.10. Littorina scabra
Spesies ini hidup pada daerah estuaria, pada daerah yang tembus sinar matahari yang berpasir dan koral yang airnya jernih.
Litorina scabra adalah Gastropoda yang terbanyak ditemukan. Mereka hidup di mintakat air pasang. Hewannya agak kecil dan tahpatzan kekeringan karena dapat menutup rapat cangkangnya dan menggunakan air didalamnya.




V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Pengamatan yang telah dilakukan membuktikan bahwa lokasi penelitian yaitu pantai Painan, masih tergolong daerah yang kondisif untuk tinggal berbagai jenis makhluk laut terutama dari famili mollusca. Keanekaragaman yang tinggi dari biota yang ditemukan sekaligus menjadi pertimbangan kita tentang ekosistem seperti apa yang mampu menjadi pendukung kehidupan makhluk-makhluk laut itu dan perkembangannya. Dari hasil yang diperoleh pantai Painan juga sangat potensial untuk dijadikan tempat wisata dan penelitian mahasiswa.
5.2. Saran
Dengan keterbatasan hasil yang diperoleh maka hasil praktikun ini belum bisa dijadikan referensi akhir mengenai biota pantai yang dapat di temukan di pantai-pantai Sumatera. Karenanya untuk memperkaya sampel biota laut ini diperlukan kegiatan serupa yang dilakukan di pantai lain di daerah Sumatera.
Dan identifikasi biota yang didapatkan sebaiknya di identifikasi langsung dilapangan oleh setiap kelompok praktikum.



DAFTAR PUSTAKA

Birowo, s. 1991. Pengantar Oseanografi dalam J. H. KUNARSO dan RUYITNO (eds). Status pencemaran laut di Indonesia dan teknik pemantauannnya. LIPI-Jakarta.
Chadwick, Nanette.1988. Competition and locomotion in a free-living fungiid coral. J. Exp. Mar. Biol. Mar Biol. Ecol 123: 189-200.
Chen TP 1976. Chen TP 1976. Aquaculture Practices In Taiwan.. Fishing News Books Limited, 1 Long Garden Walk, Farnham, Surrey, England., 162 p. 162 hal
Cooke, R.U. and J.C. Doornkamp. 1990. Geomorphology in Environmental Management. 2nd ed. New York, USA: Oxford Univ. Press, inc.
(Eric Hugo@aol.com)
GordonAL.2000.“Ocean”Discoverychannelschool.http://www.discoveryschool.com/homeworkhelp/worldbook/atozgeography/o/3987.html, diakses 10 Mei 2002.
Motoh H. 1979. Motoh H. 1979. Edible crustaceans in the Philippines, 11th in a series. Edible crustaceans di Filipina,. Asian Aquaculture 2:5.
Nybakken, j. W., 1988. Biologi Laut suatu pendekatan ekologis. Terjemahan penernit PT. Gramedia. Jakarta.
Rimimohtartao, Kasijian. 2001, Biologi Laut, Pengetahuantentang biota laut, Djambatan, Jakarta. 540 hal
Robert D, Soemodihardjo S, Kastoro W. 1982. Shallow Water Marine Molluscof
North-West Java: Jakarta: Lembaga Oseanologi Nasional, LIPI.hlm 1-103.
Samonte G.PB., dan RF Agbayani. 1992. Pond culture of mud crab ( Scylla serrata ) and economic analysis.SEAFDEC Asian Akuakultur 14:3-5.
Wilson, B. (1993). Australian Marine Shells. Australia Marine Shells. V.1. V.1. p.40. p.40




Lampiran. 2. Gambar biota yang ditemukan




Sacculina sp Morula granulata Nerita costata




Drupa morum Fungia lanai Torina variegata




Scylla striata Holthurina marmonata Litorina scabra



Pinctada fucata Pisania striata
Pinctada fucata Pisania striata



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik dan tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW yang telah menyelamatkan umat manusia dari alam kegelapan kealam yang di ridhoi Allah dan berilmu pendidikan seperti yang kita rasakan pada saat ini.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada teman-teman saya yang telah membantu saya dalam penulisan laporan ini.
Semoga laporan ini dapat membantu pembaca dalam menambah referensi bacaan ataupun pengetahuan dalam bidang perikanan dan kelautan.
Penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan tulisan ilmiah ini.

Pekanbaru, Mei 2009


ILHAM FAUZI M. SIREGAR

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar