I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah negara maritim yang membentang luas di khatulistiwa dari 94o BT-141o BT dan 6o LU-11o LS, dengan karakteristik sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau besar dan kecil serta memiliki garis pantai 81.000 km yang merupakan garis pantai terpanjang ke dua di dunia setelah Kanada. Wilayah laut Indonesia mencakup 12 mil dari garis pantai, selain itu Indonesia memiliki wilayah yuridiksi nasional yang meliputi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sejauh 12 mil dan landas kontingen sampai 350 mil dari garis pantai. Dengan ditetapkannya konvensi PBB tentang hukum laut Internasional 1982 wilayah laut yang dapat dimanfaatkan diperkirakan dapat mencapai 5,8 juta km2 merupakan perairan ZEE (Dahuri, 2003).
Indonesia memiliki perairan yang sangat luas dengan garis pantai sepanjang 95.181 km sehingga memiliki potensi sumberdaya, terutama sumber daya perikanan laut yang cukup besar, baik dari kuantitas maupun dari segi diversitas sehingga menjadi modal dalam pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Selain itu, Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, dengan jumlah pulau-pulau sekitar 17.504 pulau (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2003).
Laut penting artinya untuk menjadikan bumi sebagai tempat kehidupan beranekanragam makhluk hidup, karena tergantung sumberdaya hayati dan non hayati yang sangat dibutuhkan, terutama untuk kelangsungan hidup organisme dan pemanfaatannya secara langsung maupun tidak langsung. Mengingat urgensi laut dimasa sekarang ini peranan daerah pesisir dan lautan dengan cara membudidayakan dan masyarakat teknik pendayagunaan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi perikanan melimpah, namun baru sebagian kecil dimanfaatkan dengan baik. Di samping itu, Indonesia juga mempunyai potensi perikanan darat yang baik dikembangkan untuk budidaya, penangkapan, pengolahan serta pemasaran. Selanjutnya dengan diakuinya Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia telah menambah potensi perikanan laut.
Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah Negara Republik yang sebagian besar wilayahnya sekitar 329.867,61 km dengan luas lautnya 2 35.306 km (71,33%) sedangkan daratan hanya sekitar 94.561,6 km (28,67%) .Kondisi perairan yang sangat menjadikan sektor perikanan dapat menjadi sektor andalan setalah sektor migas.Pada akhir tahun 2004 dicatat hasil produksi perikanan budi daya berupa Tambak sebanyak 1.050,6 ton, kolam 15.974,9 ton, keramba 2.362,6 ton dan perikanan sawah mencapai 9,4 ton (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sumatera Barat, 2004)
Perikanan merupakan salah satu kegiatan manusia untuk memanfaatkan sumberdaya hayati perairan (aquatic resources) yang berada di perairan tawar, payau maupun laut. Pembangunan perikanan bertujuan untuk meningkatkan perekonomian nelayan, namun diperlukan berbagai cara untuk memperbaiki usaha perikanan yang masih tradisional agar menjadi usaha perikanan modern. Pembangunan sumberdaya perikanan laut yang merupakan sumber utama pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat, ternyata belum di rasakan memadai. Hal ini disebabkan karena pemanfaatan yang kurang optimal.
Sumber daya ikan mempunyai sifat tidak terlihat (invisble), hidup dan dapat memperbaharui dirinya (renewable), dengan demikian bila dinamika populasinya dapat diketahui, maka manusia dapat memperoleh hasil tangkap yang optimal dan berkelanjutan. Masalah yang ada terdapat dalam identifikasi parameter populasi, yakni laju pertumbuhan (growth rate) dan laju kematian (mortality rate) yang tidak mudah diperoleh karena memerlukan data dan informasi tentang sebaran frekuensi ukuran secara runtun waktu (time series), hal ini berakibat pada terbatasnya aplikasi model dinamik dalam pengkajian stok sumber data ikan. Alternatif upaya pengkajian stok yang biasa digunakan adalah model produksi surplus, yang menggunakan data”catch” (upaya) yang selama ini bisa dikumpulkan.( Badruddin, B. Sumiono dan B. Iskandar ps.1992).
Berdasarkan data Statistik Perikanan yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sumatera Barat sekitar 81% produksi perikanan Sumatera Barat dihasilkan dari perikanan tangkap, baik dari perikanan tangkap perairan laut (74.85%), maupun dari perikanan tangkap perairan umum (6.15%). Sisanya sebesar 19% dihasilkan dari perikanan budidaya di perairan Tawar. Dilihat dari jenis-jenis ikan yang dihasilkan, lebih dari 64% (66 jenis) dihasilkan dari perikanan tangkap, dan hanya sekitar 34% (12 jenis) yang dihasilkan dari perikanan budidaya.
Potensi sumberdaya perikanan tangkap yang dimiliki propinsi Sumatera Barat meliputi sumberdaya ikan pelagis (besar dan kecil), ikan demersal, ikan karang (ikan konsumsi dan ikan hias), udang penaid dan krustase lainnya serta penyu laut. Semua sumberdaya perikanan tangkap tersebut merupakan potensi yang sangat dihandalkan di Sumatera Barat, karena mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan banyak ditemukan di perairan Sumatera Barat.
Pelabuhan Perikanan Bungus merupakan salah satu pelabuhan yang terletak di Jl.Raya Padang-Painan KM.16 Bungus, Padang. Pelabuhan bungus ini merupakan salah satu pelabuhan terbesar di pantai barat Sumatera.
Pelabuhan bungus ini merupakan bagian dari Propinsi Sumatera Barat yang memiliki laut sebagai lahan untuk dikembangkan dalam bidang perikanan tangkap, alat tangkap yang digunakan dipelabuhan ini bermacam-macam yaitu berupa pukat pantai, pukat cincin, jaring insang, jaring lingkar, bubu, jaring insang tatap, bagan, serok, long line, dan tonda.
Dari keterangan diatas pelabuhan Bungus dijadikan sasaran untuk dilakukannya praktikum Dinamika Populasi yaitu sesuai antara potensi umum pelabuhan tersebut dengan harapan seluruh mahasiswa dapat mengetahui tentang studi mempelajari stok ikan yang ada di suatu perairan khususnya di pelabuhan Bungus.
1.2 Tujuan dan Manfaat Praktikum
Tujuan melakukan praktikum dinamika populasi adalah untuk mengetahui stok serta gambaran populasi ikan yang terdapat di perairan pelabuhan bungus dan untuk mengetahui sifat-sifat sosial di daerah tersebut.
Manfaat praktikum adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan praktikan, untuk mendapatkan data dan informasi mengenai perikanan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sumberdaya Perairan
Menurut Kasry (2003) menyatakan bahwa perairan umum adalah bagian dari permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi air, baik air tawar, air payau, maupun air laut. Perairan tawar menyebar mulai dari air laut surut terendah kearah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami atau buatan (waduk/ kolam).
Laut mempunyai berbagai fungsi diantaranya adalah sebagai sarana transfortasi, usasaha budidaya, aktivas penduduk seperti MCK, usaha penangkapan dan lain sebainya. Selain itu perairan laut merupakan lingkungan hidup yang berfungsi sebagai media tempat tumbuh organisme, tempat berkembang biak, untuk pergerakan pembawa zat hara serta pelarut gas-gas dan mineral (Soesono, 1977). Sedangkan menurut Odum (1971), sungai dapat menerima bahan-bahan asing dari luar yang menyebabkan berubahnya kualitas air, sehingga hidro-biota yang hidup di dalamnya mengalami gangguan.
Perikanan merupakan suatu usaha atau kegiatan manusia untuk memanfaatkan sumberdaya hayati perairan. Ditinjau dari kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan pada umumnya dapat dibagi atas dua, yaitu : 1) penangkapan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh para nelayan di laut, rawa, sungai dan danau yang dikenal dengan usaha penangkapan ikan, dan 2) pemeliharaan ikan dan binatang lainnya yang dilakukan oleh petani ikan di kolam, sawah, perairan umum dan di tepi pantai. Usaha ini lebih dikenal dengan usaha budidaya perikanan (Effendi, 1979).
Laut di daerah Bungus ini sebagaimana pelabuhan laut lainnya banyak dimanfaatkan oleh penduduk sekitar diantaranya sebagai sarana transportasi, tempat mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, dan aktivitas perkapalan dan perikanan
Sihotang (1998) menyatakan bahwa perairan laut umumnya dalam dan cukup keruh sehingga mencegah penetrasi cahaya matahari masuk ke dalam laut dengan demikian bersama pengaruh arus bisa mengatasi pertumbuhan organisme.
2.2. Perikanan
Perikanan adalah salah satu usaha manusia untuk memanfaatkan sumber hayati perairan bagi kepentingan hidupnya baik itu sumber hayati hewan maupun sumber hayati tumbuh-tumbuhan. Usaha ini hanya mempergunakan taktik dan cara yang sederhana sehingga hasil yang didapat pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pengelolaan perikanan di Indonesia secara garis besar dapat di bagi dua, yaitu perikanan budidaya dan perikanan tangkap (Syamsuddin, 1980).
Fauzi (1985) menyatakan bahwa secara umum usaha perikanan selalu didefenisikan sebagai suatu kegiatan ekonomi yang menyangkut : 1) kegiatan produksi yang bersifat mengadakan atau menghasilkan ikan, baik dengan cara penangkapan maupun budidaya, 2) kegiatan pengolahan yaitu melakukan sesuatu terhadap ikan yang telah dihasilkan sehinggga merubah keadaan, bentuk dan nilai ekonomisnya, dan 3) pemasaran ikan yang menyangkut segala kegiatan memperdagangkan ikan mulai dari produsen sampai ke konsumen. Sedangkan Arisman (1982) menekankan bahwa untuk meningkatkan hasil tangkapan perlu adanya manajemen penangkapan yang baik. Keberhasilan usaha penangkapan ikan ditentukan oleh keseimbangan antara manajemen usaha perikanan, sarana penunjang keperluan penangkapan dan usaha penangkapan yang meliputi beberapa faktor seperti unit penangkapan yang digunakan (kapal, alat tangkap) serta mental dan keterampilan penggunaan alat tersebut.
Dirjen Perikanan (1978) menyatakan bahwa yang menjadi dasar utama dalam memajukan dan mengembangkan perikanan adalah dengan peningkatan pengenalan jenis- jenis ikan serta pengetahuan tentang habitat, penyebaran dan biologinya. Salah satu usaha memajukan dan mengembangkan perikanan adalah dengan melakukan penelitian tentang biologi ikan.
Perikanan Sumatera Barat yang memiliki kekuatan potensial dalam bidang perikanan dan kelautan, dimana sumberdaya perairannya sangat luas baik untuk penangkapan ikan maupun budidaya. Sumatera Barat daratan sesuai dengan wilayahnya terdiri dari sungai, danau, dan rawa berpotensi untuk pengembangan budidaya, kolam, keramba, minapadi dan longyam.
2.3. Penangkapan
Usaha penangkapan ikan merupakan suatu usaha manusia untuk menghasilkan suatu hasil tangkapan baik itu berupa ikan maupun organisme lainnya di suatu perairan. Ayodhyoa, (1981) .
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi suatu alat penangkapan ikan adalah juga merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu usaha penangkapan ikan, sehingga dengan demikian dapat dikatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi usaha penangkapan ikan adalah : 1) Konstruksi alat penangkapan ikan yang cocok, 2) Keterampilam nelayan dan 3) Bahan yang dipergunakan.
Berdasarkan metode penangkapan yang ada di dunia dapat diklasifikasikan kedalam 16 golongan yakni: 1) Penangkapan dengan tanpa menggunakan alat (fishing without gear), 2) Penangkapan dengan melukai sasaran (fishing with wounding gear), 3) Penangkapan dengan cara membius (fishing by stpyeing), 4) Penangkapan dengan menggunakan tali atau benang (line fishing), 5) Penangkapan dengan perangkap (fishing with trap), 6) .Penangkapan dengan memerangkap di suatu areal penagkapan (fishing with areal traps, 7) Penangkapan dengan jaring berkantong dan memiliki mulut (fishing with net bag with fixed mouth), 8) Penangkapan dengan alat yang ditarik di dasar pantai (fishing with dragged gear), 9) Penangkapan dengan teknik melingkari setengah pantai (seiring), 10) Penangkapan dengan teknik melingkari gerombolan ikan (fishing with serounding nets), 11) Penangkapan dengan dengan cara alat di perairan (fishing with drived in method), 12) Penangkapan dengan teknik mengangkat alat di perairan (fishing with lift net), 13) Penangkapan dengan menjatuhkan alat tangkap ke perairan ( fishing with falling gear), 14) Fishing with gill net, 15) Fishing with tangle nets, 16) Harvesting machines (Brandt, 1984).
Gill net merupakan alat tangkap yang banyak dipakai nelayan di Sumatera Barat, dan alat penangkapan ini mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan karena gill net disesuaikan dengan jenis ikan komersial yang tertangkap di perairan Sumatera Barat, di tambah lagi alat penangkapan ini mudah dan relatif murah serta dicapai nelayan secara teknis maupun ekonomis.
Alat tersebut dalam pengoperasiannya tidak hanya untuk penangkapan di laut tapi juga dapat digunakan di perairan umum seperti danau, sungai dan lain- lainnya. Sadhori (1984) mengatakan rawai adalah salah satu alat penangkapan ikan dan udang terdiri dari rangkaian dari tali–temali yang bercabang- cabang dan pada tiap jaring ujung cabang diikat sebuah pancing. Sedangkan pancing adalah alat tangkap yang sederhana yang fungsinya hanya bisa melakukan operasi penangkapan kecil.
2.4. Pengolahan Ikan.
Ikan merupakan salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh manusia, karena kandungan proteinnya yang tinggi dan mengandung asam amino esensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya mencapai 90% dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna, dan harganya murah dibandingkan dengan sumber protein lainnya. Namun, disamping kelebihan yang dimiliki oleh ikan terdapat juga kelemahan – kelemahan diantaranya adalah ikan sangat cepat mengalami kerusakan atau pembusukan (Adawiyah, 2006)
Ikan segar atau ikan basah adalah ikan yang mempunyai bentuk maupun sifat yang hampir sama dengan ikan yang masih hidup di dalam air atau belum sama sekali mengalami usaha penanganan. Penanganan hasil perikanan adalah salah satu usaha yang dilakukan oleh manusia baik dengan cara pengolahan dan pengawetan untuk mempertahankan mutu ikan agar tetap dapat bertahan sampai pada tangan konsumen. Dalam perindustrian perikanan, penanganan (handling) ikan segar bertujuan untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam waktu selama mungkin. Hal ini karena kesempurnaan dari penaganan ikan tersebut menentukan baik atau buruknya mutu ikan (Moeljanto, 1992).
Kemunduran mutu ikan berawal dari adanya kerusakan atau pembusukan ikan. Menurut Murniyati dan Sunarman (2000) secara umum kerusakan atau pembusukan ikan dan hasil-hasil olahannya dapat digolongkan pada: 1) kerusakan-kerusakan biologi, 2) kerusakan-kerusakan enzimatis, 3) kerusakan-kerusakan fisika, dan 4) kerusakan-kerusakan kimiawi.
Ditekankan pula oleh Afrianto dan Liviawaty (1989) bahwa biasanya pada tubuh ikan yang telah mengalami proses pembusukan akan terjadi perubahan, seperti timbulnya bau busuk, daging menjadi kaku, sorot mata pudar, serta adanya lender pada insang mapun tubuh bagian luar. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan daya simpan dan daya awet produk perikanan pada pascapanen melalui proses pengolahan maupun pengawetan.
Adapun tujuan utama proses pengolahan dan pengawetan ikan yaitu mencegah proses pembusukan pada ikan, terutama pada saat produksi melimpah, meningkatkan jangkauan pemasaran ikan, melaksanakan diversifikasi pengolahan produk-produk perikanan, dan meningkatkan pendapatan nelayan atau petani ikan, sehingga mereka terangsang untuk melipatgandakan produksi. Proses pengolahan dan pengawetan ikan ini dapat dilakukan dengan menggunakan suhu rendah, suhu tinggi, dan mengurangi kadar air salah satunya dengan menggunakan panas maupun udara panas.
Dan dijelaskan oleh keduanya pula prinsip-prisip dalam pencegahan pembusukan, yaitu dengan mengurangi jumlah bakteri dan enzim, membunuh atau menghambat kegiatan bakteri dan enzim serta melindungi ikan dari pencemaran pada saat ikan masih hidup pada habitatnya maupun pada saat pasca panen.
Adapun pengolahan hasil perikanan yang dilakukan diantaranya adalah secara tradisional seperti pembuatan ikan asin, ikan asap, dan hal itu dilakukan secara sederhana. Selain secara tradisional, pada saat ini pengolahan ikan sudah banyak mengalami kemajuan seperti pengawetan ikan.
2.5. Pemasaran Perikanan
Pemasaran (marketing) menurut Manulang (1980) adalah segala aktivitas yang dikerjakan orang-orang atau bagian untuk memindahkan barang dan jasa dari tangan produsen ke tangan konsumen. Sedangkan menurut Ganda dan Alfonsus (1992) menyatakan bahwa pemasaran dapat dikatakan sebagai kajian terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomik dari produsen melalui pedagang perantara ke konsumen, pemasaran melibatkan banyak kegiatan yang berbeda yang menambah nilai produk pada saat produk bergerak melalui sistem pemasaran tersebut.
Hermanto (1979) mengatakan pemasaran ikan merupakan suatu rantai yang panjang karena berfungsinya lembaga pemasaran pasar-pasar yang bersifat monopoli, biaya tata niaga yang tinggi, sarana dan prasarana serta informasi yang kurang baik mengakibatkan harga yang diterima konsumen sangat tinggi. Kemudian Satwiko (1984) menambahkan bahwa untuk menunjang kesuksesan suatu usaha perikanan harus didukung oleh sistim pemasaran yang baik. Untuk itu kebijaksanaan yang ditempuh adalah meningkatkan pembinaan dan sistim pemasaran yang dapat menguntungkan para nelayan dan petani ikan sekaligus tidak memberatkan para konsumen.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran antara lain : mutu, produk, jumlah produk, jauh dekatnya sumber produk dengan konsumen, sarana angkut dari produsen dan jumlah konsumen dari produk. Sementara itu pedagang yang membeli barang dari pihak produsen (dalam partai besar) disebut sebagai pedagang besar (grosir atau wholeseller) yang kemudian menjual kembali barangnya (partai kecil) kepada pedagang eceran yang kemudian berhadapan langsung dengan konsumen (Hidayat, 1987).
Hambatan dalam pemasaran hasil perikanan disebabkan oleh : 1) Sifat ikan yang cepat kehilangan mutu dan pengawetan yang kurang sempurna, 2) produksi yang dipengaruhi oleh fluktuasi musim, 3) transportasi yang kurang memadai, 4) Jauhnya jarak antara produsen (petani ikan) dengan pasar sehingga mengakibatkan kedudukan nelayan atau petani ikan pada posisi yang sulit dan lemah sehingga pedagang perantara lebih berperan dalam menentukan harga (Eddiwan, 1983).
Menurut Malik (1998), tantangan-tantangan yang dihadapi nelayan dan petani ikan skala kecil masih dicirikan dengan masalah-masalah sosial ekonomi seperti tingginya biaya produksi, tidak meratanya kepemilikan, rendahnya nilai investasi, lemahnya kelembagaan nelayan, konflik dengan usaha perikanan padat modal dan ketidak sempurnaan pasar.
Rendahnya produksi perikanan mempengaruhi pendapatan rumah tangga masyarakat nelayan juga menjadi rendah. Besar kecilnya anggota keluarga akan mempengaruhi secara langsung terhadap pendapatan perkapita keluarga. Makin besar anggota keluarga maka makin besar pula beban yang harus dipikul oleh kepala keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidup. Oleh karena itu Mubyarto (1997) mengatakan bahwa sumberdaya perikanan di Indonesia mempunyai arti sosial yang penting bagi masyarakat mengingat : a) Besarnya jumlah penduduk maupun nelayan, b) Sebagian besar dari wilayahnya adalah laut ditambah perairan darat, c) Rendahnya konsumsi protein berpengaruh pada kemampuan untuk pertumbuhan dan kecerdasan, d) Keterbatasan dan keterlambatan peningkatan produksi.
2.6. Permasalahan dalam Perikanan
Menurut Syamsuddin (1980) ada beberapa faktor yang mempengaruhi perikanan Indonesia antara lain: (1) usaha masih bersifat sambilan, (2) terbatasnya modal memiliki, (3) kurangnya bimbingan dari pihak yang berwenang, (4) terbatasnya pendidikan yang dimiliki oleh petani ikan. Oleh karena pemerintah perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya adalah: (1) pengadaan dan penyediaan serta penyederhanaan sarana dan prasarana usaha perikanan, (2) sarana perkreditan bagi petani, dan (3) pendidikan, latihan dan penyuluhan dalam rangka alih teknologi bagi petani.
Pembangunan perikanan pada dasarnya merupakan proses upaya manusia untuk memanfaatkan sumber dayahati perikanan dan sumberdaya perairan melalui kegiatan ikan, pembudidayaan ikan, seiring dengan pengembangan sumberdaya manusia, pemanfaatan modal, pengembangan dan kesejahteraan, peningkatn kerja dan berusaha serta peningkatan devisa Negara, disertai upaya-upaya pemeliharaan dan pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungan secara alami (Malik, 1998).
Sensus Pertanian (1983) dalam Indrawati (2006) membuktikan bahwa permasalahan-permasalahan yang terdapat pada masyarakat pedesaan pada umumnya sama di Indonesia, yakni menyangkut segi social ekonomi. Indikator social meliputi pendidikan, kesehatan, rumah dan jumlah tanggungan keluarga merupakan faktor yang menjadi perhatian demi meningkatkan taraf hidup, sedangkan indikator ekonomi menyangkut pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.
III. METODE PRAKTIKUM
3. 1. Waktu dan Tempat
Praktikum lapangan dinamika populasi ini dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu, tanggal 16-17 Mei 2009 yang bertempat di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Sumatera Barat.
3. 2. Bahan dan Alat
Peralatan yang digunakan dalam praktikum Dinamika Populasi ini adalah lembaran kuisioner , kamera untuk mendokumentasikan gambar, alat-alat tulis untuk mencatat data primer dan data sekunder yang didapat dari lokasi praktikum.
3. 3. Metode Prakikum
Metode praktikum yang digunakan adalah metode survey yaitu melakukan pengamatan langsung ke lokasi praktek serta wawancara dengan beberapa orang masyarakat perikanan atau nelayan yang ada di lokasi tersebut. Data yang dikumpulkan terdiri dari: 1) data primer yaitu data hasil observasi di lokasi dan wawancara langsung dengan para petani ikan yang mencakup, penangkapan, pengolahan, dan penjual ikan. 2) data sekunder yaitu data yang diperoleh dari Dinas Kelautan dan Perikanan atau instansi yang terkait.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur dari praktikum ini yaitu untuk data primer praktikan melakukan wawancara atau tanya jawab kepada masyarakat perikanan atau para nelayan yang ada disekitar pelabuhan perikanan samudera bungus seputar aktivitas perikanan yang mereka lakukan. Sedangkan untuk data sekunder praktikan memperolah data dari pegawai dinas terkait.
Pada hari pertama, semua praktikan mengikuti seminar atau presentasi seputar kegiatan perikanan yang ada di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus Sumatera Barat oleh salah seorang pegawai Dinas Kelautan dan Perikanan. Melalui seminar yang dilengkapi dengan diskusi ini, para praktikan memperoleh data sekunder yang cukup lengkap dan memuaskan.
Selanjutnya seluruh praktikan mulai berinteraksi dengan para nelayan yang kapalnya sedang bersandar di pelabuhan untuk mendapatkan data primer. Secara bergantian praktikan menanyakan banyak hal seputar aktivitas mereka ketika melakukan penangkapan. Mulai dari persiapan, anggaran, bahan logistik, waktu penangkapan, lama penangkapan, alat penangkapan dan lain-lain. Pada malamnya praktikan disuruh ke dermaga untuk melihat bongkar muat hasil tangkapan.
Pada hari kedua kembali praktikan melengkapi data primer dengan mewawancarai pedagang pengumpul, pedagang pengecer di Pasar Gaung Teluk Bayur . Tetapi pada saat tiba di lokasi pasar, ikan yang dijual sedikit karena ikan hasil tangkapan sedikit akibat terang bulan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Data Primer
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus ini merupakan salah satu pelabuhan di pantai barat Sumatera Barat dan terletak di jalan lintas Padang-Painan Km 16 Bungus Padang. Berada pada 16 km sebelah selatan Padang atau 1,5 jam perjalanan. Lokasi pantai ini mudah dicapai dengan transportasi darat. Bentuk pantainya menyerupai bulan sabit. Air lautnya hangat dan aman untuk berenang.
4.1.1. Data primer untuk kegiatan penangkapan yang diajukan kepada nelayan tangkap di sekitar Pelabuhan dan Perairan Pantai Bungus.
a. Identitas Responden
Nama : Rian
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama dan Etnis : Islam dan Minang
Umur : 21 tahun
Alamat : Batang kapas, pesisir, Padang
Tahun mulai bermukim : 2000
Pendidikan : SMP
Mata pencaharian pokok : Nelayan
Mata pencaharian sampingan : Mengojek
Anggota Keluarga : 5 orang
Rian menjadi Nelayan mulai tahun 2000, pekerjaan ini tidak turun temurun dari keluarga tetapi dari diri sendiri. Jumlah tanggungannya 2 orang. Melaut ikut sama orang lain. Pekerjaan sebelum menjadi nelayan adalah pengangsur. Pekerjaan sampingan yaitu mengojek.
b. Alat Penangkapan
Alat tangkap yang digunakan Saudara Rian untuk menangkap ikan yaitu pancing, wareng, dan kapal. Jenis ikan yang tertangkap pada saat melakukan penangkapan yaitu ikan tuna, ikan tete, ikan sala, ikan sisik, ikan nyarang dan ikan bolo. Hasil tangkapan dijual ke TPI, Tauke, Pedagang dan Gauang. Alat tangkap yang digunakan 2 unit. Ada milik sendiri yang di beli di pasar secara tunai dan ada yang bukan milik sendiri dari induk samang/tauke.
Modal dalam operasi penangkapan merupakan milik sendiri dan biaya dalam satu kali operasi sebesar Rp, 15.000.000. Waktu operasi pada malam hari. Dalam seminggu melakukan penangkapan sebanyak 3 kali, dan daerah penangkapan di tengah laut. Musim penangkapan tidak ada di daerah ini. Perahu yang digunakan terbuat dari kayu, dan hasil tangkapan sekali menangkap mencapai 15 ton. Kesulitan yang sering dialami saat menangkap ikan adalah badai dan ombak besar. Cara mengatasi kesulitan tersebut pergi ke tepi. Para nelayan tidak mendapat bantuan dari pemerintah setempat. Pendapatan rata-rata saudara Rian adalah Rp, 1.000.000 dari sektor perikanan dan Rp, 600.000 dari sektor lainnya. Pengeluaran untuk kebutuhan keluarga dalam sebulan Rp, 500.000. Saudara Rian maupun keluarganya tidak ada yang ikut menjadi anggota koperasi.
4.2.2. Data primer untuk kegiatan pemasaran yang diajukan kepada pedagang ikan disekitar pelabuhan dan perairan Pantai Bungus serta Pasar gauang Teluk Bayur.
a. Identitas Responden
Nama : Candra
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama dan Etnis : Islam
Umur : 39 tahun
Alamat : Bungus
Tahun mulai bermukim : 2002
Pendidikan : SMA
Mata pencaharian pokok : Nelayan
Mata pencaharian sampingan :
Anggota Keluarga : 7 orang
1.Pedagang Pengumpul
Ikan yang dijual dibeli dari ikan hasil tangkapan nelayan. Ikan yang di beli kemudian dijual langsung di pasar kepada konsumen yang datang membeli dengan harga Rp 5000/kg karena tidak mempunyai pelanggan tetap. Ikan yang dijual berupa ikan segar. Usaha saudara Candra ini sudah berlangsung 4 tahun dengan modal yang diperoleh dari tauke. Ikan yang dibeli dalam satu kali penjualan sebanyak 60 kg dengan modal awal Rp, 400.000. Keuntungan yang diperoleh dalam satu kali penjualan adalah Rp, 100.000. Permasalahan yang sering dihadapi dalam pemasaran ikan adalah kondisi ikan dan cara yang digunakan untuk mengatasinya baru dengan menggunakan es.
2.Pedagang pengecer
Ikan yang dijual dibeli dari nelayan. Kemudian ikan tersebut di jual di TPI, Pasar, dan komplek rumah. Modal merupakn modal sendiri. Jumlah ikan yang dijual perhari 35 kg dengan sistem penjualan tunai. Jenis ikan yang dijual yaitu ikan tongkol, ikan maco dan ikan taneman. Ikan yang dijual merupakan ikan segar, ikan asin dan ikan kering. Bentuk ikan yang paling banyak diminati konsumen adalah ikan segar. Harga ikan dibeli sebesar Rp,10.000/kg untuk ikan segar, Rp, 10.000/kg ikan asin dan Rp, 13.000/kg untuk ikan kering. Dan ikan tersebut dijual kepada konsumen dengan harga Rp, 15.000/kg ikan segar, Rp, 13.000/kg ikan asin dan Rp, 25.000/kg untuk ikan kering. Permasalahan yang dihadapi adalah pada saat musim hujan sehingga tidak jualan.
3.Jenis dan Teknis pengolahan
Jenis ikan yang diolah adalah ikan tongkol yang diperoleh dari hasi tangkapan sendiri. Pengolahannya dengan cara Viber menggunakan teknologi mesin. Ikan yang diperlukan dalam sekali pengolahan adalah 1000 kg dengan hasil setelah diolah menjadi 800 kg. Ikan hasil olahan ini dijual sebesar Rp, 3.000.000. Konsumen biasanya langsung datang ke pabrik untuk membeli ikan olahan ini.
4.Pemasaran
Hubungan dengan pedagang pengumpul dan pembeli tergantung. Ikan segar maupun olahan dijual di pasar, TPI, dan komplek rumah. Pembelinya berasal dari Bungus, Painan dan Solok. Pembayaran dilakukan secara tunai. Bila ikan tidak terjual habis maka selebihnya di eskan dan kalau suda busuk dibuang.
Data Sekunder
Diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan pelabuhan perikanan samudera bungus adapun data-datanya sebagai berikut :
Tabel 1. Jenis produksi ikan yang dominan di Sumatera Barat
No Jenis ikan Ton
1 Kembung 10.159
2 Teri 7,766
3 Tongkol 4,478
4 Japuh 3,072
5 Cakalang 2,690
6. Tuna 1,537
7 Layur 869
8. Tenggiri 823
9 Lembong 673
10 Lobster 426
Lain-lain, Udang, Kepiting, Cruscea 53,252
Tabel 2. Potensi, produksi dan rata-rata pemanfaatan ikan tuna diluar ZEE wilayah Sumatera
No Ikan Potensi (ton/tahun) Produksi (ton) Pemanfaatan rata-rata (%)
1 Tuna ekor kuning 23.000 4.800 20
2 Tuna mata besar 19.330 4.000 20,7
3 Tongkol bojo 65.000
10.000
15,4
4 Situhuk 17.300
3.300 19,1
Total 124.630 22.100 18,8
Tabel 3. Data aktivitas PPS Bungus Tahun 2006
No Bulan Jumlah kunjungan kapal Produksi ikan tuna ekspor (kg) Nilai produksi Ikan Tuna Ekspor (Rp)
1 Januari 208 - -
2 Februari 393 7.200 93.6000
3 Maret 225 32.339 598.271.500
4 April 169 97.990 4.409.550.000
5 Mei 322 110.780 7.200.700.000
6 Juni 474 172.900 16.425.500.000
7 Juli 559 88.300 8.388.500.000
8 Agustus 972 74.840 7.858.200.000
9 September 1.400 46.390 4.407.050.000
10 Oktober 1.583 64.922 6.167.590.000
11 November 1.505 50.392 4.283.320.000
12 Desember 1.252 969 92.055.000
Jumlah 9.172 747.022 59.924.336.500
Tabel 4. Jumlah Kunjungan Kapal di PPS Bungus Tahun 2007
No Bulan GT Jumlah
<10 11 – 30 31 – 50 50 – 100 101 - 200
1 Januari 332 394 93 212 172 1.203
2 Februari 189 174 77 130 118 688
3 Maret 237 21 54 68 128 506
4 April 226 23 14 128 110 501
5 Mei 267 27 33 182 107 616
6 Juni 420 27 29 80 160 716
7 Juli 420 27 33 69 90 639
8 Agustus 372 47 31 82 118 650
9 September 475 50 22 92 122 761
10 oktober 315 31 31 89 152 618
11 Nopember 200 142 28 105 125 600
12 Desember 341 62 31 84 122 640
Total 3.794 1.025 476 1.321 1.522 8.138
Tabel 5. Volume dan Nilai Produksi Ikan di PPS Bungus Tahun 2007
No Jenis ikan Volume (kg) Nilai produksi
1 Big eye 500 6.000.000
2 Yellow fin 147.770 1.993.265.000
3 Cakalang 317.710 2.114.968.500
4 Kembung 20.775 89.188.500
5 Tongkol 258.960 1.694.884.500
6 Layaran 580 4.000.000
7 Lemadang 650 3.575.000
8 Selar kuning 5.810 50.811.250
9 Tenggiri 200 3.400.000
10 Banyar 5.020 37.612.500
11 Lemuru 240 1.260.000
12 Slengseng 12.740 64.890.000
13 Alu-alu 30 200.000
14 Layur 21.350 97.925.000
15 Kerapu 4.113 54.110.000
16 Teripang 400 25.400.000
17 Lobster 230 34.925.000
Total 797.078 6.276.415.250
Tabel 6. Jenis Alat tangkap Di Pelabuan Perikanan Bungus
No. Jenis alat Jlh alt Hasil/ ton Rata hsl alat Ratio hsl/hr Bagan Effort Covertion
1 Bagan 50 6.0 0.1200 1.000 50
2 Purseine 20 4.0 0.2000 1.667 33
3 Tonda 1200 0.5 0.0004 0.003 4
4 Jaring 2000 9.0 0.0045 0.038 75
5 Long Line 4000 40.0 0.0100 0.083 333
6 Bubu 180 20.0 0.1111 0.926 167
Total 7450 663
Konversi alat kebagan = Total Jumlah Alat : Total E Convertion
= 7450 : 663
= 11,245
Tabel 7. Hasil tangkapan dikali dengan konversi alat ke bagan
No. Jenis alat Hasil / ton Konversi alat ke Bagan Hsl tangkapan dari Konversi alt ke Bagan (ton/tahun)
1 Bagan 6.0 11.245 67.472
2 Purseine 4.0 11.245 44.981
3 Tonda 0.5 11.245 5.623
4 Jaring 9.0 11.245 101.208
5 Long Line 40.0 11.245 449.811
6 Bubu 20.0 11.245 224.906
Total 79.5 894
Dari table diatas dapat diketahui bahwa total kelimpahan ikan yang terdapat di Pelabuhan Perikanan Samudra bungus pada tahun 2007 ± 894 ton.
4.2. Pembahasan
Pemakaian dermaga di PPS Bungus sangat diminati oleh kapal-kapal yang akna berlabuh untuk memperbaiki kapal yang rusak pada saat berlayar. Seperti halnya pada demaga bunker dimana fungsinya adalah sebagai fasilitas untuk tempat memperbaiki kapal-kapal yang rusak. Dari data yang diperoleh pada bulan januari selalu ada banyak kapal yang berlabuh di PPS Bungus sekitar 1.203 dan jeins kapal yang banyak berlabuh yaitu antara 11-30 GT.
Di PPS Bungus memiliki produksi iakn tuna yang besar, beberapa jenis ikan tuna yang diperoleh Tuna Ekor Kuning, Tuna Mata Besar, Tongkol Bojo, Situhuk. Dari berbagai macam jenis ikan tuna yang di produksi salah satunya yang terbesar jenis ikan tuna ekor kuning mencapai 23.000 ton/tahun. Tempat perdagangan yang banyak dilakukan pada daerah jepang. Jepang pernah menolak pemasaran ikan tuna dari Indonesia, karena jenis ikan tuna pada saat itu dagingnya mengandung bahan merkuri dan pencemar yang lain. Itu terjadi karena tingginya bahan pencemar diperairan laut sehaingga salinitas itu sendiri tidak mampu untuk mendaur ulang.
4.2.1. Sumberdaya Perikanan
Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan nelayan di pelabuhan perikanan samudera Bungus, pekerjaan nelayan merupakan pekerjaan utama untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Meski banyak juga diantara nelayan yang masih lajang.
Waktu nelayan melakukan penangkapan tergantung kepada jenis kapal atau alat tangkapnya. Ada yang hanya 3 hari, 4 hari bahkan seminggu lebih. Tetapi ada juga yang menangkap ikan pada pagi dan sore hari.
4.2.2. Alat Tangkap
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan usaha penangkapan adalah pemilihan alat tangkap, pemakaian metode penangkapan spesies yang ditangkap, keahlian nelayan, kedalam perairan dan karakteristik perairan (Sainbury, 1986). Sedangkan masing-masing alat tangkap memiliki kelebihan dan kekurangan. Dalam penerapannya diperlukan pertimbangan dari berbagai segi, antara lain aspek teknik penangkapan ikan itu sendiri serta harus dapat dipertanggungjawabkan secara teknis, social ekonomi maupun ekologi.
Di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus jenis alat tangkap yang digunakan nelayan adalah Dengan alat tangkap dan armada yang beroperasi terdiri dari bagan purseine, tonda, jaring insang, long line, bubu, pukat cincin, pukat pantai.
A. Bagan
Bagan Menurut Ayodhyoa (1978) bagan adalah alat tangkap yang berbentuk empat persegi panjang, mempunyai mata jaring yang sama ukurannya, lebar lebih pendek dibandingkan dengan panjangnya, dengan perkataan lain, jumlah mesh dept lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mesh length pada arah panjang jaring.
Bahan yang yang digunakan adalah bahan transparan berupa nilon (monofilamen) dan pinggirannya menggunakan tali yang besar (tali ris). Jaring ini dipasang pada permukaan beragam dengan pancang atau tiang yang sengaja dipasang. Alat ini dioperasikan pada pagi atau sore hari.
B. Purse Seine
Nelayan bungus menggunakan Purseini sebagai alat untuk menangkap ikan, selain modalnya sedikit cara pengoperasiannya juga mudah.
Jenis pancing yang biasa digunakan adalah pancing purseini dengan ukuran mata pancingnya adalah 2 inc umpan yang digunalan adalah lipas batang dalam satu rawai itu terdapat 40 buah mata pancing.
Biasanya setiap nelayan memiliki lebih dari satu pancing rawai dan dipasang pada pagi hari dan dibiarkan baru kemudian diangkart pada pagi harinya lagi. Biasanya hasil tangkapan tidak terlalu banyak cukup untuk dikomsumsi keluarga saja tapi semua pancing rawai yang diletakkan tidak pernah penuh mengait ikan.
C. Tonda
Tonda adalah jenis alat penangkapan ikan yang terdiri dari seutas tali utama berpancing umpan buatan atau seutas tali utama tanpa jarak dan 2 – 3 tali cabang berpancing umpan buatan.
Pengoperasiaannya dengan menggunakan kapal motor yang dilengkapi sepasang batang kayu atau bamboo (out riggers/booms) yang dipasang pada kedua sisi lambung kapal. Pada out riggers dan belakang/buritan kapal diikatkan beberapa pancing tonda, selanjutnya ditarik di belakang kapal. Agarpancing tetap melayang (tidak terapung) di dalam perairan, maka ujung ikatan tali cabang pada setiap tali utama dilengkapi dengan papan meluncur.
D. Jaring
Jaring adalah salah satu alat tangakap fishing with traps yang berbentuk empat panjang bujur sangkar dimana disalah satu sisinya dibuat sedemikian rupa sehingga ikan yang sudah masuk tidak dapat keluar lagi (Von Brandt, 1984).
E. Pukat Pantai
Pukat pantai adalah jenis pukat pantai yang terbukanya mulut jaring tanpa adanya otter board atau bentangan bingkai. Operasi penangkapannya ditarik ke pantai/darat melalui kedua bagian sayapnya dan kedua utas tali selambar yang panjang..
Pengoperasiaannya dengan cara menurunkan pukat pantai ke perairan laut dengan menggunakan perahu atau kapal, kemudian menarik kedua tali selambar dan dan bagian sayap jarring kea rah darat/pantai yang dilakukan oleh beberapa orang penarik.
F. Bubu
Bubu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari jarring atau bamboo sebagai perangkap ikan. Mempunyai pintu masuk yang berjumlah satu atau dua. Bubu mempunyai bermacam-macam bentuk. Alat penangkapan ikan ini dapat diangkat dan dipindahkan dengan mudah ke daerah-daerah penangkapan lainnya tanpa menggunakan perahu/kapal sebagai alat pengangkut. Pemasangannya di dasar atau di dekat permukaan perairan selama jangka waktu tertentu. Sering kali di dalam bubu dipasang umpan atau manik-manik dan di luarnya dipasang daun kelapa sebagai alat penarik ikan.
G. Long Line
Long line adalah alat penangkapan ikan berupa serangkaian tali yang terdiri dari tali utama (main line) terbuat dari polyester atau kuralon, yang pada setiap jarak tertentu terpasang tali cabang (branch line) yang panjangnya 20 – 25 meter terbuat dari bahan yang sama dengan tali utama tetapi dengan diameter lebih kecil. Yang ujungnya diikatkan pancing berumpan ikan segar.
4.2.3. Pemasaran
Pemasaran yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus adalah pemasaran ikan segar dari hasil tangkapan. Khusus ikan tuna dan ikan-ikan besar diolah dulu pada dua perusahaan besar yang ada di pelabuhan Bungus hingga dipasarkan keluar kota maupun diekspor. Sedangkan ikan lain ada yang langsung dijual di pasar terdekat.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus merupakan pelabuhan terbesar yang ada di Sumatera Barat. Kegiatan perikanan di pelabuhan ini meliputi usaha penangkapan, pengolahan ikan, perbengkelan kapal, jasa docking dan penjualan air bersih, penyaluran bahan bakar minyak, pabrik es dan sebagainya.
Jenis ikan yang tertangkap diantaranya ikan ikan tuna yellow fin & big eye, cakalang, kembung, tongkol, layaran, bawal, sunglir, lemadang, selar kuning, kerapu, teripang, dan lobster. Dengan alat tangkap dan armada yang beroperasi terdiri dari bagan purseine, tonda, jaring insang, long line, bubu, pukat cincin.
5.2. Saran
Melalui praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa perlunya penyesuaian harga jual ikan tuna antara harga jual ikan tuna di pelabuhan Bungus dengan pelabuhan yang ada diluar Bungus, karena harga jual yang sangat murah. Selain itu perlu ditekankan kepada praktikan agar lebih aktif melakukan wawancara kepada para nelayan agar informasi yang dibutuhkan tentang gambaran stok ikan di perairan Bungus.
DAFTAR PUSTAKA
Adriman et al. 2005. Penuntun Praktikum Ekologi Perairan. Pekanbaru. 30 hal (tdk diterbitkan)
Afrianto, E dan Liviawaty, E. 2000. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta. 124 hal
Arisman. 1982. Perikanan Laut. Penerbit Angkasa Bandung. Bandung 98 halaman.
Ayodhyoa., 1981. Metode Penangkapan Ikan. Penerbit Yayasan Dewi Sri. Bogor. 97 hal.
Badruddin, B. Sumiono dan B. Iskandar ps.1992. Dugaan prospek pemanfaatan sumber daya ikan demersal di perairan Nusa Tenggara Barat. Jrnn. Pen. Perik. Laut. No. 66 :29-36
Boyd, C.E. and F. Litchoper. 1982. Water Quality Managemen in Pond Fish Culture. Reasarch and Development Series no.22. International Center for Aquaculture Experiment. Auburn Universiti. Auburn. 23-26 hal.
Brandt, A, Vont. 1984. Fishing methode of the World 3nd. Action fishing new book, ltd. London. 418 hal.
Dahuri, R., 2003. Keanekaragaman Hayati Laut: Aset Pembangunan Berkelajutan Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 412 hal.
Dinas Perikanan dan Kelautan, 2004. Pokok-pokok Pengembangan Perikanan Pekanbaru. 8 halaman.
Dirjen Perikanan., 1978. Pedoman Pengenalan Sumber Perikanan Laut, bagian I. Jenis-jenis Ikan Ekonomis Penting. Departemen Pertanian. Jakarta. 170 hal.
Dirjen Perikanan Tangkap Departemen Perikanan dan Kelautan. 2005. Klasifikasi Alat Penangkapan Ikan.
Eddiwan. 1983. Peranan Koperasi dalam pemasaran Hasil dan Pengembangan Kelurahan Nelayan. Prosiding Workshop Sosial Ekonomi Perikanan Indonesia. Pusat Perkembangan Pertanian. Jakarta. Hal 145-150.
Fauzi. 1985. Pendekatan Lintas Sektoral Untuk Pencegahan Masalah Perikanan Pada symposium HUT XXI FAPERI Dies Natalis XXIII UNRI dan Hari Sumpah Pemuda LVII halaman 1-7 (tidak diterbitkan).
Ganda, R. S. dan S. Alfonsus. 1992. Manajemen Agribisnis. Penerbit Erlangga. 278 halaman
Hanafsiah, A.M. saefudin. 1983. Tata Niaga Hasil Perikanan, Universitas Indonesia. Jakarta, 208 hal.
Hermanto, S., 1979. Pengembangan Sisitem Pemasaran Untuk Menekan Peningkatan Harga Ikan Sampai ke Tingkat Konsumen. Dalam Pusat Agro ekonomi. Departemen Pertanian, Jakarta. Hal 181 – 184.
Hidayat, 1987. Peranan dan Profil Serta Prospek Perdagangan Eceran (Formal dan Informal) dalam Pembangunan, hal. 3-18. Dalam Prisma No. 7 tahun XVI LP3ES.
Kasry.A., 2003. Manajemen Sumberdaya Perairan dalam Pengantar Perikanan dan Ilmu Kelautan. Feliatra dan I. Syofyan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Universitas Raiau Press. 75 hal.
Malik, B.A., 1998. Prospek Pembangunan Perikanan di Daerah Riau, hal 158 – 185. dalam Feliatra (editor) Strategi Pembangunan Perikanan dan Kelautan Nasional Dalam Meningkatkan Devisa Negara. Universitar Riau Press, Pekanbaru
Manulang, 1980. Pengantar Ekonomi Perusahaan. Ghalia Indonesia, Jakarta. 221 hal.
Murniyati, A. S dan Sunarman., 2000. Pendinginan, Pengawetan dan Pembekuan. Penerbit Kanisius, yogyakarta. 220 hal.
Moeljanto., 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penerbit Swadaya, Jakarta. 259 hal.
Mubyarto. 1997. Nelayan dan Kemiskinan. Studi Ekonomi di Dua Kelurahan Pantai. C.V. Rajawali. Jakarta. 195 hal.
Nurdin , S. 1998. Kumpulan Bahan-bahan Kuliah Manejemen Sumberdaya Perairan. Pekanbaru. 56 hal (tdk diterbitkan)
Nurdin. S dan M. ahmad., 1982. Jarring Insang di Riau. Diktat Kuliah Tekhnologi Penangkapan Ikan. Seri I. Fakultas Perikanan. Pekenbaru. 43 hal (tidak diterbitkan).
Sadhori. N., 1984. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa. Bandung. 488 hal.
Satwiko., 1984. Prospek Pembangunan Indonesia. Makalah pada Symposium Perikanan Indonesia Tahun 2000. Menciptakan Perikanan Tangguh. Fakultas Perikanan Universitas Riau Pekanbaru. 31 hal.
Siagian, M. 2004. Diktat Ekologi Perairan. Pekanbaru. 77 hal (tdk diterbitkan)
Sitepoe. 1997. Air Untuk Kehidupan. Jakarta : PT. Grasindo
Swingle. A. S. 1968. Standardization of Chemical and Analisys for Water and Pond Muds. FAO World a Symposium on Warm Water Pond Fish Culture. Fishery Report 44 (4) 397-421 pp.
Syamsuddin, A. R., 1980. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara. Jakarta.58 halaman.
Wardoyo, S. T. 1981. Kriteria Kualitas Air untuk Keperluan Pertanian dan Perikanan. Trainning Analisa Dampak lingkungan PDLH-UNDP-PUSDI-PSL dan IPB Bogor 40 hal (tidak diterbitkan).
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label iptek. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Juni 2009
Kamis, 18 Juni 2009
IMAN
BERIMAN DAN BERAMAL SHALIH DENGAN SEBENARNYA
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
Sarana yang paling agung yang merupakan sarana pokok dan dasar bagi tergapainya hidup bahagia ialah : beriman dan beramal shalih. Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih[1], baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan." [An-Nahl: 97]
Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shalih, Allah Ta’ala memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan akhirat.
Sebabnya jelas. Karena, orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar lagi membuahkan amal shalih yang mampu memperbaiki hati, akhlak, urusan duniawi dan ukhrawi, mereka memiliki prinsip-prinsip mendasar dalam menyambut datangnya kesenangan dan kegembiraan, ataupun datangnya keguncangan, kegundahan dan kesedihan.
Mereka menyambut segala hal yang menyenangkan dan menggembirakan dengan menerima, mensyukurinya dan mempergunakannya untuk seeuatu yang bermanfaat. Jika mereka menggunakannya demikian, maka niscaya hal itu akan melahirkan nilai-nilai agung di balik kegembiraan karenanya, pendambaan kelanggengan dan keberkahannya, dan keberharapan pahala seperti pahala yang diperoleh para hamba yang bersyukur. Nilai-nilai itu, dengan setumpuk buah dan keberkahannya, justru mengungguli wujud kegembiraan-kegembiraan itu, yang itupun bagian dari buahnya.
Mereka hadapi cobaan, mara bahaya, kegundahan dan kesedihan dengan melawan apa yang mungkin dilawannya, menepis sedikit apa yang mungkin ditepis, dan bersabar terhadap apa yang harus terjadi tidak boleh tidak. Dengan demikian, dibalik cobaan cobaan itu lahirlah nilai-nilai agung berupa sikap melawan yang penuh arti, pengalaman dan kekuatan serta kesabaran dan ketulusan untuk hanya berharap pahala Ilahi. Dengan meletakkannya nilai-nilai agung itu di hati, kecillah di mata mereka aneka cobaan berat. Sedangkan yang bersemayam di hati justeru kesenangan, cita-cita mulia dan dambaan untuk menggapai karunia dan pahala dari Allah.
Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ini, beliau bersabda.
“Artinya : Sunnguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mu’min” [Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Fathur Rabbani Lil Tartibi Musnadil Imam Ahmadabni Hanbal AS-Syaibani, Kitab Al-Qadar. Muslim, Shahih Muslim, Kitan Az-Zuhud Wa Ar-Raqaiq]
Rasulullah menerangkan bahwa keberuntungan, nilai kebaikan dan buah prilaku mu’min berlipat ganda pada saat mengalami kesenangan ataupun cobaan. Oleh sebab itu, bisa jadi anda jumpai dua orang yang sama-sama mengalami ujian berupa keberuntungan dan bencana. Namun, antara satu dan yang lain berbeda jauh dalam menghadapi ujian itu, sesuai dengan kadar iman dan amal shalih yang ada pada diri masing-masing.
Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap prilaku yang membuktikan kesungguhan syukur itu, dan menghadapi bencana dengan bersabar dan bersikap prilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini.
Sedangkan yang lain menghadapi kesenangan hidup dengan kcongkakan, kesombongan dan sikap melampui batas. Lalu, melencenglah moralnya. Ia menyambut kesenangan hidup seperti halnya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak tenteram. Bahkan, hatinya bercerai berai oleh berbagai hal. Hatinya bercerai-berai oleh kekhawatirannya terhadap sirnanya segala kesenangan dan banyaknya benturan-benturan yang pada umumnya, muncul sebagai dampaknya. Harinya bercerai berai tak menentu, karena memang hasrat jiwa tidak mau berhenti pada suatu batas. Bahkan, terus gandrung kepada keinginan-keinginan lain, yang kadangkala dapat terwujud dan kadangkala tidak dapat terwujud.
Andaikan di bayangkan dapat terwujud, ia pun tetap gelisah oleh hal-hal tadi. Ia pun menyambut cobaan yang sulit dengan rasa gelisah, keluh kesah, khawatir dan gusar. Tidak usah anda bertanya tentang dampak buruk dari itu semua, yang berupa kesengsaraan hidup, teridapnya penyakit jiwa maupun syaraf dan rasa kekhawatiran bercampur ketakutan yang bisa jadi, pada gilirannya akan menyeret ke kondisi yang paling buruk dan malapetaka yang paling mengerikan. Karena ia tidak mempunyai harapan pada pahala Ilahi dan tidak memiliki kesabaran yang mampu melipur hatinya dan meringankan beban yang dirasakannya.
[Disalin dari kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penulis Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Diterbitkan Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________
Foote Note
[1] Ibnu Katsir, dalam Tafsiru l Qur'an-l Azhim, mengatakan : man 'amila shalihan, wa huwa al-amalu-l-mutabi; li Kitabillahi Ta'ala wa sunnati Nabiyyihi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya, yaitu amal (perbuatan) yang mengikuti kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
[2] Yaitu keberuntungan dengan memperoleh pahalaNya dan keselamatan dari siksaNya (Taisiru-l-Mannan).
Bagian Pertama dari Dua Tulisan [1/2]
Sarana yang paling agung yang merupakan sarana pokok dan dasar bagi tergapainya hidup bahagia ialah : beriman dan beramal shalih. Allah Azza wa Jalla berfirman:
"Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih[1], baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia beriman, maka sesungguhnya akan Kami karuniakan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan." [An-Nahl: 97]
Kepada orang yang memadukan antara iman dan amal shalih, Allah Ta’ala memberitahukan dan menjanjikan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang baik di dunia dan akhirat.
Sebabnya jelas. Karena, orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar lagi membuahkan amal shalih yang mampu memperbaiki hati, akhlak, urusan duniawi dan ukhrawi, mereka memiliki prinsip-prinsip mendasar dalam menyambut datangnya kesenangan dan kegembiraan, ataupun datangnya keguncangan, kegundahan dan kesedihan.
Mereka menyambut segala hal yang menyenangkan dan menggembirakan dengan menerima, mensyukurinya dan mempergunakannya untuk seeuatu yang bermanfaat. Jika mereka menggunakannya demikian, maka niscaya hal itu akan melahirkan nilai-nilai agung di balik kegembiraan karenanya, pendambaan kelanggengan dan keberkahannya, dan keberharapan pahala seperti pahala yang diperoleh para hamba yang bersyukur. Nilai-nilai itu, dengan setumpuk buah dan keberkahannya, justru mengungguli wujud kegembiraan-kegembiraan itu, yang itupun bagian dari buahnya.
Mereka hadapi cobaan, mara bahaya, kegundahan dan kesedihan dengan melawan apa yang mungkin dilawannya, menepis sedikit apa yang mungkin ditepis, dan bersabar terhadap apa yang harus terjadi tidak boleh tidak. Dengan demikian, dibalik cobaan cobaan itu lahirlah nilai-nilai agung berupa sikap melawan yang penuh arti, pengalaman dan kekuatan serta kesabaran dan ketulusan untuk hanya berharap pahala Ilahi. Dengan meletakkannya nilai-nilai agung itu di hati, kecillah di mata mereka aneka cobaan berat. Sedangkan yang bersemayam di hati justeru kesenangan, cita-cita mulia dan dambaan untuk menggapai karunia dan pahala dari Allah.
Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan ini, beliau bersabda.
“Artinya : Sunnguh mengagumkan perihal mu’min. Semua hal yang dialaminya adalah baik. Jika ia mendapat hal yang menyenangkan, ia bersyukur. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Jika ia tertimpa hal yang menyakitkan, ia bersabar. Maka hal itu menjadi suatu kebaikan baginya. Sifat itu tidak dimiliki siapapun kecuali oleh seorang mu’min” [Imam Ahmad bin Hanbal, Al-Fathur Rabbani Lil Tartibi Musnadil Imam Ahmadabni Hanbal AS-Syaibani, Kitab Al-Qadar. Muslim, Shahih Muslim, Kitan Az-Zuhud Wa Ar-Raqaiq]
Rasulullah menerangkan bahwa keberuntungan, nilai kebaikan dan buah prilaku mu’min berlipat ganda pada saat mengalami kesenangan ataupun cobaan. Oleh sebab itu, bisa jadi anda jumpai dua orang yang sama-sama mengalami ujian berupa keberuntungan dan bencana. Namun, antara satu dan yang lain berbeda jauh dalam menghadapi ujian itu, sesuai dengan kadar iman dan amal shalih yang ada pada diri masing-masing.
Orang yang beriman dan melakukan amal shalih menghadapi keberuntungan dengan rasa syukur dan sikap prilaku yang membuktikan kesungguhan syukur itu, dan menghadapi bencana dengan bersabar dan bersikap prilaku yang membuktikan kesungguhan kesabaran itu. Dengan demikian, hal itu dapat membuahkan di hatinya kesenangan kegembiraan dan hilangnya kegundahan, kesedihan, kegelisahan, kesempitan dada dan kesengsaraan hidup. Selanjutnya, kehidupan bahagia akan benar-benar menjadi realita baginya di dunia ini.
Sedangkan yang lain menghadapi kesenangan hidup dengan kcongkakan, kesombongan dan sikap melampui batas. Lalu, melencenglah moralnya. Ia menyambut kesenangan hidup seperti halnya binatang yang menyambut kesenangan dengan serakah dan rakus. Seiring itu, hatinya tidak tenteram. Bahkan, hatinya bercerai berai oleh berbagai hal. Hatinya bercerai-berai oleh kekhawatirannya terhadap sirnanya segala kesenangan dan banyaknya benturan-benturan yang pada umumnya, muncul sebagai dampaknya. Harinya bercerai berai tak menentu, karena memang hasrat jiwa tidak mau berhenti pada suatu batas. Bahkan, terus gandrung kepada keinginan-keinginan lain, yang kadangkala dapat terwujud dan kadangkala tidak dapat terwujud.
Andaikan di bayangkan dapat terwujud, ia pun tetap gelisah oleh hal-hal tadi. Ia pun menyambut cobaan yang sulit dengan rasa gelisah, keluh kesah, khawatir dan gusar. Tidak usah anda bertanya tentang dampak buruk dari itu semua, yang berupa kesengsaraan hidup, teridapnya penyakit jiwa maupun syaraf dan rasa kekhawatiran bercampur ketakutan yang bisa jadi, pada gilirannya akan menyeret ke kondisi yang paling buruk dan malapetaka yang paling mengerikan. Karena ia tidak mempunyai harapan pada pahala Ilahi dan tidak memiliki kesabaran yang mampu melipur hatinya dan meringankan beban yang dirasakannya.
[Disalin dari kitab Al-Wasailu Al-Mufidah Lil Hayatis Sa'idah, edisi Indonesia Dua Puluh Tiga Kiat Hidup Bahagia, Penulis Asy-Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa'di, Penerjemah Rahmat Al-Arifin Muhammad bin Ma'ruf, Diterbitkan Kantor Atase Agama Kedutaan Besar Saudi Arabia Jakarta]
_________
Foote Note
[1] Ibnu Katsir, dalam Tafsiru l Qur'an-l Azhim, mengatakan : man 'amila shalihan, wa huwa al-amalu-l-mutabi; li Kitabillahi Ta'ala wa sunnati Nabiyyihi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maksudnya, yaitu amal (perbuatan) yang mengikuti kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam.
[2] Yaitu keberuntungan dengan memperoleh pahalaNya dan keselamatan dari siksaNya (Taisiru-l-Mannan).
LAP. BAHAN BAKU IKAN
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat pada berbagai tingkat umur akan pentingnya kesehatan, meningkat pula kebutuhan akan asupan nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, dan asam lemak.
Sebagai refleksi dari kecenderungan tersebut, meningkat pula di dipasaran jenis produk baru dan produk-produk hasil pengembangan maupun produk-produk suplemen nutrisi. Produk-produk ini mengandung bahan-bahan tambahan yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan kesehatan, sebagai contoh; produk sereal yang ditambahkan dengan vitamin dan mineral, roti dengan tambahan serat dan susu bayi dengan bahan tambahan asam amino dan asam linoleat.
Jenis nutrien baru yang terbukti mempunyai manfaat tinggi bagi manusia adalah asam lemak tak jenuh ganda berantai panjang omega-3 yang berasal dari ikan laut. Telah dipasaran produk-produk yang diperkaya dengan minyak ikan yang didukung dengan hasil penelitian mengenai kegunaan asam lemak bagi kesehatan.
Minyak ikan sangat mudah teroksidasi oleh karena banyaknya ikatan rangkap pada gugus rantai asam lemaknya. Hal ini berarti bahwa harus diberikan perhatian yang lebih apabila minyak ikan ditambahkan pada produk makanan, jika tidak akan menyebabkan timbulnya bau atau rasa yang tidak enak dan senyawa-senyawa hasil oksidasi yang berpengaruh buruk bagi kesehatan. Mikroenkapsulasi terhadap minyak ikan akan menghilangkan kendala-kendala tersebut yang memungkinkan para produsen makanan memasukkan minyak ikan bagi peningkatan nilai tambah produk tampak adanya perubahan penampakkan dan usia simpan produk.
Hasil samping olahan dari industri produk perikanan cukup beragam, tetapi
secara garis besar dapat dibedakan atas hasil samping dalam bentuk cair dan hasil samping dalam bentuk padat. Salah satu hasil samping olahan dalam bentuk cair adalah minyak ikan. Minyak ikan merupakan hasil samping dari pengolahan ikan kaleng dan tepung ikan.
Minyak ikan tersebut dapat ditingkatkan mutunya agar layak dikonsumsi manusia dengan memurnikannya menggunakan metoda alkali. Minyak ikan memiliki nilai manfaat kesehatan/pengobatan dan gizi. Dengan demikian, minyak ikan dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri farmasi dan pangan
Masyarakat Indonesia termasuk bangsa yang sedikit mengkonsumsi ikan atau hasil olahannya. Saat ini tingkat konsumsi ikan nasional hanya 19 kg/kapita/tahun, lebih rendah dari Vietnam maupun Malaysia yang tingkat konsumsinya mencapai 33 kg/kapita/tahun. Tahun depan diupayakan tercapai target konsumsi 23kg/kapita/tahun.
Salah satu kemungkinan penyebab rendahnya tingkat konsumsi itu adalah minimnya keragaman hasil olahan ikan yang memiliki daya tarik bagi konsumen lintas usia, suku, dan tingkat sosial. Disamping dipasarkan dalam bentuk segar, ikan juga dipasarkan dalam bentuk produk olahan.
Produk olahan ikan khas Indonesia yang telah terindustrialisasi dengan mapan saat ini tercatat meliputi kerupuk, ikan asin, terasi, pindang, peda, minyak ikan dan beberapa yang lain, yang daya tariknya bagi konsumen anak-anak relatif rendah. Barangkali diantara produk tersebut hanya kerupuk yang mudah diterima konsumen anak-anak. Dengan introduksi produk nugget, ikan mulai luas dikonsumsi masyarakat konsumen.
1.2 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari, pengertian, cara pembuatan, manfaat, tantangan, dan strategi pengembangan industri pengolahan minyak ikan khususnya di Indonesia
BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA
Minyak ikan dapat diolah menjadi kapsul konsentrat asam lemak omega-3. Dengan teknik mikroenkapsulasi, minyak ikan dapat diproses menjadi tepung minyak ikan yang memudahkan di dalam penanganan, penyimpanan dan pemanfaatannya (Irianto dan Giyatmi, 2003).
Tepung minyak ikan digunakan sebagai ingredien pada berbagai produk makanan, seperti roti, makanan bayi, soup, fruit/health bars dan frozen pizza (Andersen, 1995), serta susu untuk ibu hamil.
Pemanfaatan minyak ikan di dalam industri pangan dengan tujuan untuk pengganti fungsi minyak nabati/lemak hewani dan memperkaya nilai gizi makanan
dalam rangka mendapatkan makanan sehat. Untuk maksud tersebut, minyak ikan dikembangkan pemakaiannya pada produk margarine dan table spread, hard fat, shortening, pastry fat, adonan biskuit, lemak dan emulsi untuk roti, adonan roti, minyak goreng, biscuit filling, minyak salad/sayur, emulsifier, fish spread, peanut butter, mayonaise, coleslaw, yoghurt, salami dan sosis (Bimbo, 1989; Barlow et al 1990)
Selain dari badan ikan, minyak ikan juga dapat dihasilkan dari organ hati ikan,
terutama hati ikan hiu. Minyak hati ikan hiu, di samping memiliki kandungan skualen
yang tinggi juga dapat dipakai sebagai sumber vitamin A dan D yang banyak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin manusia
Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air (Winarno, 1995 dalam Purbosari, 1999).
Minyak ikan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak hati ikan (fish liver oil) yang terutama dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A dan D, dan golongan lainnya adalah minyak tubuh ikan (body oil) seperti halnya minyak ikan lemuru (Moeljanto,1982)
Minyak ikan lemuru mengandung asam lemak berikatan rangkap, misalnya Eicosa Pentanoat Acid (EPA), dan Deocosa Hexaenoat Acid (DHA), dengan nama populernya asam lemak omega-3( Purbosari, 1999).
Sifat minyak ikan yang telah dimurnikan secara organoleptik, yaitu cairan yang berwarna kuning muda, jernih dan berbau khas minyak ikan. Sifat fisiknya berbentuk cair dengan berat jenis sekitar 0,92 gr/ml dan sifatnya yaitu angka iod lebih dari 65 gr/100 gr, angka penyabunaan 185-195 mg/gr, asam lemak bebas 0,1-13 %, dan angka tidak tersabunkan 0,5-2,0 mg/gr.(Murtini et al., 1992 dalam Purbosari, 1999).
Minyak ikan yang diperoleh sebagai hasil samping dari pengolahan tepung ikan dan ikan kaleng sering banyak mengandung banyak kotoran. kotoran pada minyak ikan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu pertama adalah kotoran yang tidak larut dalam minyak (kotoran fisik, air dan protein), kedua adalah kotoran yang berbentuk susupensi koloid dalam minyak (fosfatida dan karbohidrat) dan ketiga adalah kotoran yang terlarut dalam (asam lemak bebas, pigmen, mono dan digliserida, senyawa hasil oksidasi, logam dan bahan-bahan yang tak tersabunkan (Irianto,2002).
Menurut Kayama (1990), asam lemak tidak jenuh pada minyak ikan umumnya mempunyai panjang rantai karbon antara C12 (lauric acid) sampai C24 (lignoceric acid) dan pada beberapa minyak ikan didapat sedikit C8 dan C10. Panjang rantai karbon asam lemak tak jenuh umumnya berkisar antara C14 sampai C22.
Secara keseluruhan, komposisi utama minyak ikan adalah trigliserida, sedangkan komposisi lainnya adalah fosfolipida, lemak dengan group eter dan wax ester (Singh dan Chandra, 1988).
Senyawa lain yang terdapat pada minyak ikan adalah sterol, vitamin dan pigmen (Standsby, 1982).
BAB. III. PEMBAHASAN
3.1. Pengertian minyak ikan
Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat itu, karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA ) di dalamnya akan membantu proses tumbuh-kembang otak (kecerdasan), serta perkembangan indera penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita.
Minyak ikan sangat berbeda dengan minyak lainnya, yang dicirikan dengan : variasi asam lemaknya lebih tinggi dibandingkan dengan minyak atau lemak lainnya, jumlah asam lemaknya lebih banyak, panjang rantai karbon mencapai 20 atau 22, lebih banyak mengandung jenis asam lemak tak jenuh jamak (ikatan rangkap sampai dengan 5 dan 6), dan lebih banyak mengandung jenis omega-3 dibandingkan dengan omega-6.
Walaupun tergolong keluarga minyak-minyakan, minyak ikan bukan untuk menggoreng namun merupakan “makanan” tambahan sumber zat gizi. Bahkan, minyak ikan termasuk bahan makanan sumber lemak yang rendah kolesterol, sehingga para ahli gizi dan kesehatan sepakat untuk memberikan label “aman” untuk dikonsumsi oleh bayi, balita, maupun orang dewasa.
Minyak ikan sangat mudah teroksidasi oleh karena banyaknya ikatan rangkap pada gugus rantai asam lemaknya. Hal ini berarti bahwa harus diberikan perhatian yang lebih apabila minyak ikan ditambahkan pada produk makanan, jika tidak akan menyebabkan timbulnya bau atau rasa yang tidak enak dan senyawa-senyawa hasil oksidasi yang berpengaruh buruk bagi kesehatan. Perlakuan terhadap minyak ikan yang dapat menghilangkan kendala-kendala tersebut yang memungkinkan para produsen makanan memasukkan minyak ikan bagi peningkatan nilai tambah produk tampak adanya perubahan penampakkan dan usia simpan produk
Asam lemak yang berasal dari ikan pada prinsipnya ada 3 jenis yaitu jenuh, tidak jenuh tunggal dan tidak jenuh jamak. Asam lemak tak jenuh tunggal mengandung satu ikatan rangkap dan asam lemak tak jenuh jamak mengandung banyak ikatan rangkap per molekul.
Minyak ikan juga mengandung vitamin A dan D –dua jenis vitamin yang larut dalam lemak– dalam jumlah tinggi. Manfaat vitamin A membantu proses perkembangan mata, sementara vitamin D untuk proses pertumbuhan dan pembentukan tulang yang kuat. Nah, kadar kedua vitamin ini dalam tubuh ikan akan meningkat sejalan dengan bertambah umurnya.
Minyak ikan mempunyai pengaruh yang lebih cepat dibanding dengan makan ikan. Namun demikian, beberapa manfaat makan ikan terhadap beberapa penyakit tidak dapat diperoleh dengan mengkonsumsi minyak ikan. Bagi penderita tekanan darah tinggi misalnya, akan lebih berman-faat makan ikan daripada minyak ikan karena penurunan tekanan darah disebab¬kan oleh tingginya proporsi DHA dan EPA. Ikan lebih banyak mengandung DHA dan EPA dibandingkan minyak ikan
Berbeda dengan golongan minyak yang lain, minyak yang berasal dari suplemen minyak ikan tidak digunakan untuk menggoreng makanan melainkan merupakan asupan minyak essential yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
3.2. Proses pembuatan minyak ikan
Minyak ikan diperoleh dengan cara ekstraki. Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan. Cara ekstraksi yang biasa dilakukan, yaitu metode ekstraksi dengan aseton, metode ekstraksi dengan hidrolisa, metode Dry Rendering, metode Wet Rendering dan ekstraksi dengan silase.
Pada praktikum minyak ikan dilakukan metode Wet Rendering, yaitu proses yang umumnya digunakan untuk membuat tepung ikan. Tahap proses ini meliputi kombinasi pemasakan dan pengeringan dengan mengguanakan uap panas pada keadaan hampa. Pengadukan secara lambat dilakukan selama pengeringan tepung ikan dan dilakukan pengepresan untuk memisahkan tepung dan minyak ikan.
Bahan baku industri minyak ikan adalah minyak ikan dari ikan-ikan pelagis dengan kadar lemak yang tinggi. Sumber minyak ikan tersebut dapat dari :
a. Hasil ekstraksi yang khusus untuk diambil minyaknya
b. Hasil ekstraksi dari pengolahan tepung ikan
c. Hasil samping dari pengolahan ikan kaleng
Ketiga sumber pasokan tersebut dapat digunakan namun akan mempengaruhi kepada mutu minyak, harga bahan baku, dan jumlah ketersediaan pasokan. Untuk menanggulangi kemungkinan kekurangan pasokan bahan baku maka perhitungan jumlah ketersediaan pasokan tidak hanya berasal dari domestik tetapi juga berasal dari luar negeri (import).
Penanganan Bahan Mentah Ikan setelah ditangkap, diambil hatinya, cuci dengan air laut, kemudian masukkan kedalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik itu kemudian dimasukkan kedalam peti berinsulasi dan dies dengan menggunakan es hancuran yang perbandingannya 1 : 1.
Pengesan ini dilakukan selama penangkapan hingga saat hati ikan tersehut diekstraksi minyaknya.Untuk memperoleh minyak, maka dilakukan ekstraksi dengan mencampur hati cucut botol dengan asam formiat teknis sebanyak 1% dari berat hati cucut botol (proses silase). Setelah 3 hail proses silase, kemudian dilakukan penyaringan hasil silase melalui kain blacu untuk memperoleh minyak kasar.
Setelah itu dilakukan pemurniaan minyak ikan. Tahapan-tahapan pemurnian minyak ikan, yaitu
a. Penyaringan,
b. Degumming,
c. Nertlasisasi,
d. Pemisahan sabun,
e. Pemucatan dan Deodorisasi
Tujuan dari pemurnian minyak ikan adalah untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik, dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi dan digunakan sebagi bahan mentah dalam industri. Kualitas minyak ikan yang dihasilkan pada proses pemurnian tergantung pada cara penyimpanan dan penanganan ikan sebelum dimurnikan
Pada tahap penyaringan, minyak ikan yang diperoleh sebagai hasil damping pengolahan tepung ikan atau ikan kaleng disaring terlebih dahulu dengan penyaring kawat untuk memisahkan kotoran-kotoran visual seperti sisa daging dan gumpalan protein. Minyak yang telah bebas dari kotoran visual ditentukan kandungan asam lemak bebasnya (free fatty acid/FFA).
Deguming merupakan proses pemisahan getah dan lender yang terdiri Dri fosfatida, protein, residu karbohidrat, air, dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak
Degumming dilakukan dengan penambahan NaCl 8% kedalam minyak ikan pada suhu 60oC selama 15 menit. Larutan NaCl yang ditambahkan sebanyak 40% dari volume minyak yang dimurnikan dan selama degumming dilakukan pengadukan atau proeses degumming juga dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 2-3% air atau larutan NaCl, atau menambahkan larutan firofosfatida pada minyak, kemudian disentrifugas pada suhu 30-50oC. Getah fosfatida akan terpidahkan pada sentrifuse sebanyak 3,5% dari minyak asal.
Netralisasi adalah suatu prosesuntuk memisahkan asam lemak bebas dari mynak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stoc)
Netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH 1N ke dalam minyak yang sudah mengalami proses degumming. LArutan NaOH 1N ditambahkan dalam minyak ikan pada suhu 60oC selama 15 menit. Jumlah NaOH yang ditambahkan ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
%NaOH = %FFA x 0,142
Sedangkan menurut Windsor dan Barlow (1981) dalam Purbosari (1999), proses netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan alkali atau pereaksi lainnya untuk membebaskan asm lemak bebas dengan mempentuksabun dan membantuk mengkoagulasikan bahan-bahan yang tidak diiingainkan.
Penambahan larutan alkali ke dalam minyak mentah akan menyebabkan reaksi kimia maupun fisik (Stansbay, 1990 ) yaitu :
a. Alkali akan bereaksi denag asam lemak bebas dan membantu sabun.
b. Gum menyerap air dan menggumpal melaliu reksi hidrasi.
c. Bahan-bahan warna terdegradasi, terserap oleh gum atau larutan oleh alkali.
d. Bahan-bahan yang tidak terlatur yang terdapat dalam minyak akan menggumpal.
Faktor –faktor yang mempengaruhi proses netralisasi adalah konsentrasi alkali, suhu, pengadukan dan pencucian.
Selanjutnya minyak yang telah dinetralkan dibiarkan beberapa saat supaya terjadi pemisahan sabun yang terbentuk. Lapisan sabun berada pada lapisan bawah dan lapisan minyak pada bagian bawah. Kemudian sabun tersebut diambil. Untuk menghilangkan sabun-sabun yang masih tersisa, pada minyak ikan ditambahkan air panas sambil diaduk dan kemudian dibiarkan supaya terjadi pemisahan minyak dan air. Setelah itu air yang terpisah dibuang (Irianto, 2002).
Pemucatan ialah suatu proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan atau memucatkan warna yang tidak disukai dan menghilangkan getah (gum) yang ada dalam minyak (Windsor dan Barlow, 1981 dalam Charita, 1995). Pemucatan dilakukan dengan penambahan adsorben, umumnya dilakukan dalam ketele yang dilengkapi dengan pipa uap dan alat penghampa udara. Minyak dipanaskan pada suhu 105oC selam 1 jam. Adsorban ditambahkan saat minyak mencapai suhu 70-80 oC sebanyak 1-1,5% dari berat minyak. Selain warna, diserap pula suspensi koloid dan hasil degradasi minyak seperti peroksida (Irianto, 2002). Faktor yang mempengaruhi pemucatan adalah suhu, waktu, tekanan.
Deodorasai adalah suatu tahap proses pemurnian minyakyang bertujuan untuk menghilankan bau dan rasa yang tidak enak dalam minyak. Prinsip proses deodorasi, yaitu penyulinagan minyak dengan uap panas pada tekana atamosfer atau keadaan hampa.
Proses deodorasi dilakukan dengan cara memompa minyak ke dalam ketelen deodorasi. Kemudian minyak tersebut dipanaskan pada suhu 200-250 oC pada tekanan 1 atmosfer dan selanjutnya pada tekanan rendah (kursng lebih 10 mmHg), sambil dialiri uap panas selama 4-6 jam untuk mengankut senyawa yang dapat menguap.
Setelah proses deodorisasi selesai, minyak ikan kemudian didinginkan sehingga suhu menjadi kurang lebih 84 oC dan selanjutnya minyak ikan dikeluarkan (Irianto,2002).
3.3. Manfaat dan Peranan Minyak Ikan
Setelah mengetahui ikan mempunyai kandungan gizi sangat banyak, maka ikan perlu diperhitungkan sebagai sumber zat gizi yang penting. Pola kebiasaan makan ikan seperti pada masyarakat Eskimo dan Jepang memberi petunjuk kuat atas sangat rendahnya kejadian penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya pada masyarakat tersebut
Kebiasaan mengonsumsi minyak ikan menurut hasil beberapa penelitian memang memiliki khasiat bagi kesehatan khususnya jantung. Namun, ternyata tak hanya itu, mengonsumsi minyak yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 itu juga mampu membantu menghindari resiko gangguan penglihatan.
Minyak ikan merupakan asupan yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Suplemen minyak ikan biasanya berasal dari ikan laut perairan dalam dan dingin yang diekstrak dari jaringan hati ikan
Seperti dalam edisi terbaru jurnal The Annals of Ophthalmology, tinjauan riset para ahli Australia menyatakan bahwa omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif yang disebut age-related macular degeneration (AMD) hingga 30 persen lebih. Namun demikian, para peneliti sama sekali tidak menganjurkan setiap orang untuk banyak mengonsumsi omega-3 jika hanya ingin terhindar dari ancaman tersebut. Para ahli dari Universitas Melbourne mencoba membuat tinjauan atas hasil sembilan penelitian mengenai kaitan omega-3 dan AMD. Sembilan riset ini secara total melibatkan 88.974 partisipan dan lebih dari 3.000 diantaranya mengidap AMD. Hasil tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa mengonsumsi ikan sekurangnya dua kali dalam satu pekan berpotensi menurunkan risiko menderita AMD.
Sejumlah riset selama ini juga sering menghubungkan asam lemak omega-3 dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu yang paling signifikan adalah rekomendasi penelitian bahwa omega-3 dapat membantu penderita sakit jantung. Berdasar riset, konsumsi suplemen minyak ikan secara teratur mampu menurunan ketidakstabilan elektris pada jantung, khususnya pada pasien yang mengidap kelainan detak atau ritme jantung.
Minyak ikan mempunyai konsentrasi kandungan omega-3 yang lebih tinggi dibanding ikan utuh, sehingga dapat dijadikan pilihan alternatif khususnya bagi orang yang bermasalah untuk makan ikan atau orang yang memerlukan asupan omega-3 dalam jumlah banyak. Sebagai contoh, untuk memperoleh efek omega 3 dalam menurunkan konsentrasi triglyceride (lemak dalam darah), mengurangi resiko denyut jantung yang tidak normal dan mengoreksi depresi diperlukan asupan omega 3 dalam jumlah tertentu. Untuk memperoleh efek tersebut diatas, sebagian orang harus makan ikan setara 2 - 3 kali dengan 100 gram per sekali makan dalam sehari atau sekitar 6-9 gram minyak ikan per hari (rata rata 100 gram ikan mengandung minyak ikan sekitar 3 gram).
Omega 3 yang terdapat pada ikan mencegah penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya. Bahkan ada indikasi masyarakat yang gemar mengkonsumsi ikan memiliki umur harapan hidup rata-rata lebih panjang daripada masyarakat yang kurang mengkonsumsi ikan.
Secara sederhana dapat dijelaskan, karakteristiknya yang unik menyebabkan omega 3 mampu mencegah dan mengurangi penumpukan kolesterol dan melekatnya bintik-bintik darah pada dinding pembuluh darah yang merupakan sebab utama timbulnya serangan jantung dan stroke yang mematikan.
Omega 3 selain bisa menurunkan kadar kolesterol darah juga bisa mengatasi beban penderita penyakit asma, rematik, penyakit kulit, komplikasi diabetes dan kanker payudara.
Bahkan pertumbuhan sel otak manusia sangat tergantung pada kadar omega 3 secara cukup sejak bayi dalam kandungan sampai balita. Bila pada masa tersebut cukup tersedia omega 3 maka anak tersebut akan tumbuh dengan potensi kecerdasan maksimal. Karena alasan itu, sejak ibu hamil perlu mengkonsumsi ikan dalam jumlah cukup sampai bayi yang dikandungnya lahir.
Namun, minyak ikan mempunyai kelebihan dan keunikan terutama pada kasus kadar lemak darah tinggi yaitu bisa menurunkan lemak darah tersebut. Selain ikan bermanfaat untuk kesehatan jantung, ikan juga mengandung kalori rendah sehingga bagi orang-orang yang sedang mengikuti program diet penurunan berat badan mengkonsumsi ikan bermanfaat ganda asal diolah dengan sedikit lemak.
Selain manfaat ikan untuk kesehatan, perlu diketahui pula kandungan histamin pada jenis ikan seperti tongkol, kembung, cakalang, dan tuna secara alami yang bisa menyebabkan keracunan. Keracunan itu tidak hanya disebabkan oleh kelompok ikan yang secara alami sudah mengandung histamin tetapi juga bisa disebabkan oleh ikan lain yang kurang segar mutunya. Makin tinggi tingkat kerusakan ikan, makin banyak histamin yang terbentuk pada ikan. Konsumsi histamin dalam jumlah rendah (8-10 mg) tidak membahayakan.
Gejala keracunan akan timbul apabila mengkonsumsi 70 sampai 1000 mg histamin. Gejala keracunan yang tampak adalah muntah-muntah, bibir bengkak, sakit kepala, mual, muka kemerah-merahan, gatal-gatal, dan badan lemas. Meskipun histamin bisa membuat keracunan, namun belum ada kejadian keracunan bisa mematikan. Karena itu perlu upaya makan ikan yang kesegarannya terjamin.
Jangan disamakan alergi terhadap ikan dengan keracunan oleh ikan karena munculnya gejala yang sama. Keracunan bisa dihindari tetapi alergi tidak bisa dihindari. Karena itu biasanya orang yang alergi ikan setelah makan ikan menelan pil antihistamin supaya tidak ada reaksi alergi. Untuk menghindari keracunan ikan, belilah ikan yang segar, segera buang isi perut sebelum diolah dan bila tidak segera dikonsumsi simpan di freezer.
Secara keseluruhan protein, vitamin, mineral dan asam lemak omega-3 yang dikandung dalam ikan mempunyai peran dalam kesehatan tubuh manusia baik di bagian otak, mata, jantung, paru-paru, otot, pencernaan, kulit maupun persendian
BAB. IV KESIMPULAN
Suplemen minyak ikan biasanya berasal dari ikan laut perairan dalam dan dingin yang diekstrak dari jaringan hati ikan. Suplemen minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat seperti Omega 3 (EPA & DHA), Vit A dan Vit D. Salah satu sumber DHA & EPA ALAMI adalah suplemen minyak ikan dari hati ikan cod atau sering disebut Cod Liver Oil.
Minyak ikan diperoleh dengan cara ekstraki. Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan. Kemudian dilakukan pemurnian minyak ikan, yaitu penyaringan, degumming, nertlasisasi, pemisahan sabun, pemucatan dan deodorisasi. Tujuan dari pemurnian minyak ikan adalah untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik, dan memperpanjang masa simpan minyak
Manfaat makan ikan antara lain menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkan kadar trigliserida darah, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan kemampuan akademik, menurunkan risiko kematian karena penyakit jantung, mengurangi gejala rematik, dan menurunkan aktivitas pertumbuhan sel kanker.
Secara umum ikan tetap lebih bermanfaat dibandingkan minyak ikan, kecuali bagi orang tertentu yang mempunyai masalah makan ikan dan bagi orang yang memerlukan asupan omega-3 dalam jumlah besar. Bagi orang tersebut maka minyak ikan dapat dijadikan alternatif dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, perlu adanya pengawasan medis yang ketat apabila minyak ikan tersebut digunakan dalam jumlah banyak
Nah, marilah kita manfaatkan ikan dalam menu sehari-hari dengan motto “tiada hari tanpa ikan” supaya keluarga sehat
1.1 Latar belakang
Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat pada berbagai tingkat umur akan pentingnya kesehatan, meningkat pula kebutuhan akan asupan nutrisi seperti vitamin, mineral, serat, dan asam lemak.
Sebagai refleksi dari kecenderungan tersebut, meningkat pula di dipasaran jenis produk baru dan produk-produk hasil pengembangan maupun produk-produk suplemen nutrisi. Produk-produk ini mengandung bahan-bahan tambahan yang memiliki pengaruh terhadap peningkatan kesehatan, sebagai contoh; produk sereal yang ditambahkan dengan vitamin dan mineral, roti dengan tambahan serat dan susu bayi dengan bahan tambahan asam amino dan asam linoleat.
Jenis nutrien baru yang terbukti mempunyai manfaat tinggi bagi manusia adalah asam lemak tak jenuh ganda berantai panjang omega-3 yang berasal dari ikan laut. Telah dipasaran produk-produk yang diperkaya dengan minyak ikan yang didukung dengan hasil penelitian mengenai kegunaan asam lemak bagi kesehatan.
Minyak ikan sangat mudah teroksidasi oleh karena banyaknya ikatan rangkap pada gugus rantai asam lemaknya. Hal ini berarti bahwa harus diberikan perhatian yang lebih apabila minyak ikan ditambahkan pada produk makanan, jika tidak akan menyebabkan timbulnya bau atau rasa yang tidak enak dan senyawa-senyawa hasil oksidasi yang berpengaruh buruk bagi kesehatan. Mikroenkapsulasi terhadap minyak ikan akan menghilangkan kendala-kendala tersebut yang memungkinkan para produsen makanan memasukkan minyak ikan bagi peningkatan nilai tambah produk tampak adanya perubahan penampakkan dan usia simpan produk.
Hasil samping olahan dari industri produk perikanan cukup beragam, tetapi
secara garis besar dapat dibedakan atas hasil samping dalam bentuk cair dan hasil samping dalam bentuk padat. Salah satu hasil samping olahan dalam bentuk cair adalah minyak ikan. Minyak ikan merupakan hasil samping dari pengolahan ikan kaleng dan tepung ikan.
Minyak ikan tersebut dapat ditingkatkan mutunya agar layak dikonsumsi manusia dengan memurnikannya menggunakan metoda alkali. Minyak ikan memiliki nilai manfaat kesehatan/pengobatan dan gizi. Dengan demikian, minyak ikan dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri farmasi dan pangan
Masyarakat Indonesia termasuk bangsa yang sedikit mengkonsumsi ikan atau hasil olahannya. Saat ini tingkat konsumsi ikan nasional hanya 19 kg/kapita/tahun, lebih rendah dari Vietnam maupun Malaysia yang tingkat konsumsinya mencapai 33 kg/kapita/tahun. Tahun depan diupayakan tercapai target konsumsi 23kg/kapita/tahun.
Salah satu kemungkinan penyebab rendahnya tingkat konsumsi itu adalah minimnya keragaman hasil olahan ikan yang memiliki daya tarik bagi konsumen lintas usia, suku, dan tingkat sosial. Disamping dipasarkan dalam bentuk segar, ikan juga dipasarkan dalam bentuk produk olahan.
Produk olahan ikan khas Indonesia yang telah terindustrialisasi dengan mapan saat ini tercatat meliputi kerupuk, ikan asin, terasi, pindang, peda, minyak ikan dan beberapa yang lain, yang daya tariknya bagi konsumen anak-anak relatif rendah. Barangkali diantara produk tersebut hanya kerupuk yang mudah diterima konsumen anak-anak. Dengan introduksi produk nugget, ikan mulai luas dikonsumsi masyarakat konsumen.
1.2 Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mempelajari, pengertian, cara pembuatan, manfaat, tantangan, dan strategi pengembangan industri pengolahan minyak ikan khususnya di Indonesia
BAB. II. TINJAUAN PUSTAKA
Minyak ikan dapat diolah menjadi kapsul konsentrat asam lemak omega-3. Dengan teknik mikroenkapsulasi, minyak ikan dapat diproses menjadi tepung minyak ikan yang memudahkan di dalam penanganan, penyimpanan dan pemanfaatannya (Irianto dan Giyatmi, 2003).
Tepung minyak ikan digunakan sebagai ingredien pada berbagai produk makanan, seperti roti, makanan bayi, soup, fruit/health bars dan frozen pizza (Andersen, 1995), serta susu untuk ibu hamil.
Pemanfaatan minyak ikan di dalam industri pangan dengan tujuan untuk pengganti fungsi minyak nabati/lemak hewani dan memperkaya nilai gizi makanan
dalam rangka mendapatkan makanan sehat. Untuk maksud tersebut, minyak ikan dikembangkan pemakaiannya pada produk margarine dan table spread, hard fat, shortening, pastry fat, adonan biskuit, lemak dan emulsi untuk roti, adonan roti, minyak goreng, biscuit filling, minyak salad/sayur, emulsifier, fish spread, peanut butter, mayonaise, coleslaw, yoghurt, salami dan sosis (Bimbo, 1989; Barlow et al 1990)
Selain dari badan ikan, minyak ikan juga dapat dihasilkan dari organ hati ikan,
terutama hati ikan hiu. Minyak hati ikan hiu, di samping memiliki kandungan skualen
yang tinggi juga dapat dipakai sebagai sumber vitamin A dan D yang banyak diperlukan untuk memenuhi kebutuhan vitamin manusia
Minyak ikan termasuk senyawa lipida yang bersifat tidak larut dalam air (Winarno, 1995 dalam Purbosari, 1999).
Minyak ikan ini dibagi dalam dua golongan, yaitu minyak hati ikan (fish liver oil) yang terutama dimanfaatkan sebagai sumber vitamin A dan D, dan golongan lainnya adalah minyak tubuh ikan (body oil) seperti halnya minyak ikan lemuru (Moeljanto,1982)
Minyak ikan lemuru mengandung asam lemak berikatan rangkap, misalnya Eicosa Pentanoat Acid (EPA), dan Deocosa Hexaenoat Acid (DHA), dengan nama populernya asam lemak omega-3( Purbosari, 1999).
Sifat minyak ikan yang telah dimurnikan secara organoleptik, yaitu cairan yang berwarna kuning muda, jernih dan berbau khas minyak ikan. Sifat fisiknya berbentuk cair dengan berat jenis sekitar 0,92 gr/ml dan sifatnya yaitu angka iod lebih dari 65 gr/100 gr, angka penyabunaan 185-195 mg/gr, asam lemak bebas 0,1-13 %, dan angka tidak tersabunkan 0,5-2,0 mg/gr.(Murtini et al., 1992 dalam Purbosari, 1999).
Minyak ikan yang diperoleh sebagai hasil samping dari pengolahan tepung ikan dan ikan kaleng sering banyak mengandung banyak kotoran. kotoran pada minyak ikan dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu pertama adalah kotoran yang tidak larut dalam minyak (kotoran fisik, air dan protein), kedua adalah kotoran yang berbentuk susupensi koloid dalam minyak (fosfatida dan karbohidrat) dan ketiga adalah kotoran yang terlarut dalam (asam lemak bebas, pigmen, mono dan digliserida, senyawa hasil oksidasi, logam dan bahan-bahan yang tak tersabunkan (Irianto,2002).
Menurut Kayama (1990), asam lemak tidak jenuh pada minyak ikan umumnya mempunyai panjang rantai karbon antara C12 (lauric acid) sampai C24 (lignoceric acid) dan pada beberapa minyak ikan didapat sedikit C8 dan C10. Panjang rantai karbon asam lemak tak jenuh umumnya berkisar antara C14 sampai C22.
Secara keseluruhan, komposisi utama minyak ikan adalah trigliserida, sedangkan komposisi lainnya adalah fosfolipida, lemak dengan group eter dan wax ester (Singh dan Chandra, 1988).
Senyawa lain yang terdapat pada minyak ikan adalah sterol, vitamin dan pigmen (Standsby, 1982).
BAB. III. PEMBAHASAN
3.1. Pengertian minyak ikan
Minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat itu, karena mengandung sekitar 25% asam lemak jenuh dan 75% asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid/PUFA ) di dalamnya akan membantu proses tumbuh-kembang otak (kecerdasan), serta perkembangan indera penglihatan dan sistem kekebalan tubuh bayi dan balita.
Minyak ikan sangat berbeda dengan minyak lainnya, yang dicirikan dengan : variasi asam lemaknya lebih tinggi dibandingkan dengan minyak atau lemak lainnya, jumlah asam lemaknya lebih banyak, panjang rantai karbon mencapai 20 atau 22, lebih banyak mengandung jenis asam lemak tak jenuh jamak (ikatan rangkap sampai dengan 5 dan 6), dan lebih banyak mengandung jenis omega-3 dibandingkan dengan omega-6.
Walaupun tergolong keluarga minyak-minyakan, minyak ikan bukan untuk menggoreng namun merupakan “makanan” tambahan sumber zat gizi. Bahkan, minyak ikan termasuk bahan makanan sumber lemak yang rendah kolesterol, sehingga para ahli gizi dan kesehatan sepakat untuk memberikan label “aman” untuk dikonsumsi oleh bayi, balita, maupun orang dewasa.
Minyak ikan sangat mudah teroksidasi oleh karena banyaknya ikatan rangkap pada gugus rantai asam lemaknya. Hal ini berarti bahwa harus diberikan perhatian yang lebih apabila minyak ikan ditambahkan pada produk makanan, jika tidak akan menyebabkan timbulnya bau atau rasa yang tidak enak dan senyawa-senyawa hasil oksidasi yang berpengaruh buruk bagi kesehatan. Perlakuan terhadap minyak ikan yang dapat menghilangkan kendala-kendala tersebut yang memungkinkan para produsen makanan memasukkan minyak ikan bagi peningkatan nilai tambah produk tampak adanya perubahan penampakkan dan usia simpan produk
Asam lemak yang berasal dari ikan pada prinsipnya ada 3 jenis yaitu jenuh, tidak jenuh tunggal dan tidak jenuh jamak. Asam lemak tak jenuh tunggal mengandung satu ikatan rangkap dan asam lemak tak jenuh jamak mengandung banyak ikatan rangkap per molekul.
Minyak ikan juga mengandung vitamin A dan D –dua jenis vitamin yang larut dalam lemak– dalam jumlah tinggi. Manfaat vitamin A membantu proses perkembangan mata, sementara vitamin D untuk proses pertumbuhan dan pembentukan tulang yang kuat. Nah, kadar kedua vitamin ini dalam tubuh ikan akan meningkat sejalan dengan bertambah umurnya.
Minyak ikan mempunyai pengaruh yang lebih cepat dibanding dengan makan ikan. Namun demikian, beberapa manfaat makan ikan terhadap beberapa penyakit tidak dapat diperoleh dengan mengkonsumsi minyak ikan. Bagi penderita tekanan darah tinggi misalnya, akan lebih berman-faat makan ikan daripada minyak ikan karena penurunan tekanan darah disebab¬kan oleh tingginya proporsi DHA dan EPA. Ikan lebih banyak mengandung DHA dan EPA dibandingkan minyak ikan
Berbeda dengan golongan minyak yang lain, minyak yang berasal dari suplemen minyak ikan tidak digunakan untuk menggoreng makanan melainkan merupakan asupan minyak essential yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia.
3.2. Proses pembuatan minyak ikan
Minyak ikan diperoleh dengan cara ekstraki. Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan. Cara ekstraksi yang biasa dilakukan, yaitu metode ekstraksi dengan aseton, metode ekstraksi dengan hidrolisa, metode Dry Rendering, metode Wet Rendering dan ekstraksi dengan silase.
Pada praktikum minyak ikan dilakukan metode Wet Rendering, yaitu proses yang umumnya digunakan untuk membuat tepung ikan. Tahap proses ini meliputi kombinasi pemasakan dan pengeringan dengan mengguanakan uap panas pada keadaan hampa. Pengadukan secara lambat dilakukan selama pengeringan tepung ikan dan dilakukan pengepresan untuk memisahkan tepung dan minyak ikan.
Bahan baku industri minyak ikan adalah minyak ikan dari ikan-ikan pelagis dengan kadar lemak yang tinggi. Sumber minyak ikan tersebut dapat dari :
a. Hasil ekstraksi yang khusus untuk diambil minyaknya
b. Hasil ekstraksi dari pengolahan tepung ikan
c. Hasil samping dari pengolahan ikan kaleng
Ketiga sumber pasokan tersebut dapat digunakan namun akan mempengaruhi kepada mutu minyak, harga bahan baku, dan jumlah ketersediaan pasokan. Untuk menanggulangi kemungkinan kekurangan pasokan bahan baku maka perhitungan jumlah ketersediaan pasokan tidak hanya berasal dari domestik tetapi juga berasal dari luar negeri (import).
Penanganan Bahan Mentah Ikan setelah ditangkap, diambil hatinya, cuci dengan air laut, kemudian masukkan kedalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik itu kemudian dimasukkan kedalam peti berinsulasi dan dies dengan menggunakan es hancuran yang perbandingannya 1 : 1.
Pengesan ini dilakukan selama penangkapan hingga saat hati ikan tersehut diekstraksi minyaknya.Untuk memperoleh minyak, maka dilakukan ekstraksi dengan mencampur hati cucut botol dengan asam formiat teknis sebanyak 1% dari berat hati cucut botol (proses silase). Setelah 3 hail proses silase, kemudian dilakukan penyaringan hasil silase melalui kain blacu untuk memperoleh minyak kasar.
Setelah itu dilakukan pemurniaan minyak ikan. Tahapan-tahapan pemurnian minyak ikan, yaitu
a. Penyaringan,
b. Degumming,
c. Nertlasisasi,
d. Pemisahan sabun,
e. Pemucatan dan Deodorisasi
Tujuan dari pemurnian minyak ikan adalah untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik, dan memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi dan digunakan sebagi bahan mentah dalam industri. Kualitas minyak ikan yang dihasilkan pada proses pemurnian tergantung pada cara penyimpanan dan penanganan ikan sebelum dimurnikan
Pada tahap penyaringan, minyak ikan yang diperoleh sebagai hasil damping pengolahan tepung ikan atau ikan kaleng disaring terlebih dahulu dengan penyaring kawat untuk memisahkan kotoran-kotoran visual seperti sisa daging dan gumpalan protein. Minyak yang telah bebas dari kotoran visual ditentukan kandungan asam lemak bebasnya (free fatty acid/FFA).
Deguming merupakan proses pemisahan getah dan lender yang terdiri Dri fosfatida, protein, residu karbohidrat, air, dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak
Degumming dilakukan dengan penambahan NaCl 8% kedalam minyak ikan pada suhu 60oC selama 15 menit. Larutan NaCl yang ditambahkan sebanyak 40% dari volume minyak yang dimurnikan dan selama degumming dilakukan pengadukan atau proeses degumming juga dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 2-3% air atau larutan NaCl, atau menambahkan larutan firofosfatida pada minyak, kemudian disentrifugas pada suhu 30-50oC. Getah fosfatida akan terpidahkan pada sentrifuse sebanyak 3,5% dari minyak asal.
Netralisasi adalah suatu prosesuntuk memisahkan asam lemak bebas dari mynak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stoc)
Netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH 1N ke dalam minyak yang sudah mengalami proses degumming. LArutan NaOH 1N ditambahkan dalam minyak ikan pada suhu 60oC selama 15 menit. Jumlah NaOH yang ditambahkan ditentukan dengan rumus sebagai berikut:
%NaOH = %FFA x 0,142
Sedangkan menurut Windsor dan Barlow (1981) dalam Purbosari (1999), proses netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan alkali atau pereaksi lainnya untuk membebaskan asm lemak bebas dengan mempentuksabun dan membantuk mengkoagulasikan bahan-bahan yang tidak diiingainkan.
Penambahan larutan alkali ke dalam minyak mentah akan menyebabkan reaksi kimia maupun fisik (Stansbay, 1990 ) yaitu :
a. Alkali akan bereaksi denag asam lemak bebas dan membantu sabun.
b. Gum menyerap air dan menggumpal melaliu reksi hidrasi.
c. Bahan-bahan warna terdegradasi, terserap oleh gum atau larutan oleh alkali.
d. Bahan-bahan yang tidak terlatur yang terdapat dalam minyak akan menggumpal.
Faktor –faktor yang mempengaruhi proses netralisasi adalah konsentrasi alkali, suhu, pengadukan dan pencucian.
Selanjutnya minyak yang telah dinetralkan dibiarkan beberapa saat supaya terjadi pemisahan sabun yang terbentuk. Lapisan sabun berada pada lapisan bawah dan lapisan minyak pada bagian bawah. Kemudian sabun tersebut diambil. Untuk menghilangkan sabun-sabun yang masih tersisa, pada minyak ikan ditambahkan air panas sambil diaduk dan kemudian dibiarkan supaya terjadi pemisahan minyak dan air. Setelah itu air yang terpisah dibuang (Irianto, 2002).
Pemucatan ialah suatu proses pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan atau memucatkan warna yang tidak disukai dan menghilangkan getah (gum) yang ada dalam minyak (Windsor dan Barlow, 1981 dalam Charita, 1995). Pemucatan dilakukan dengan penambahan adsorben, umumnya dilakukan dalam ketele yang dilengkapi dengan pipa uap dan alat penghampa udara. Minyak dipanaskan pada suhu 105oC selam 1 jam. Adsorban ditambahkan saat minyak mencapai suhu 70-80 oC sebanyak 1-1,5% dari berat minyak. Selain warna, diserap pula suspensi koloid dan hasil degradasi minyak seperti peroksida (Irianto, 2002). Faktor yang mempengaruhi pemucatan adalah suhu, waktu, tekanan.
Deodorasai adalah suatu tahap proses pemurnian minyakyang bertujuan untuk menghilankan bau dan rasa yang tidak enak dalam minyak. Prinsip proses deodorasi, yaitu penyulinagan minyak dengan uap panas pada tekana atamosfer atau keadaan hampa.
Proses deodorasi dilakukan dengan cara memompa minyak ke dalam ketelen deodorasi. Kemudian minyak tersebut dipanaskan pada suhu 200-250 oC pada tekanan 1 atmosfer dan selanjutnya pada tekanan rendah (kursng lebih 10 mmHg), sambil dialiri uap panas selama 4-6 jam untuk mengankut senyawa yang dapat menguap.
Setelah proses deodorisasi selesai, minyak ikan kemudian didinginkan sehingga suhu menjadi kurang lebih 84 oC dan selanjutnya minyak ikan dikeluarkan (Irianto,2002).
3.3. Manfaat dan Peranan Minyak Ikan
Setelah mengetahui ikan mempunyai kandungan gizi sangat banyak, maka ikan perlu diperhitungkan sebagai sumber zat gizi yang penting. Pola kebiasaan makan ikan seperti pada masyarakat Eskimo dan Jepang memberi petunjuk kuat atas sangat rendahnya kejadian penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya pada masyarakat tersebut
Kebiasaan mengonsumsi minyak ikan menurut hasil beberapa penelitian memang memiliki khasiat bagi kesehatan khususnya jantung. Namun, ternyata tak hanya itu, mengonsumsi minyak yang kaya akan kandungan asam lemak omega-3 itu juga mampu membantu menghindari resiko gangguan penglihatan.
Minyak ikan merupakan asupan yang mengandung banyak nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Suplemen minyak ikan biasanya berasal dari ikan laut perairan dalam dan dingin yang diekstrak dari jaringan hati ikan
Seperti dalam edisi terbaru jurnal The Annals of Ophthalmology, tinjauan riset para ahli Australia menyatakan bahwa omega-3 dapat menekan risiko seseorang menderita gangguan penglihatan degeneratif yang disebut age-related macular degeneration (AMD) hingga 30 persen lebih. Namun demikian, para peneliti sama sekali tidak menganjurkan setiap orang untuk banyak mengonsumsi omega-3 jika hanya ingin terhindar dari ancaman tersebut. Para ahli dari Universitas Melbourne mencoba membuat tinjauan atas hasil sembilan penelitian mengenai kaitan omega-3 dan AMD. Sembilan riset ini secara total melibatkan 88.974 partisipan dan lebih dari 3.000 diantaranya mengidap AMD. Hasil tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa mengonsumsi ikan sekurangnya dua kali dalam satu pekan berpotensi menurunkan risiko menderita AMD.
Sejumlah riset selama ini juga sering menghubungkan asam lemak omega-3 dengan beragam manfaat kesehatan. Salah satu yang paling signifikan adalah rekomendasi penelitian bahwa omega-3 dapat membantu penderita sakit jantung. Berdasar riset, konsumsi suplemen minyak ikan secara teratur mampu menurunan ketidakstabilan elektris pada jantung, khususnya pada pasien yang mengidap kelainan detak atau ritme jantung.
Minyak ikan mempunyai konsentrasi kandungan omega-3 yang lebih tinggi dibanding ikan utuh, sehingga dapat dijadikan pilihan alternatif khususnya bagi orang yang bermasalah untuk makan ikan atau orang yang memerlukan asupan omega-3 dalam jumlah banyak. Sebagai contoh, untuk memperoleh efek omega 3 dalam menurunkan konsentrasi triglyceride (lemak dalam darah), mengurangi resiko denyut jantung yang tidak normal dan mengoreksi depresi diperlukan asupan omega 3 dalam jumlah tertentu. Untuk memperoleh efek tersebut diatas, sebagian orang harus makan ikan setara 2 - 3 kali dengan 100 gram per sekali makan dalam sehari atau sekitar 6-9 gram minyak ikan per hari (rata rata 100 gram ikan mengandung minyak ikan sekitar 3 gram).
Omega 3 yang terdapat pada ikan mencegah penyakit jantung dan penyakit degeneratif lainnya. Bahkan ada indikasi masyarakat yang gemar mengkonsumsi ikan memiliki umur harapan hidup rata-rata lebih panjang daripada masyarakat yang kurang mengkonsumsi ikan.
Secara sederhana dapat dijelaskan, karakteristiknya yang unik menyebabkan omega 3 mampu mencegah dan mengurangi penumpukan kolesterol dan melekatnya bintik-bintik darah pada dinding pembuluh darah yang merupakan sebab utama timbulnya serangan jantung dan stroke yang mematikan.
Omega 3 selain bisa menurunkan kadar kolesterol darah juga bisa mengatasi beban penderita penyakit asma, rematik, penyakit kulit, komplikasi diabetes dan kanker payudara.
Bahkan pertumbuhan sel otak manusia sangat tergantung pada kadar omega 3 secara cukup sejak bayi dalam kandungan sampai balita. Bila pada masa tersebut cukup tersedia omega 3 maka anak tersebut akan tumbuh dengan potensi kecerdasan maksimal. Karena alasan itu, sejak ibu hamil perlu mengkonsumsi ikan dalam jumlah cukup sampai bayi yang dikandungnya lahir.
Namun, minyak ikan mempunyai kelebihan dan keunikan terutama pada kasus kadar lemak darah tinggi yaitu bisa menurunkan lemak darah tersebut. Selain ikan bermanfaat untuk kesehatan jantung, ikan juga mengandung kalori rendah sehingga bagi orang-orang yang sedang mengikuti program diet penurunan berat badan mengkonsumsi ikan bermanfaat ganda asal diolah dengan sedikit lemak.
Selain manfaat ikan untuk kesehatan, perlu diketahui pula kandungan histamin pada jenis ikan seperti tongkol, kembung, cakalang, dan tuna secara alami yang bisa menyebabkan keracunan. Keracunan itu tidak hanya disebabkan oleh kelompok ikan yang secara alami sudah mengandung histamin tetapi juga bisa disebabkan oleh ikan lain yang kurang segar mutunya. Makin tinggi tingkat kerusakan ikan, makin banyak histamin yang terbentuk pada ikan. Konsumsi histamin dalam jumlah rendah (8-10 mg) tidak membahayakan.
Gejala keracunan akan timbul apabila mengkonsumsi 70 sampai 1000 mg histamin. Gejala keracunan yang tampak adalah muntah-muntah, bibir bengkak, sakit kepala, mual, muka kemerah-merahan, gatal-gatal, dan badan lemas. Meskipun histamin bisa membuat keracunan, namun belum ada kejadian keracunan bisa mematikan. Karena itu perlu upaya makan ikan yang kesegarannya terjamin.
Jangan disamakan alergi terhadap ikan dengan keracunan oleh ikan karena munculnya gejala yang sama. Keracunan bisa dihindari tetapi alergi tidak bisa dihindari. Karena itu biasanya orang yang alergi ikan setelah makan ikan menelan pil antihistamin supaya tidak ada reaksi alergi. Untuk menghindari keracunan ikan, belilah ikan yang segar, segera buang isi perut sebelum diolah dan bila tidak segera dikonsumsi simpan di freezer.
Secara keseluruhan protein, vitamin, mineral dan asam lemak omega-3 yang dikandung dalam ikan mempunyai peran dalam kesehatan tubuh manusia baik di bagian otak, mata, jantung, paru-paru, otot, pencernaan, kulit maupun persendian
BAB. IV KESIMPULAN
Suplemen minyak ikan biasanya berasal dari ikan laut perairan dalam dan dingin yang diekstrak dari jaringan hati ikan. Suplemen minyak ikan adalah salah satu zat gizi yang mengandung asam lemak kaya manfaat seperti Omega 3 (EPA & DHA), Vit A dan Vit D. Salah satu sumber DHA & EPA ALAMI adalah suplemen minyak ikan dari hati ikan cod atau sering disebut Cod Liver Oil.
Minyak ikan diperoleh dengan cara ekstraki. Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan. Kemudian dilakukan pemurnian minyak ikan, yaitu penyaringan, degumming, nertlasisasi, pemisahan sabun, pemucatan dan deodorisasi. Tujuan dari pemurnian minyak ikan adalah untuk menghilangkan rasa dan bau yang tidak enak, warna yang tidak menarik, dan memperpanjang masa simpan minyak
Manfaat makan ikan antara lain menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkan kadar trigliserida darah, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan kemampuan akademik, menurunkan risiko kematian karena penyakit jantung, mengurangi gejala rematik, dan menurunkan aktivitas pertumbuhan sel kanker.
Secara umum ikan tetap lebih bermanfaat dibandingkan minyak ikan, kecuali bagi orang tertentu yang mempunyai masalah makan ikan dan bagi orang yang memerlukan asupan omega-3 dalam jumlah besar. Bagi orang tersebut maka minyak ikan dapat dijadikan alternatif dalam menjaga kesehatan. Namun demikian, perlu adanya pengawasan medis yang ketat apabila minyak ikan tersebut digunakan dalam jumlah banyak
Nah, marilah kita manfaatkan ikan dalam menu sehari-hari dengan motto “tiada hari tanpa ikan” supaya keluarga sehat
BIOPER AKHIR
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perikanan adalah suatu usaha manusia untuk dapat memanfaatkan sumber daya hayati perikanan (baik nabati maupun hewani) sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil yang lebih baik dari pada dibiarkan tumbuh secara alami guna memenuhi kebutuhan manusia.
Ikan adalah salah satu diantara organisme pada kelompok vertebrata dan yang paling besar jumlahnya. Ikan mendominasi kehidupan di air seluruh permukaan bumi, sangat beragam dalam adaptasi morfologi, fisiologi dan tingkahlakunya. Jumlah spesies ikan yang telah berhasil dicatat adalh 21.000 spesies dan diperkirakan akan berkembang mencapai 28.000 spesies. Jumlah spesies yang hidup di muka bumi adalah 21.723 spesies, semantara jumlah spesies vertebrata yang ada di permukaan sekitar 43.173 spesies (Nelson, 1984).
Propinsi Riau memiliki keanekaragaman sumberdaya perikanan yang cukup besar baik itu perikanan air tawar maupun air laut. Ikan air tawar sebagian diproduksi dari hasil tangkapan diperairan umum, yaitu sekitar 13.807 ton atau sekitar 97,01 % dari potensi keseluruhan sebesar 14.232 ton/tahun yang telah dimanfaatkan. Sementara produksi perikanan dari hasil budidaya baru mencapai 3,1 % dari potensi yang ada sebesar 36.835 Ha (Dinas Perikanan Tingkat I Riau, 2001).
Dari jumlah tersebut antara satu spesies dengan spesies lainnya sudah tentu memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Saanin (1984) mengatakan bahwa untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan tanda-tanda, bentuk dan bagian dari tubuh ikan yaitu rumus sirip,perbandingan panjang dengan tinggi, bentuk garis rusuk dan jumlah sisik yang meliputi garis rusuk tersebut, bentuk sisik dan gigi beserta susunannya, tulang-tulang insang. Oleh karena satu macam ikan berbeda besarnya disebabkan oleh umur atau kadang-kadang oleh tempat hidupnya, maka tidak mungkin memberikan ukuran, ukuran yang diberikan hanyalah perbandingan saja.
Pengetahuan tentang kehidupan ikan terdapat dalam ilmu Biologi Perikanan yang merupakan ilmu untuk mempelajari ikan secara ilmiah, namun penekanan dan tinjauannya mengenai ikan sebagai sumber yang dapat dipanenen oleh manusia. Biologi perikanan mencakup ikan dimana penekanannya terhadap spesies penting sebagai sumberdaya, spesies lain dalam komunitas itu dipelajari juga tetapi yang diindahakan kemungkinan pengaruhnya terhadap spesies yang penting.
Jadi ruang lingkup biologi perikanan akan menjadi lebih jelas apabila diperhatikan prinsip–prinsip pengelolaan perikanan seperti telah dikemukakan diatas, dimana biologi perikanan diperlukan untuk melengkapi bimbingan dalam pengelolaan. Dalam laporan ini dibahas beberapa aspek yang dipelajari dalam biologi perikanan yang sangat penting untuk diketahui dan di pelajari mahasiswa perikanan.
Penampakan ciri–ciri seksual ini pada beberapa spesies ikan baru nyata apabila individu ikan sudah mengalami matang gonad (kelamin), akan tetapai pada beberapa spesies ikan lainnya ciri-ciri seksual itu dapat terlihat dengan jelas walaupun individu ikan tersebut belum matang gonad ataupun sudah selesai mijah. Ini dapat diketahui dengan melihat organ reproduksi atau cirri-ciri pada permukaan tubuhnya. Dengan dikenalinya penampakan ciri–ciri seksual dari setiap individu pada spesies ikan maka akan sangat membantu bagi orang–orang yang berusaha di bidang budidaya perikanan dan juga para peneliti di bidang biologi perikanan.
Sedangkan penentuan jenis kelamin ikan dapat dilakukan dengan memperhatikan ciri seksusl pimer (dengan cara membedah bagian abdominal tubuh ikan dan dilihat bentuk gonad nya, apakah ovari atau testes) dan ciri seksual sekunder, meliputi seksual dimorphisme (memperhatikan benda–benda yang terdapat pada tubuh ikan, atau morphologi) dan seksual dichromatisme (memperhatikan warna yang terdapat pada tubuh dan bagian–bagian tubuh ikan).
Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang tingkat kematangan gonad dari setiap individu ikan sehingga membantu mereka yang berkecimpung di bidang budidaya perikanan dan biologi perikanan untuk menghitung jumlah ikan dewasa yang siap bereproduksi dan memijah, kapan mereka akan memijah dan bertelur serta kapan dan berapa telur yang akan dibuahi dan menetas serta perbandingan antara ikan yang belum matang gonad dengan yang sudah matang, ikan yang belum dewasa dengan yang sudah dewasa dan ikan yang belum bereproduksi dengan yang sudah.
Sumantadinata (1983) menyatakan gonad ikan adalah sebagai kelenjar biak. Gonad ikan betina dinamakan ovari dan gonad ikan jantan dinamakan testes. Ovari dan testes ikan dewasa biasanya terdapat pada individu yang terpisah, kecuali pada beberapa ikan, kadang-kadang gonad jantan dan betina ditemukan dalam satu individu (ovotestes).
Tingkat kematangan Gonad adalah tahap tertentu gonad sebelum dan sesudah ikan itu memijah. Pulungan et. al (2005) menjelaskan bahwa tahap-tahap perubahan perkembangan gonad dari suatu individu ikan adalah sangat penting. Data perkembangan gonad dapat dibandingkan antara ikan yang belum dan yang sudah dewasa, antara ikan yang sudah matang gonad dan yang belum, antara yang akan bereproduksi dengan yang sudah bereproduksi serta dapat diketahui pada ukuran berapa individu dari spesies ikan itu pertama kali mengalami matang gonad dan memijah.
Kematangan gonad dari suatu spesies ikan ada kaitannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor lingkungan. Sehingga tahap–tahap perubahan perkembangan gonad dari suatu individu lainnya adalah pengetahuan yang penting sekali dalam biologi perikanan. Gonad sebagai penentu jenis kelamin ikan atupun hewan aquatik lainnya akan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. Hal itu sesuai dengan kapasitas rongga yang tersedia dan bentuk tubuh ikan itu sendiri.
Pengetahuan tentang fekunditas dalam bidang budidaya perikanan sangat penting artinya untuk memprediksi berapa banyak jumlah larva / benih yang akan dihasilkan jika individu ikan mijah didalam biologi perikanan adalah untuk memprediksi berapa jumlah stok suatu populasi ikan yang hidup di suatu lingkungan perairan.
Secara garis besar susunan saluran penernaan pada ikan terdiri dari mulut, oseaphagus, lambung, intestenum, anus. Di dalam mulut ikan terdapat gigi yang berperanan membantu mendapatkan makanan sama juga halnya dengan bentuk dan ukuran lambung serata intestenum yang dimiliki setiap jenis ikan bervariasi, maka menyebabkan setiap spesies ikan cara mengambil makanan nya juga bervariasi.
Makanan dapat merupakan faktor menentukan populasi dan pertumbuhan. Jenis makanan suatu spesies ikan tergantung pada umur dan waktu (Effendie, 1979). Dari banyaknya ikan yang hidup pada daerah ini, maka setidaknya para ilmuwan yang bergerak dalam bidang biologi perikanan meneliti jenis makanan apa yang dimakan oleh ikan tersebut atau yang sering kita sebut dengan menganalisa isi saluran pencernaannya. Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melalui mekanisme fisik, kimiawi sehingga makanan menjadi bahan yang mudah diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah.
Uktolseja dan Purwasamita (1987) mengemukakan bahwa pengetahuan mengenai fekunditas merupakan tahap yang penting untuk mengetahui dinamika populasi dan pada akhirnya dapat memperkirakan populasi ikan yang memijah jika telah dapat ditentukan jumlah telur yang dihasilkan setiap tahunnya dan perbandingan ikan jantan dan betina dalam populasi tersebut. Nilai fekunditas suatu spesies ikan dalam bidang akuakultur berperan untuk memperkirakan jumlah anak–anak ikan yang akan di hasilkan pada setiap kali pemijahan.
Kemampuan untuk menentukan umur dari suatu individu ikan adalah suatu pengetahuan yang penting dalam bidang biologi perikanan. Usaha untuk mempelajari penentuan umur suatu individu telah dimulai beberapa ratus tahun yang lalu. Penentuan umur ikan dapat dilakukan melalui dua cara yaitu mempelajari tanda tahunan yang ada pada tubuh ikan serta dengan cara frekuensi panjang. Bagian – bagian tertentu dari tubuh ikan yang memiliki tanda–tanda tahunan adalah Tulang Vertebrae, Tukang Overculum, Duri sirip dan Tulang otolith.
Dengan diketahuinya umur suatu individu ikan dari suatu spesies ikan maka kita akan dapat mengetahui pada umur berapa pertama kali ikan belajar mencari makan sendiri di alam, mencari makanan sesuai dengan kebiasaan kedua induknya, dan kapan ikan tersebut matang gonad.
Pendugaan populasi pada ikan dapat digunakan sebagai parameter populasi, jumlah individu ikan di dalam populasi dari suatu spesies ikan di lingkungan parameter tertentu selalu berubah karena dipengaruhi oleh banyak factor, dengan mengetahui keberadaan jumlah individu ikan di dalam suatu perairan maka akan dapat mendukung untuk mengetahui potensi di lingkungan perairan tersebut.
Populasi ikan disuatu perairan sangat penting untuk diketahui karena dengan mengetahui jumlah polasi disuatu perairan maka kita akan mengetahui batas tangkap ikan yang boleh diambil agar tidak terjadi over fishing yang lama kelamaan akan menyebabkan kepunahan pada ikan–ikan yang ada, di perairan seperti kita ketahui bahwa kebutuhan gizi dari ikan lama–kalamaan semakin meningkat, dengan mengetahui pendugaan popalsi suatu perairan kita juga dapat mengetahui pada daerah mana yang terdapat banyak ikan namun kita tidak mengambilnya melebihi batas maksimum ikan yang boleh ditangkap agar kelestarian ikan diperairan tetap selalu terjaga.
Telur-telur ikan yang telah dibuahi maka di dalam telur ikan itu akan terjadi proses embriologis hingga terbentuknya individu ikan lalu menetas dan keluar dari cangkang telur. Lamanya proses inkubasi yang terjadi pada telur – telur yang dibuahi bervariasi antara spesies ikan yang satu dengan spesies ikan lainnya, karena dipengaruhi oleh kondisi perairan lingkungan dan kandungan kuning telur yang terdapat dalam telur itu sendiri.
Larva yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dimana pada massa ini larva masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur dan organ-organnya belum terbentuk sempurna. Sesudah habis cadangan makanan berupa kuning telur maka larva akan memasuki periode postlarva dan pada saat ini beberapa organ tubuh sudah mulai terbentuk senpurna serta mulai difungsikan (Pulungan et al, 2005).
1.2 Tujuan dan Manfaat
Biologi perikanan dipelajari untuk mengetahui aspek–aspek perikanaan dan juga untuk menegetahui sebagaimanan sumberdaya yang dapat dipanen oleh manusia, serta merupakan suatu usaha agar orang yang mempelajarinya mengerti dan memahami sumberdaya perikanan serta bagaimanan pemanfaatan sumberdaya tersebut secara optimum dan membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikananya.
Manfaat yang diperoleh dari biologi perikanan ini adalah kita dapat mengetahui aspek–aspek biologi perikanan, dan mengetahui aplikasi pengetahuan biologi perikanan, dimanan pengelolaan perikanan ini berhubungan dengan sumberdaya masyarakat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengenalan Jenis Ikan dan Identifikasi
Jumlah spesies ikan yang telah berhasil diidentifikasi para ahli Ichthyologi ada sekitar 20.000-40.000 spesies. Puluhan spesies diantaranya telah memiliki varietas atau strain yang mencapai puluhan dan ratusan varietas. Terutama sekali ikan yang telah berhasil dibudidayakan dan telah popular didunia sebagai ikan hias (Pulungan et.al., 2004).
Untuk mengenal secara jelas jenis ikan yang diamati dan dapat diketahui secara pasti nama spesies ikan yang diamati maka terlebih dahulu perlu dilakukan pendeterminasian agar didapatkan data meristik dan morphometriknya (Pulungan et.al., 2004).
2.2. Seksualitas Ikan
Saanin (1986) Mengklasifikasikan ikan Motan yaitu termasuk Kelas Pisces, Ordo Ostariophysi, Sub Ordo Cyprinoidea, Family Cyprinidae, Sub Famiily Cyprininae, Genus Thynnichthys dan termasuk kedalam species Thynnichthys thynnoides.
Ciri – ciri dari ikan motan adalah badan berbentuk compresed dan panjang mulut terminal dan protactile. Tidak bersungut dan mulut sempit, bibir tebal, posisi sirip perut terhadap sirip dada adalah abdominal, jumlah jari – jari sirip punggung dengan rumus D.8 dada P. 13, perut V. 12 anus A. 5. 59 sisik pada gurat sisi, 13 sisik antar sirip punggung dan gurat sisi, 11 antar sirip anus dengan gurat sisi. Batang ekor dikelilingi 22 sisik, ekor bercagak, warna badan putih mengkilat agak gelap dibagian punggung, garis linnea lateralis sempuran, sisik halus (Kottelat, et. al 1993).
Gambar 1. Morfologi Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides)
Seksual dichromatisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu individu ikan merupakan ikan jantan atau betina berdasarkan warna yang dimiliki tubuh dan organ pelengkap lainnya. Sedangkan seksual dimorphisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu ikan jantan atau betina berdasarkan morphometrik yang dimiliki seperti ukuran tubuh atau bentuk sirip punggung (Manda Putra, 2006)
Beberapa jenis ikan juga memiliki dua alat kelamin pada tubuhnya yang sering disebut dengan ikan hermafrodit. Ikan hermafrodit dibagi menjadi tiga bagian yaitu hermafrodit sinkroni, hermafrodit protandri, dan hermafrodit protogini. Hermafrodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel sex betina dan sel sex jantan yang dapat masak bersama-sama, misalnya pada ikan famili Serranidae. Hermafrodit protandri yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina, misalnya pada ikan Kakap (Lates calcarifer). Sedangkan ikan hermafrodit protogini yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase betina ke fase jantan, misalnya pada ikan belut sawah (Monopterus albus) (Effendie Ichsan, 2002)
Selain hermafroditisme, pada ikan juga terdapat Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan bertahap juvenile gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betinanya. Gonad tersebut akan berkembang sebagian menjadi ovarium dan sebagian lagi menjadi testes tapi tidak terjadi masa diferensiasi atau intersex yang spontan. Misalnya pada ikan Anguila anguila dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdeferensiasi.
Faktor yang mempengaruhi komponen reproduksi atau kematangan gonad diantaranya umur dan fisiologi induk ikan itu sendiri. Secara umum spesies ikan dari ukuran ,maksimum terkecil dan mempunyai siklus hidup yang pendek, mencapai kematangan gonad pada usia lebih muda dari pada spesies ikan maksimum besar Lagler et,al.,(1977).
Effendi (1992) pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/gamet.
2.3. Tingkat Kematangan Gonad
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat ditubuh ikan jantan disebut testis berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan gonad yang terdapat dalam ikan betina dinamakan ovari berfungi menghasilkan telur (ovum) (Pulungan, 2004).
Menurut Pulungan (2005) pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan secara histologi. Pengamatan secara morphologi dapat dilakukan di lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya dapat dilakukan di laboratorium dan sangat memerlukan peralatan yang canggih serta teliti dan memerlukan dana yang cukup besar. Bila pengamatan dilakukan pada testes maka yang diamati adalah bentuk testes dan kedua sisinya, ukuran (panjang dan diameter ) testes, perbandingan panjang testes dan rongga tubuh, warnanya serta pembuluh darah pada permukaan testes. Demikian juga halnya bila pengamatan dilakukan pada ovari tetapi yang perlu diamati lagi adalah diameter beberapa butir telur.
Rahardjo (1980) saat pertama ikan mempunyai kemampuan bereproduksi (kematangan seksual ) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Terdapat perbedaan antara masing-masing spesies pada umur dan ukuran yang sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang pendek akan mencapai kedewasaan pada umur yang lebih muda daripada ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar.
Tang (2000) pematangan gonad untuk merangsang proses perkembangan telur sangat penting pada kegiatan budidaya ikan. Karena salah satu masalah utama yang dihadapi dalam produksi benih secara buatan adalah minimnya ketersediaan induk matang gonad. Induk matang gonad dapat diperoleh atau dipacu dengan berbagai cara misalnya dengan memanipulasi faktor lingkungan, makanan dan penggunaan hormon.
Lam (1985) menyatakan proses pembelahan sel-sel bakal telur secara mitosis sampai oosit primer atau fase pembentukan folikel dapat dipercepat dengan mengoptimalkan kondisi lingkungan misalnya suhu, periode cahaya dan penggunaan makanan berprotein tinggi dengan penambahan vitamin E, C atau asam lemak esensial untuk proses vitelogenesis karena dikendalikan oleh kelenjar hypofisa dan estrogen. Maka fase ini sering digunakan hormon-hormon tertentu untuk mempercepat pematangan.
Nikolsky (1969) menggunakan tanda utama untuk membedakan kematangan gonad berdasarkan berat gonad. Secara alamiah hal ini berhubungan dengan ukuran dan berat tubuh ikan keseluruhannya tanpa berat gonad. Perbandingan antara berat gonad dengan barat tubuh, Nikolsky menamakannya “coefficient kematangan” yang dinyatakan dalam persen.
Menurut Effendie (1999) mengatakan bahwa ciri induk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perut sangat lembut, dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut. Bila telur yang keluar secara pengurutan berbentuk bulat utuh, berwarna agak kecoklatan maka induk dalam kondisi siap pijah. Pada gonad ikan jantan dapat dilihat dari papilla genitalnya yang terletak dibelakang dan mendekati sirip anus, berwarna merah dan menyebar kearah pangkalan, makan ikan tersebut telah matang kelamin.
Menurut Trenggana (dalam Yuniarti, 1995) bahwa seksualitas, indeks kematangan gunad, tahap kematangan gonad, dan fekunditas sangat berperan dalam proses reproduksi. Dengan mengetahui hal tersebut dapat diperoleh antara lain, yaitu pada umur berapa suatu spesies ikan akan mulai memijah, apakah induk-induk ikan sudah memijah atau belum, banyaknya ikan-ikan tertentu serta frekuensi dan lama pemijahan.
Lagler et al., (1977) melaporkan bahwa tingkat kematangan gonad ialah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Semakin meningkat kematangan gonadnya, telur dan sperma ikan semakin berkembang. Garis telur pada ikan semakin besar pula, ukuran, berat gonad dan garis tengah telur bervariasi sesuai dengan kondisi tingkat kematangan gonad ikan betina.
Terjadinya perbedaan awal mula suatu individu ikan mengalami matang gonad disebabkan oleh umur, ukuran dan faktor fisiologis ikan itu sendiri (Pulungan, 1990)
Effendie (1978) mengemukakan bahwa Indeks Kematangan Gonad antara satu spesies ikan dengan spesies lainnya akan saling berbeda. Hal ini disebabkan karena indeks kematangan gonad suatu spesies ikan dipengaruhi oleh berat gonad dan berat tubuh ikan itu sendiri. Selanjutnya dia menambahkan pada ikan betina nilai Indeks kematangan gonad lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan dan ikan dengan indeks kematangan gonad 19 % ada yang sanggup mengeluarkan telur.
2.4. Fekunditas dan Diameter Telur
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1978)
Menurut William (dalam Jones, 1978) fekunditas sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air. Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air sungai selalu tinggi, fekunditas ikan tinggi pula, bila dibandingkan dengan tahun lain yang permkaan airnya rendah. Kejadian yang sama dapat terjadi pula untuk ikan-ikan yang hidup di rawa, karena sering pula permukaan air rawa dari tahun ke tahun tidak sama sebagai akibat pemasukan air yang tidak tetap (Effendie, 1978)
Umumnya fekunditas realtif lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif maksimal dijumpai pula pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky dalam Effendie, 1978). Selanjutnya Effendie (1978) mengemukakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mengetahui harus menggunakan fekunditas pipulasi relatif. Fekunditas ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang memijah tiap-tiap tahun.
Untuk mengetahui penyebaran diameter telur dilakukan pengukuran diameter telur dengan mengambil butiran pada bagian anterior, tengah, dan posterior pada ovarium sebelah kanan dan kiri. Serta perkembangan telur ditandai denganukuran diameter telurnya. (Uktoseja dan Purwasasmita, 1987).
Untuk menghitung telur ada beberapa metoda yang dapat digunakan. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk memilih metoda dalam menghitung nilai fekunditas ikan harus dikenali dengan baik sifat dari setiap spesies ikan yang diteliti agar pada pelaksanaan menghitung nilai fekunditas ikan tidak terjadi kesalahan (Pulungan, 2005).
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative yang lebih kecil. Umumnya fekunditas relative lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky,1969)
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur – telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1979).
2.5. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Ikan lele dumbo ini termasuk ke dalam Phylum Chordata, Subphylumnya Craniata, Superkelas Gnathostomata, Kelas Pisces, Subkelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siluroidea, Famili Clariidae, Genus Clarias, dan Spesiesnya adalah Clarias gariepinus (Saanin, 1986)
Gambar 2. Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Menurut Suyanto, S.R., (1993) dan Nijayanti (1992) ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki bentuk tubuh pipih dengan kepala picak, banyak memiliki lendir, mulutnya lebar dan mempunyai 4 macam sungut, insangnya berukuran kecil, dan terletak pada bagian belakang, dibagian atas rongga pernafasan terdapat alat pernafasan tambahan yang berbentuk seperti batang pohon dan penuh dengan kapiler-kapiler darah. Ikan lele dumbo merupakan jenis ikan air tawar yang baru dibudidayakan di Indonesia. Kendungan protein ikan lele dumbo mencapai 37 %.
Suyanto (1986) mengemukakan Lele Dumbo merupakan hasil persilangan antara betina asli Taiwan (Clarias fucus) dengan lele jantanasal afrika (Clarias mussmbicus). Keadaan morfologi ikan tersebut badan tidak bersisik, ukuran perbandingan panjang batok kepala dibandingkan panjang badan adalah 1:5. lele dumbo ini mirip dengan Clarias mussambicus dilihat dari perbandingan batok kepala. Warna tubuh gelap pada bagian punggung dan sisi tubuh. Mulutnya lebar dan terdapat delapan buah sungut nasal, maxilari, mandibula dalam dan luar yang terletak berdekatan dengan sungut nasal, oleh karena itu penglihatan baginya kurang penting. Memiliki sirip tunggal dan ganda, pada pektoral terdapat duri yang kuat dan tidak beracun. Memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut arborescen.
Ikan lele dumbo sejak tahun 1986 sudah populer di Indonesia. Jenis ikan lele ini di introduksi ke Indonesia dari negara Taiwan, tepatnya pada bulan Nopember 1986 dengan nama populernya King catfish yang berarti raja ikan lele (Suyanto, 1993). Pada mulanya nama ilmiah ikan lele dumbo adalah Clarias fuscus dan kemudian diganti menjadi Clarias gariepinus. Penggantian nama ini berdasarkan atas sifat – sifat induk jantan yang dominan diturunkan kepada anaknya. Dari hasil penyilangan itu ternyata keturunan ikan lele dumbo yang dihasilkan mempunyai sifat – sifat yang unggul.
Mujiman (1987) mengemukakan bahwa urutan saluran pencernaan ikan terdiri dari mulut, kerongkomgan, esofagus, lambung, usus sampai anus. Kemudian Ichwan (1997) yang mengatakan bahwa kualitas dan kuantitas makanan ikan juga tergantung pada ukuran makan yang cocok untuk mulut ikan.
Pada umumnya esofagus ikan pendek dan bisa membesar agar makanan yang agak besar dapat ditelan, dinding – dinding esofagus dilengkapi dengan lapisan otot circular dan memanjang. Pada ikan – ikan tertentu esofagus bersambung dengan usus. Lalu ditambahkan lambung berfungsi untuk menyimpan makanan melalui proses pencernaan dengan mencampurkan bahan makanan yang ditelan dengan lelehan gastrik.(Bond ,1979)
Usus merupakan segmen terpanjang dari saluran pencernaan. Menurut Affandi et al (1992), panjang usus sangat bervariasi dan berhubungan erat dengan kebiasaan makan ikan.
Kebiasaan makan ikan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan. Kebiasaan makan ikan diperlukan untuk mengetahui gizi alamiah ikan tersebut sehingga dapat dilihat hubungan ekologi diantara organisme diperairan itu, misalnya bentuk – bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi populasi pertumbuhan dan kondisi ikan. Jenis makanan dari spesies ikan biasanya tergantung umur, tempat dan waktu (Effendie, 1979).
2.6. Penentuan Umur Ikan
Ikan selar tergolong kedalam kelas Osteichtyes, subordo Percomorphi, sub ordo Percoidea, Divisi Perciformes, famili Carangidae, genus Caranx dan spesies Caranx leptolepis (Saanin, 1984)
Gambar 3. Morfologi Ikan Selar (Caranx leptolepis)
Ikan Selar Kuning tergolong ikan pelagis yang suka bergerombol (schooling) ikan ini berkerabat dengan ikan pelagis lainnya seperti golongan famili scombridae, clupeidae dan golongan ikan pelagis lainnya. Ikan Selar Kuning hampir serupa dengan ikan selar biasa dan selar mata besar yang menjadi ciri khas dari ikan ini adalah garis pewarnaan yang berwarna kekuningan mulai dari bagian abdominal sampai pada bagian batang ekor.
Pada bagian otak ikan ini terdapat tulang otholit yang mampu merekam segala aktivitas kejadian yang dialami oleh ikan ini semasa hidupnya. Suku besar ikan yang terutama hidup di laut dikenal dengan nama kuweh, angara atau selar. Hidup di laut kawasan sedang dan tropis. Bentuk badannya bervariasi tetapi kebanyakan memiliki barisan sisik berduri sepanjang batang ekor (Kottelat et al, 1993). Menurut (Djuhanda, 1981), ikan selar tergolong kedalam keluarga carangidae. Tubuh dari ikan ini bentuknya ada yang sedikit gepeng, ada yang lonjong dan ada juga yang tinggi.
Umur merupakan salah satu penduga terbaik dalam menentukan tingkat pertumbuhan relatif pada ikan, walaupun pertumbuhan sebenarnya sangat dipengruhi oleh faktor-faktor lingkungan (Moyle dan Cech, 1988).
Selanjutnya Effendie (1992) menjelaskan tanda tahunan pada tubuh ikan tercatat pada sisik, tulang oprculum, duri sirip punggung atau dada, tulang punggung otolith (batu telinga). Hoffbaur (dalam Effendie, 1992) juga menerangkan bahwa tanda tahunan yang terdapat pada sisik dikenal dengan annulus.
Otolith terbentuk dari kalsium karbonat yang mengeras didalam saluran kanal dari sirkulasi pada tulang ikan yang menonjol, berperan membantu dalam keseimbangan dan menanggapi bunyi (Victor, 1982).
Sebagian diatom berbeda nyata pada diatom morfologi otolith yang terjadi diantara ikan-ikan bertulang sejati yang memberi kesan bahwa otolith ini mempunyai peranan penting untuk pendengaran. Otolith terutama tambahan dari kristalisasi kalsium karbonat, dalm bentuk magnetik dan berserabut. Kolagen yang mempunyai protein otoline (Morals.nin, 1992)
Pertumbuhan otolith mempunyai permukaan dan endapan material, suatu proses yang berhubungan dengan masa peredarannya bergantung pada laju dalam metabolisme kalsium dan pada asam amino sintesis. Hasil tersebut merupakan formasi tambahan dari pertumbuhan harian dalam otolith tersebut, tersususn secara kontingen atau penambahan unit dan suatu unit pengawasan (Morales.nin, 1992).
Penelitian tentang umur dari suatu individu ikan yang berasal dari perairan sudah dilakukan sekitar 100 tahun yang lalu (Ricker dalam Pulungan, 2006). Untuk menentukan umur suatu individu ikan maka kita dapat juga melihat pada bagian-bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras untuk pembacaan umur suatu individu ikan tersebut menurut (Lagler et al dalam Pulungan, 2006) yaitu sisik kunci, tulang vertebrae, tulang operculum, pangkal duri sirip dada, dan tulang otholit.
Sisik kunci pada ikan bersisik cycloid terletak di atas garis linea lateralis 3 baris sisik di depan pangkal dasar sirip punggung bagian depan dan pada ikan bersisik ctenoid terletak di bawah garis linea lateralis di belakang ujung dasar sirip dada. Arah ke posterior tubuh. Tulang otholit terletak di bawah otak, berjumlah sepasang.
2.7. Mortalitas Ikan
Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan lele dumbo ke dalam kelas Pisces, Sub kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siliraodae, Family Clariidae, Genus Clarias, Spesie Clarias gariepinus.
Gambar 4. Morfologi Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Ciri – ciri bentuk ikan lele menurut Weber dan Baufort (dalam Pulungan, 2005) adalah sebagai berikut badan memanjang, tidak bersisik, tidak bersirip lemak dan kepala gepeng, sirip punggung (D) 60 – 70. panjang nya hampir mencapai pangkal sirip ekor. Sirip dada (P) I,8 – 11, jari – jari keras sirip dada licin dan sedikit bergerigi dan tidak tajam. Sirip perut (V) 6, sirip anus (A) 47 – 58. warna tubuh bagian atas gelap, daerah perut dan sisi bawah kepala terang, kadang – kadang terdapat baris bintik – bintik terang sepanjang sisi badan dan ekor.
Perubahan jumlah individu dalam populasi dari suatu spesies ikan dapat berubah – ubah dari waktu ke waktu. Terjadinya perubahan itu dipengaruhi oleh keberhasilan atau kegagalan produksi selanjutnya dapat mempengaruhi rekuitment ke dalam populasi ikan yang telah ada. Selain itu juga dipengaruhi oleh angka mortalitas yang terjadi. Angka mortalitas agak sukar untuk ditetapkan karena banyak factor yang mempengaruhi ( Bailey,.k.m. And e.d. Honde,1989)
Bailey,.k.m. And e.d. Honde. (1989) menyatakan bahwa penyebab kematian indivu ikan secara masal yang berada di suatu habitat tertentu adalah predasi, penyakit, pencemaran, pemusnahan secara fisik oleh mesin atau manusia dan gejala alam. Sedangkan penyebab kematian yang pengaruhnya tidak langsung kepada individu antara lain makanan, kondisi lingkungan yang kurang menyenangkan, beberapa jenis parasit dan tekanan sosial.
Pencemaran didefenisikan sebagai dampak negatif (pengaruh yang membahayakan) bagi kehidupan biota, sumber daya, kenyamanan ekosistem, serta kesehatan manusia, dan nilai guna lainnya dari ekosistem, baik disebabkan secara langsung maupun secara tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah ke dalam perairan yang berasal dari kegiatan manusia. (Dahuri, 2002)
Klein (1962) Mengemukakan bahwa pencemaran air dapat disebabkan oleh padatan maupun cairan, pencemaran dalam bentuk cair ditentukan oleh bahan tersuspensi atau bahan terlarut didalamnya seperti Peptisida, Randap, selanjutnya dikatakan pula penyebab utama pencemaran air oleh limbah cair yang berasal dari limbah industri, pemukiman dan pertambangan.
Menurut Djajasewaka (1985), kematian individu ikan di dalam populasi pada habitat tertentu dapat terjadi mulai dari telur ikan yang baru dilepas ke perairan atau yang telah dibuahi, di masa larva, ikan dewasa dan ikan yang tua siap untuk mati secara alami.
Menurut Paling (1971), sebagian besar bahan pencemar yang ditemukan di perairan berasal dari kegiatan manusia. Pada umumnya bahan pencemar tersebut berasal dari berbagai kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga.
Salah satu sumber bahan pencemar yang berasal dari limbah pertanian adalah DDT yang terkandung dalam Roundoup. Secara umum dampak negatif dari pemakaian pestisida maupun insektisida sintesis adalah : 1) pencemaran air dan tanah yang akhirnya akan kembali lagi kepada manusia dan makhluk hidup lainnya dalam bentuk makanan dan minuman yang tercemar. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida sintesis, residunya dapat bertahan di tanah dan air hingga puluhan tahun; 2) matinya musuh alami dari organisme pengganggu tanaman (OPT); 3) kemungkinan terjadinya serangan hama sekunder; 4) kematian organisme yang menguntungkan, seperti lebah yang sangat berperan dalam penyerbukan bunga; 5) timbulnya kekebalan OPT terhadap pestisida sintesis. (Novizan, 2002)
2.8. Pendugaan Populasi
Klasifikasi Ikan Nila yaitu Ordo Perciformes, Family Chiclidae, Genus Oreochromis, Spesies Orechromis niloticus (Kottelat et.all. 2003)
Gambar 5. Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan Nila bentuk tubuhnya pipih compressed, badan tinggi, kepala besar, sisik besar-besar, gurat sisi terputus di bagian tengah-tengah badan. Sirip punggung dan sirip dubur memiliki jari-jari keras seperti duri. Warna tubuh cerah dibandingkan ikan Mujair.
Tubuhnya simetris bilateral, sirip ekor berpinggiran tegak, termasuk kedalam kelas Osteichthyes. Hidung monorhinous. Linea lateralis tidak sempurna karena terputus. Bibir tebal, mulut lebar, moncong panjang, bibir atas berhubungan dengan bibir bawah. Letak mulut tegak lurus didepan bola mata. Tubuh dipenuhi sisik dan bagian ekornya/sirip ekornya terdapat 5 garis hitam. Hidup diperairan tawar.
Ikan Nila bentuk tubuhnya seperti ikan mujair, tetapi warnanya lebih cerah, dan dapat tumbuh lebih besar, panjangnya dapat mencapai sampai 50 cm. Ikan ini tersebar di Afrika Timur, Afrika Barat dan Syria. Di Indonesia belum lama dikenal. Tubuhnya jelas lebih besar dari pada ikan Mujair yang sudah ada, tetapi berkembang biaknya lebih lambat (Djuhanda, 1993).
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertenty pada tiap hari atau minggu dan bulan.
Krebs (1972) menyatakan bahwa densitas atau abudance adalah jumlah perunit area atau per unit volume yang dinamakan kepadatan mutlak, sedangkan kepadatan nixbi dari suatu populasi misalnya membandingkan keberadaan populasi spesies ikan tetentu di perairan habitat A lebih banyak dari perairan habitat C.
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)
Sebenarnya populasi mengikuti labih dari satu sifat yaitu :
1. Populasi yang terpisah secara geografi dengan yang lainnya mempunyai kesempatan walaupun sedikit untuk tukar genetis.
2. Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan off nes terdapat satu seri perubahan yang gradual.
3. Populasi yang berkelompok harus disertai dengan perbedaan yang tajam dengan daerah hibridasi diantaranya (Royce dalam Pulungan et al, 2006).
Faktor-faktor yang menentukan hadirnya suatu individu di suatu lokasi perairan menurut (Mcnoughton dan Wolf, 1990) adalah distribusi spesies, distribusi lokal akan diatur oleh keseragaman perairan dan predator. Distribusi spesies pada habitatnya mengelompok menandakan ada faktor kecil yang dominan berfungsi sebagai pembatas.
(Odum, 1971) menyatakan bahwa mengelompoknya individu dalam suatu populasi disebabkan oleh respon terhadap lokasi yang berbeda, cuaca dan hasil dari proses reproduksi. Selanjutnya (Tee, 1992) menyatakan penyebaran fauna umumnya terjadi secara mendatar tergantung pada jaraknya dari perairan utama (laut) serta adaptasi fauna terhadap perubahan lingkungan.
Keberadaan suatu populasi dalam perairan dapat diduga melalui metode pendugaan populasi yang terbagi dua yaitu : 1) Secara langsung yang dilakukan dengan pengeringan pada suatu kolam yang luarnya terbatas dan dihitung satu per satu, selain itu dapat dilakukan dengan pemotretan gerombolan ikan-ikan pelagis yang hidup di laut dan dapat mengetahui kepadatannya. 2) Secara tidak langsung, dengan memperhatikan pengurangan “Catch per Unit Effort“. Dalam perhitungan menggunakan metode regresi dari De Lury, Leslie dan Davis. Dan dapat juga dengan metode penandaan (marking dan tagging). (Pulungan, 2006). Selanjutnya dikatakannya bagian-bagian tubuh ikan yang diberi tag adalah : a) Kepala yang meliputi tulang rahang, dan tutup insang, b) Bagian tubuh yang meliputi bagian depan sirip punggung, bagian belakang sirip punggung, sirip lemak (adipose fin) dan batang ekor.
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertentu pada tiap hari atau minggu dan bulan
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)
2.9. Larva Ikan
Ikan betina yang telah matang gonad dan siap untuk memijah sebelumnya akan dibuahi oleh spermatozoa maka di dalam sel telur akan terjadi peleburan dan penyatuan kedua inti sel. Pada saat ini mulai terbentuk zygot yang kemudian diikuti dengan pembelahan hingga terbentuknya individu ikan lalu menetas dan keluar dari cangkangnya yang disebut dengan larva (Pulungan et al, 2005)
Effendie (1997) menyatakan bahwa anak ikan yang baru menetas disebut dengan larva dimana tubuhnya belum dalam keadaan sempurna, baik organ dalam maupun organ luarnya. Dibidang budidaya larva yang baru keluar dari telur disebut hatchling. Semasa perkembangannya larva terdiri dari prolarva dan postlarva.
Prolarva ialah larva yang masih memiliki kantung kuning telur berbentuk bundar, oval atau oblong, tubuhnya tran sparan dengan beberapa butir pegment. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya, sedangkan sirip perut berupa tonjolan, mulut dan rahang belum berkembang, usus masih berupa tabung lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna, makanan dari kuning telur yang dibawa oleh telur.
Sedangkan postlarva yaitu larva yang mulai kehilangan kantung kuning telur, mata berpigment, gelembung udara gelap, mulut terbentuk, sirip dada membesar,bntuk badan silinder atau pipih maupun bervariasi, sebagian besar organ sudah terbentuk sehingga diakhir postlarva secara morfologi hampir menyerupai bentuk ikan dewasa (Permana, 1987).
Jhingran (1975) menerangkan bahwa tahap larva adalah tahap paling kritis dalam kehidupan ikan karena banyak faktor penyebab mortalitas mulai dari larva, menetas ke alam sampai dapat mencari makanan sendiri. Terjadinya mortalitas itu karena faktor lingkungan dan diri larva itu sendiri. Kematian larva karena lingkungan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor biologi diantaranya makanan, predator dan kanibal, faktor kimia diantaranya pencemaran, oksigen terlarut, derajat keasaman, dan salinitas, sedangkan faktor fisika diantaranya suhu perairan, arus, dan turbiditas.
Larva yang organ – organ tubuhnya mulai terbentuk secara sempurna dan mulai berfungsi akan memasuki masa juvenil dan akhirnya menyerupai bentuk ikan dewasa ( Blaxter, 1969).
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perikanan dilaksanakan mulai tanggal 19 September sampai tanggal 19 Desember 2006. Bertempat di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan setiap praktikum Biologi Perikanan adalah berupa ikan-ikan segar (baik yang hidup maupun yang mati).
Sedangkan alat-alat yang digunakan selama praktikum seperti baki untuk meletakkan ikan, gunting bedah untuk membedah bagian-bagian tertentu ikan, scapel untuk memotong daging ikan, pinset untuk mengambil organ yang akan diamati, timbangan Sartorius untuk menimbang berat, mikroskop untuk melihat organ-organ kecil, serbet untuk membersihkan, alat-alat tulis untuk mencatat hasil praktikum.
3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan selama praktikum Biologi Perikanan menggunakan metode/pengamatan secara langsung terhadap objek atau ikan sampel.
3.4 Prosedur Praktikum
3.4.1. Seksualitas Ikan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya menimbang berat ikan, mengukur panujang total (TL), panjang baku (SL),panjang fork (FL), panjang kepala (HdL), tinggi badan (BdH), setelah itu menentukan jenis kelamin dari individu ikan dengan cara membedah bagian abdominal ikan, dan mengamati ciri seksual primer. Setelah ikan telah dibedah maka perhatikan antara ikan jantan dan ikan betina terhadap cirri seksual sekunder yang dimiliki meliputi seksual dimorphisme maupun seksual dichromatisme. Data yang didapat dijadikan sebagai laporan kerja sementara. Setelah itu dibuat dalam laporan individu dari setiap praktikan.
[
3.4.2. Kematangan Gonad
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya menimbang berat ikan, mengukur panujang total (TL), panjang baku (SL),panjang fork (FL), panjang kepala (HdL), tinggi badan (BdH), setelah itu menentukan jenis kelamin dari individu ikan dengan cara membedah bagian abdominal ikan, dan mengamati ciri seksual primer.
Selanjutnya, gonad yang ditemukan pada setiap ikan yang telah dibedah tadi, tentukan tingkat kematang gonadnya menurut Nikolsky (1963) dan Kesteven (Begenal dan Bram 1968). Ukur panjang gonad tersebut dengan penggaris dan ukur juga panjang rongga tubuh pada setiap ikan untuk menghitung perbandingannya. Kemudian gonad tersebut ditimbang dengan menggunakan timbangan sartorius. Apabila terdapat ovari yang telah matang gonad, maka disimpan dengan menggunakan botol yang telah berisi formalin untuk digunakan pada praktikum fekunditas yaitu menghitung jumlah telur yang terdapat pada setiap kantong ovari.
Setelah kita mendapatkan data dari pengukuran tadi, maka data yang didapat dijadikan sebagai laporan kerja sementara. Setelah itu dibuat dalam laporan individu dalam bentuk paper untuk setiap praktikan dan dikumpul sebelum masuk praktikum sebelumnya. Praktikum selesai dilaksanakan, cuci nampan dan keringkan kemudian bersihkan meja praktikum.
3.4.3. Fekunditas dan Diameter Telur
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium, praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya mengambil telur pada bagian anterior, tengah, dan posterior baik pada sisi kanan maupun sisi kiri. Letakkan sebanyak 5 telur yang telah diambil dari tempat tadi pada objek glass untuk dilihat nilai sebaran telur pada ovari ikan tersebut. Kemudian setelah diukur berapa diameter telur masukkan kedalam table dengan syarat nilai yang telah didapat dikalikan dengan perbesarannya yaitu 40x10 (0,025).
Pengamatan selanjutnya menghitung fekunditas ikan dengan menggunakan metode gabungan yaitu menghancurkan telur yang telah diberikan formalin ke dalam sebuah cawan Petri dengan menggunakan air 10 ml. Setelah hancur, telur ikan dimasukkan ke dalam gelas ukur setinggi 0,5. Kemudian, timbang berat ikan tersebut didalam timbangan sartorius. Telur yang ditimbang tadi dihitung satu persatu untuk mendapatkan nilai x. Jika telah didapat semua nilai, masukkan kedalam rumus dan hitung nilai fekunditasnya. Data yang diperoleh dijadikan laporan sementara dan nanti akn dipindahkan ke dalam laporan individu dalam bentuk paper.
3.4.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya membedah bagian abdominal ikan untuk mengambil lambung ikan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) tersebut, menghitung volume lambung berisi maupun volume lambung kosong dengan menggunakan gelas ukur, mengamati isi dari lambung ikan dengan menggunakan mikroskop dan menentukan makanan yang paling dominan dimakan oleh ikan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) dan data yang diperoleh dijadikan laporan sementara.
3.4.5. Penentuan Umur Ikan
Melakukan pengamatan dengan mengiris bagian kepala ikan Selar (Caranx leptolepis), kemudian mengambil tulang otolithnya dengan cara mengiris bagian kepalanya.. Lalu diamati dengan menggunakan mikroskop, kemudian data yang diperoleh dijadikan laporan sementara
3.4.6. Mortalitas Ikan
Prosedur yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut dua buah akuarium yang telah disediakan yang berukuran 60 x 30 x 30 diisi dengan air sebanyak 20 liter. Setelah terisi, air dibiarkan selama ± 10 menit. Setelah itu masukkan 3 ekor ikan ke dalam salah satu akuarium, ikan ini merupakan ikan uji. Sedangkan untuk yang dua ekor lagi masukkan dijadikan kontrol normal yang tidak diberi perlakuan insektisida.
Setelah itu, ikan diaklimatisasi selama ± 15 menit, selama proses aklimatisasi catat tingkah laku ikan baik ikan uji maupun ikan kontrol mulai dari gerakan, jumlah bukaan mulut dan tutup insang dan gerakan sirip. Setelah 15 menit pertama, masukkan 15 ml baycline ke dalam akuarium ikan uji, amati tingkah lakunya seperti 15 pertama.
Kemudian setelah 15 menit, ambil satu ikan uji bedah dan amati warna isang serta jantungnya. Selanjutnya masukkan lagi i5 nl baycline pada ikan uji amati selama 15 menit, setelah 15 menit ambil ikan untuk dibedah. Perlakuan tersebut terus diulang sampai semua ikan yang ada dalam akuarium mati.
Catat berapa ml baycline yang digunakan sampai ikan yang terakhir mati dan hitung juga konsentrasinya, serta catat waktu kematian masing-masing ikan uji. Setelah semua selesai diamati bersihkan semua alat-alat yang digunakan selama praktikum. Kemudian buat laporan dalam bentuk paper yang akan dikumpulkan sebagai syarat untuk mengikuti praktikum minggu berikutnya.
3.4.7. Pendugaan Populasi
Prosedur yang digunakan pada praktikum Pendugaan Populasi ini adalah, benih ikan nila dimasukkan ke dalam ember hitam, kemudian ditangkap dengan menggunakan saringan. Penangkapan dilakukan secara acak. Ikan yang sudah tertangkap, di beri tanda dengan memotong sirip ekornya untuk membedakan dengan ikan yang belum diberikan tanda. Kemudian dilakukan lagi penangkapan secara acak, dan di catat ikan yang sudah di beri tanda apabila tertangkap kembali dan ikan yang belum diberi tanda yang tertangkap juga dicatat kemudian beri tanda pada ikan yang belum diberi tanda. Dilakukan berulang-ulang sampai 10 kali. Hitung dengan menggunakan metode Petersen, Zoe Scehnebel, Schumecher dan Eschmeyer berikut nilai biasnya. Pindahkan di laporan sementara.
3.4.8. Larva Ikan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu pengamatan terhadap bahan praktikum dengan melihat larva dibawah mikroskop untuk melihat periode yang sedang dialaminya serta melihat organ-organ yang telah terbentuk, setelah itu gambar bentuk objek yang terlihat dan dilakukan berulang-ulang sebanyak larva yang telah disiapkan. Kemudian dibuat laporan sementara.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Seksualitas Ikan
Dalam praktikum pengenalan dan identifikasi terhadap jenis-jenis ikan diperoleh hasil dengan melakukan perhitungan dan pengukuran terhadap objek prakrikum tersebut.
Dimana hasil yang diperoleh berupa datadata morphometrik dan data meristik yang meliputi TL, SL, FL, HdL, BdH, jumlah jari-jari sirip pada setiap sirip yang terdapat pada spesies ikan tersebut, jumlah sisik, bentuk mulut, bentuk ekor serta klasifikasi dari spesies ikan yang dipraktikumkan.
Dari praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Penentuan seksualitas ikan
No. Berat Ikan (gram) TL (mm) SL (mm) BdH (mm) HdL (mm) FL (mm) Jenis Kelamin
1. 50 180 140 40 35 150 Jantan
2. 50 180 140 40 40 150 Jantan
3. 60 185 145 45 40 153 Betina
4. 60 185 145 45 40 153 Jantan
5. 48 170 130 40 35 140 Jantan
6. 49 175 135 40 37 143 Jantan
7. 50 180 140 45 43 150 Jantan
8. 60 185 145 40 40 153 Jantan
9. 50 165 145 45 40 153 Jantan
10. 50 188 145 45 40 155 Betina
11. 47 175 135 45 40 145 Jantan
12. 47 175 138 45 40 145 Jantan
13. 50 180 140 45 40 145 Jantan
14. 45 165 125 40 35 135 Betina
15. 45 160 125 35 30 130 Betina
16. 20 170 135 35 30 140 Jantan
17. 60 190 145 45 42 155 Betina
18. 50 190 145 45 42 155 Jantan
19. 50 180 140 40 30 150 Betina
20. 40 165 130 45 40 135 Betina
21. 35 160 120 40 38 125 Jantan
22. 50 180 136 45 42 146 Betina
23. 50 178 135 40 42 145 Jantan
24. 40 145 116 35 35 126 Jantan
25. 30 162 127 37 30 136 Jantan
Data diatas didapat pada saat melakukan pembedahan ikan dan langsung melihat gonad yang dimiliki oleh setiap ikan secara langsung atau juga disebut dengan seksual primer. Sehingga dapat diketahui bahwa ikan jantan sebanyak 17 ekor, sedangkan betina sebanyak 8 ekor.
Sedangkan seksual sekunder dimorphisme maupun seksual dichromatisme yang dimiliki ikan motan ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Seksual dimorphisme dan seksual dichromatisme
a. Seksual dimorphisme
Jantan Betina
Permukaan kepalan halus Permukaan kepala kasar
Bentuk abdominal tidak membundar Bentuk abdominal membundar
b. Seksual dichromatisme
Jantan Betina
Warna tubuh lebih cerah Warna tubuh tidak begitu cerah
Warna sirip punggungnya lebih cerah Warna sirip punggung tidak begitu cerah
Warna testes ikan jantan putih susu, sedangkan warna ovari ikan betina adalah hijau pekat, ini dipengaruhi oleh makanan yang makan oleh ikan motan ini.
4.1.2. Kematangan Gonad
Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai Tingkat Kematangan Gonad ikan, dihasilkan klasifikasi dan data morphometrik dan berat tubuh ikan rata-rata sebagai berikut:
Tabel 3. Morfometrik ikan motan jantan dan betina serta berat ikan tersebut
No. Berat Ikan (gram) TL (mm) SL (mm) BdH (mm) HdL (mm) FL (mm) Jenis Kelamin
1. 50 180 143 43 40 154 Jantan
2. 50 172 137 40 35 147 Jantan
3. 50 172 134 40 40 146 Jantan
4. 50 173 140 41 37 149 Jantan
5. 40 164 132 37 38 138 Jantan
6. 50 185 145 40 40 155 Jantan
7. 50 175 130 35 35 145 Jantan
8. 50 175 130 45 45 145 Jantan
9. 50 165 125 40 35 135 Jantan
10. 50 170 135 40 40 145 Jantan
11. 60 180 145 45 40 155 Jantan
12. 50 175 140 45 40 145 Jantan
13. 50 170 135 45 40 145 Jantan
14. 40 170 130 40 40 135 Jantan
15. 70 190 145 45 40 150 Betina
16. 50 165 130 40 35 140 Jantan
17. 50 180 140 40 35 150 Jantan
18. 50 180 140 40 35 150 Jantan
19. 50 180 140 45 40 150 Betina
20. 50 175 135 40 35 145 Jantan
21. 50 175 135 40 30 145 Jantan
22. 50 170 132 40 30 140 Jantan
23. 50 170 130 40 30 135 Jantan
24. 48 165 130 40 35 135 Jantan
25. 48 165 127 40 30 135 Jantan
Tabel 4. Tabel Perbandingan/Ratio Perbandingan antara Panjang Gonad dengan Panjang Rongga Tubuh
NO. Pjg Rongga Tubuh
(mm) Pjg Gonad
(mm) Ratio Perbandingan
(mm) Jenis Kelamin
Jantan Betina
1. 45 65 0,85 Jantan
2. 50 60 1,2 Jantan
3. 50 60 1,2 Jantan
4. 55 65 1,18 Jantan
5. 50 60 1,2 Jantan
6. 55 65 1,18 Jantan
7. 50 60 1,2 Jantan
8. 50 60 1,2 Jantan
9. 50 55 0,9 Jantan
10. 45 55 0,81 Jantan
11. 50 60 0,83 Jantan
12. 47 58 0,81 Jantan
13. 48 60 0,8 Jantan
14. 45 55 0,81 Jantan
15. 60 75 0,8 Betina
16. 60 75 0,8 Jantan
17. 65 80 0,81 Jantan
18. 60 75 0,8 Jantan
19. 70 85 0,82 Betina
20. 65 80 0,81 Jantan
21. 50 60 0,83 Jantan
22. 48 60 0,8 Jantan
23. 55 65 0,85 Jantan
24. 50 60 0,83 Jantan
25. 53 65 0,82 Jantan
Tabel 5. Tabel Indeks Kematangan Gonad Ikan Motan
No. Berat IKG (%) Tingkat Kematangan Gonad
Brt tbh+gonad Brt Gonad Nikolsky Kesteven
1. 50 gr 0,4458 gr 0,8916 % I II
2. 50 gr 0,1365 gr 0,2730 % I II
3. 50 gr 0,2808 gr 0,5616 % II III
4. 50 gr 0,3985 gr 0.7790 % II III
5. 40 gr 0,3235 gr 0,8087 % II III
6. 50 gr 0,4138 gr 0,8276 % II III
7. 50 gr 0, 2501 gr 0,5002 % II III
8. 50 gr 0,2510 gr 0,2020 % II III
9. 50 gr 0,0744 gr 0,1488 % II III
10. 50 gr 0,5048 gr 1,0096 % III IV
11. 60 gr 0,3962 gr 0,6603 % II III
12. 50 gr 0,5560 gr 1,1120 % III IV
13. 50 gr 0,7122 gr 1,4244 % II III
14. 40 gr 0,3392 gr 0,8480 % III IV
15. 70 gr 6,0583 gr 8,6547 % IV V
16. 50 gr 0,2257 gr 0,4514 % III IV
17. 50 gr 0,6080 gr 1,2160 % III IV
18. 50 gr 0,3645 gr 0,7290 % III IV
19. 50 gr 7,0266 gr 14,0532 % IV V
20. 50 gr 0,2720 gr 0,5440 % II III
21. 50 gr 0,3130 gr 0,6260 % III IV
22. 50 gr 0,1902 gr 0,3804 % I II
23. 50 gr 0,2902 gr 0,5804 % III IV
24. 48 gr 0,2838 gr 0,5913 % III IV
25. 48 gr 0,1488 gr 0,3100 % III IV
Dari Tabel 5 diambil data ikan sampel yaitu untuk ikan jantan adalah ikan no. 5 dan ikan betina adalah ikan no. 19, gonad pada ikan motan . Dari data ini dilakukan penimbangan terhadap masing-masing gonad ikan dan penghitungan IKG (Indeks Kematangan Gonad) atau sering disebut Coeffisien Kematangan Gonad atau Gonado Somatic Index, yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikali dengan 100 %.
Rumus IKG :
Bg
IKG = X 100 %
Bt
Keterangan : IKG = Indeks Kematangan Gonad
Bg = Berat Gonad dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
a. IKG untuk Testes (Sampel no. 1)
Dik : Berat testes = 0,3235 gr
Berat ikan = 40 gr
Dit : IKG ?
0,4458
IKG = X 100 % = 0,8916 %
50
b. IKG untuk Ovari (Sampel no. 19)
Dik : Berat ovari = 7,0266 gr
Berat ikan = 50 gr
Dit : IKG ?
7,0266
IKG = X 100 % = 14,0532 %
50
4.1.3. Fekunditas dan Diameter Telur
Pada praktikum kali ini, fekunditas dihitung dengan menggunakan metode gabungan. Metode gabungan adalah metode yang menggabungkan metode-metode sebelumnya yaitu metode volumetric, gravimetrik, dan metode jumlah. Adapun rumus pada metode gabungan ini adalah sebagai berikut :
F =
Keterangan :
F : Fekunditas
G : Berat gonad (gr)
V : Volume pengenceran (ml)
X : Jumlah butir telur setelah ditimbang dengan menggunakan timbangan sartorius.
Q : Berat telur contoh (sub-sampel) pada tabung ukur 0,5
Dengan menggunakan rumus metode gabungan tadi, maka dapat dihitung nilai fekunditas ikan Motan (Thynnichthys thynnoides)
Diketahui : Berat gonad (G) = 7,0266 gr
Volume pengenceran (V) = 10 ml
Jumlah butir telur (x) = 1882 butir
Berat telur (Q) = 0,8398 gr
Ditanya : Fekunditas (F) ?
Jawab : F =
F =
F =
F = 157466,792
F = 157467
Telur yang telah diambil dari bagian anterior, tengah, posterior kemudian dijajarkan pada objek glass dan dilihat serta ditentukan diameter telurnya dengan menggunakan mikroskop mikrookuler, maka didapat ukuran sebagai berikut :
Tabel 6. Diameter telur ikan motan (Thynnichthys thynnoides)
Ket. Kiri Kanan
Anterior 25 20 30 25 20 33 27 25 30 25
Tengah 25 20 25 30 30 27 33 30 25 30
Posterior 30 25 28 25 20 25 29 20 20 23
Karena pembesaran yang digunakan adalah 40x10, maka nilai diatas dikalikan dengan 0,025. Sehingga didapat hasil pada tabel berikut :
Tabel 7. Diameter telur ikan yang dikalikan dengan perbesaran 40x10 (0,025)
Ket Kiri Kanan
Anterior 0,625 0,5 0,75 0,625 0,5 0,825 0,675 0,625 0,75 0,625
Tengah 0,625 0,5 0,625 0,75 0,75 0,675 0,825 0,75 0,625 0,75
Posterior 0,75 0,625 0,7 0,625 0,5 0,625 0,725 0,5 0,5 0,575
Setelah didapatkan nilai diatas, kemudian ditabulasikan ke dalam tabel berikut.
Tabel 8. Ukuran diameter telur dari keenam bagian ovari ikan
Diameter telur (mm) Frekuensi (butir)
Kiri Kanan
Anterior Tengah Posterior Anterior Tengah Posterior
0,5 II I I II
0,575 I
0,625 II II II II I I
0,675 I I
0,7 I
0,725 I
0,75 I II I I II
0,825 I I
Jumlah = 5,375 5 5 5 5 5 5
Dari data diatas, dilanjutkan dengan menghitung jumlah (∑) diameter telur rata-rata dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
telur rata-rata =
Keterangan :
telur rata-rata : diameter telur dibagi jumlah telur (mm)
: diameter telur ikan
n : jumlah telur ikan yang diamati
Diket : = 5,375
n = 30
Ditanya : telur rata-rata?
Jawab : telur rata-rata =
= 0,1792
Jadi, pada ke 30 diameter yang diambil dari 6 tempat bagian ovari memiliki diameter telur sebesar 0,1792 mm.
4.1.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Tabel 9. Morfometrik , mulut, dan susunan insang ikan Lele dumbo ( Clarias garipinus)
Ikan Morfometrik Bukaan mulut Posisi mulut Jenis gigi Susunan insang
TL SL Bdh HdL
I 270 230 35 65 25 Lebar dan berada tegak lurus dibelakang bola mata Vilivorm Tidak rapat
II 260 225 35 60 20
III 250 220 35 55 20
Setelah diukur data diatas, ketiga ekor ikan dibedah dan diambil saluran pencernaannya yaitu lambung dan intestine. Ketiga lambung tersebut yang masih berisi makanan dimasukkan ke dalam tabung ukur 10 ml. Lambung beserta usus ketiga ikan lele tersebut kemudian dikeluarkan semua isinya dan dimasukkan ke dalam cawan Petri. Setelah semua isi lambung dan intestine dikeluarkan, maka usus dan lambung tadi dimasukkan ke dalam tabung ukur 10 ml air. Kemudian hitung berapa selisih volume air yang dimasukkan lambung berisi dan lambung yang kosong.
Tabel 10. Volume kenaikkan lambung berisi dan lambung kosong beserta selisihnya.
Ikan Volume lambung dan usus berisi dalam 10 ml air Volume lambung dan usus kosong dalam 10 ml air Selisih
1. 10 ml air 14 ml 10 ml air 13,5 ml 0,5 ml
2. 10 ml air 13 ml 10 ml air 12,5 ml 0,5 ml
3. 10 ml air 12,5 ml 10 ml air 12 ml 0,5 ml
Isi lambung yang dimasukkan ke dalm cawan Petri tadi kemudian diencerkan dengan air 10 ml. Setelah encer, ambil cairan tersebut ke dalam pipet tetes dan diletakkan pada objek glass untuk diamati di bawah mikroskop. Pengamatan dalam mikroskop sebanyak 3 kali ulangan / 3 tetes dan dari 3 sudut pandang. Lihat jenis makanan dan dimasukkan ke dalam table.
Tabel 11. Jenis makanan Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Jumlah makanan Ikan Jumlah Persentase
I II III
1.
Anabaeropsis raciborskii wal 6 3 5 14 x100%=18,42%
2.
Lyngbya spirulinoides Gom 4 5 3 12 x100%=15,79%
3.
Gomphosphaeria aponina Kg 18 10 8 36 x100%=47,37%
4.
Cylendrocystis brebissoni Menegh - 6 - 6 x100%=7,89%
5.
Glococystus vesiculosa Naeg - - 8 8 x100%=10,53%
4.1.5. Penentuan Umur Ikan
Hasil yang didapat pada praktikum kali ini sebagai berikut:
Tabel 12. Ukuran Morphometrik
No. TL SL HdL BdH FL
1. 180 150 45 55 160
2. 190 155 43 50 170
3. 195 160 45 45 165
Gambar 6. Otolith Ikan Selar (Selaroides leptolepis)
Perhitungan berat otolith ikan Caranx leptolepis:
1) Kanan = 0,0001g
Kiri = 0,0009 g
4.1.6. Mortalitas Ikan
4.1.6.1. Deskripsi Ikan Lele dumbo
Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan Nila kedalam kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo Ostariphysi, subordo Siluridea, famili Claridae, genus Clarias, species Clarias gariepinus.
Gambar 7. Morfologi Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
4.1.6.2. Perhitungan Volume Air Aquarium.
V = p x l x t Dimana: V = Volume air (liter)
20 = 60 x 30 x t p = Panjang aquarium (cm)
20.000 = 1800 t l = Lebar aquarium (cm)
t = t = Tinggi Air (cm)
t = 11,1 cm
4.1.6.3. Reaksi Ikan Terhadap Zat Pencemar
Setelah dilakukan proses pengamatan selama lima belas menit, ikan uji diberi perlakuan berupa pemberian detergen sebanyak 20 gr setiap 15 menit, kemudian diamati bukaan mulut, bukaan operculum serta tingkah laku ikan.
Tabel 13. Hasil Pengamatan Reaksi Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) terhadap bahan pencemar baycline.
Waktu Bukaan
Bukaan Operculum Detak
Jantung
Pergerakan Ikan
Ikan
Kontrol 15 menit 82 96 98 Ikan berenang dengan arah teratur
Ikan
Uji 1 15 menit 124 133 73 Ikan berenang dengan tak teratur
Ikan
Uji 2 15 menit
30 menit 121
129 132
146 69 Ikan melompat keatas perairan
Ikan
Uji 3 15 menit
30 menit
45 menit 121
136
138 129
135
142 70 Ikan membenturkan tubuhnya kedinding
Insang pada ikan kontrol terlihat berwarna merah, sedangkan ikan uji 1 yang sudah tercemar insang berwarna sedikit lebih gelap. Begitu juga dengan ikan uji 2 yang berada 15 menit lebih lama dari ikan uji 1, warna insang lebih merah hati sampai pada ikan uji 3, insang berwarna merah hati dan warna tubuh ikan secara keseluruhan menjadi lebih pucat.
4.1.7. Pendugaan Populasi
Adapun data yang didapatkan dari praktikum adalah sebagai berikut:
Tabel 14. Pendugaan populasi pada ikan Nila
Penangkapan u r u+r m m.r m(u+r) m2(u+r)
1 3 0 3 0 0 0 0
2 7 0 7 0+3=3 0 21 63
3 4 1 5 3+7=10 10 50 500
4 4 6 10 10+4=14 84 140 1.960
5 1 6 7 14+4=18 108 126 2.268
6 2 9 11 18+1=19 171 209 3.971
7 1 8 9 19+2=21 168 189 3.969
8 3 5 8 21+1=22 110 176 3.872
9 5 9 14 21+3=25 225 350 8.750
10 2 5 7 25+5=30 150 210 6.300
Jumlah 30 49 71 162 1.026 1.471 31.653
1. Metode Petersen
Dilakukan pada penangkapan ke-III karena pada penangkapan kedua ikan yang bertanda tidak dapat ditangkap (r = 0).
P^ =
P^ = = 50
Bias =
Bias =
Bias = 0 % (tidak terhingga)
2. Metode Zoe scahnabel
P^ =
=
= 30,0204
Bias = x100%
Bias =
Bias = 39, 96%
3. Metode Schumecher dan Eschmeyer
P^ =
=
= 30,8509
Bias = x100%
Bias =
Bias = 38,30%
Kesimpulan : melihat dari perhitungan indeks bias yang relatif kecil adalah metode Petersen sebesar 0 % sehingga kebiasan pendugaan populasi semakin kecil artinya mendekati tingkat kebenaran.
4.1.8. Larva Ikan
Ikan lele dumbo diklasifikasikan ke dalam kelas Pisces, Sub kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siliraodae, Family Clariidae, Genus Clarias, Spesie Clarias gariepinus (Saanin, 1984).
Gambar 8. Morfologi Prolarva Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Gambar 9. Morfologi Postlarva Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Adapun hasil yang diperoleh dalam praktikum ini yaitu antara larva yang satu dengan yang lain mempunyai ciri-ciri morfologi yang berbeda, hal ini dapat dikarenakan oleh perbedaan usia larva walaupun hanya berbeda beberapa jam.
Tabel 15. Data Larva Ikan Lele (Clarias gariepinus)
No. Prolarva Postlarva Ciri - Ciri
1 Kuning telur sedikit, belum ada bukaan mulut, sirip belum terbentuk
2 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
3 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
4 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
5 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
6 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
7 Kuning telur sedikit, belum ada bukaan mulut, sirip belum terbentuk
8 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
9 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
10 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
4.2. Pembahasan
4.2.1. Seksualitas Ikan
Gonad yang berkembang didalam tubuh individu ikan akan mempengaruhi pertambahan berat tubuh. Individu – individu ikan yang sudah matang gonad sempurna berat testes mempengaruhi pertambahan berat tubuh ikan jantan sekitar 10 – 15%, sedangkan pada ikan sekitar 15 – 25% (Pulungan, 2006)
Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat atau organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Sedangkan ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan jantan dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang positif (Bond, 1979).
Testes dan salurannya pada ikan jantan serta Ovari dan salurannya pada ikan betina merupakan ciri seksual primer. Ikan Motan yang diamati ialah ikan Motan jantan. Menurut (Pulungan, 2006) pada ikan Motan jantan terdapat testes. Testes pada ikan terdapat dalam tubuh ikan jantan. Bentuknya juga bergantung pada rongga tubuh yang tersedia. Tetapi pada umumnya mempunyai bentuk tubuh yang memanjang. Jumlahnya sepasang dan menggantung pada mesenteries (mesorchia). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai berwarna putih susu.
Sedangkan pada ikan Motan betina terdapat ovari yang terletak di samping kanan dan kiri gelembung renang, dibawah ruas-ruas vertebrae, di atas saluran pencernaan dan menggantung pada mesovaria, warnanya bervariasi mulai dari orange sampai kuning keemasan (Pulungan,2006)
Alat pengeluaran atau organ uropoetica pada ikan Motan terdiri atas tiga bagian, antara lain : 1) mesonephros, terdapat sepasang berwarna merah tua dan terletak di antara gelembung renang dan tulang punggung. Mempunyai bentuk yang bervariasi, agak memanjang dan mempunyai bagian yang membesar yang terjepit di antara kedua bagian pneumatocyt. 2) ureter (ductus mesonephridicus), merupakan saluran keluar dari mesonephros 3) gelembung kencing (vesica urinaria), merupakan persatuan ureter kanan dan kiri (Pulungan, 2006).
4.2.2. Kematangan Gonad
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan disebut testes berfungsi menghasilkan spermatozoa sedangkan gonad yang terdapat pada ikan betina disebut ovari yang nantinya akan menghasilkan telur (ovari).
Gonad yang ada dalam tubuh ikan umumnya berjumlah sepasang. Gonad yang sepasang berfungsi untuk keseimbangan badan dalam bergerak. Tidak selamanya gonad yang disebelah kanan sama ukurannya dengan gonad disebelah kiri namun yang ukurannya lebih pendek akan menyeimbangkan diri dengan berat.
Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh, bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries pada rongga atas bagian tubuh. Posisinya persis di bawah tulang punggung di samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai warna putih susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada rongga tubuh. Namun pada umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada mesenteries (mesovaria). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai kuning emas dan keabu-abuan. (Pulungan et all, 2006)
Untuk mempermudah mengetahui perkembangan gonad maka oleh para peneliti dilakukan pentahapan terhadap perkembangan gonad yang bervariasi. Hal ini disesuaikan dengan kondisi jenis ikan yang dianalisa dan digunakan. Gonad yang terdapat di dalam tubuh mengalami perkembangan dari bentuk sehelai benang berisi cairan bening kemudian berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang dimiliki individu ikan. Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan gamet yang diproduksi oleh gonad itu sendiri. Semakin matang gonad suatu individu ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta tubuh individu ikan. Beberapa peneliti memperkirakan pertambahan berat gonad ikan berkisar 10-25 % dari berat tubuh. Akan tetapi pada jenis ikan tertentu pertambahan gonad dapat mencapai 50 % dari berat tubuh. (Pulungan, 2005)
Effendi (1997) pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Kemudian (Siregar, 1989) menyatakan bahwa perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/ gamet.
Tahap kematangan gonad yang umum digunakan menurut Kesteven yaitu 1) dara, 2) dara berkembang, 3) perkembangan I, 4) perkembangan II, 5) Bunting, 6) Mijah, 7) Mijah/salin, 8) salin/spent dan 9) pulih salin. Sedangkan menurut Nikolsky,tahap perkembangan gonad pada ikan terdiri dari 1) tidak masak, 2) tahap istirahat, 3) pemasakan, 4) masak, 5) reproduksi, 6) kondisi salin, 7) tahap istirahat.
Selama proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam gonad itu sendiri. Umumnya pertamabahan bobot gonad pada ikan betina 10 – 25 % dan pada ikan jantan 5 – 10 % dari bobot tubuh. Pengetahuan tentang perubahan/tahap-tahap perkembangan gonad diperlukan untuk mengetahui kapan ikan akan/tidak melakukan reproduksi. Dengan mengetahui tingkat-tingakat kematangan gonad, kita akan dapat mengetahui kapan ikan akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Ukuran ikan saat pertama sekali gonadnya masak ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. (Tang, 2000)
Tiap-tiap spesies ikan pada ukuran pertama kali gonadnya matang tidak sama ukurannya. Demikian juga pada ikan yang spesiesnya sama. Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad ikan antara lain : suhu, makanan dan faktor keberadaan hormon. Pengetahuan tentang kematangan gonad tidak akan sempurna apabila tidak diiringi dengan pengetahuan tentang anatomi, histologi alat reproduksi baik jantan maupun betina. Demikian juga proses-proses pembentukan sel kelamin sampai terjadinya kematangan gonad. Berdasarkan hal tersebut, kajian mengenai perkembangan gonad perlu diungkapkan (Affandi, 2000)
4.2.3. Fekunditas dan Kematangan Telur
Menurut Bagenal (1967) menerangkan bahwa fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan untuk studi populasi, karena kematangan ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitas dapat ditentukan dengan pengelolaan perikanan yang baik.
Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengaruhi oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan factor fisiologi tubuh.
Untuk menghitung fekunditas (butiran telur) pada ikan dapat dilakukan dengan lima cara yaitu, : 1) Metoda jumlah (menjumlahkan secara langsung), 2) Metoda volumetrik, 3) Metoda gravimetric, 4) Metoda gabungan volumetrik, gravimetric, dan jumlah, 5) Metoda Von Bayer (Effendie, 1992).
Namun pada praktikum yang dilakukan menggunakan gabungan yaitu menghitung secara langsung dengan menggabungkan metode sebelumnya diantaranya metode jumlah, metode gravimetrik, dan metode volumetrik. Dengan menggunakan metode ini, maka kita melakukan semua metode baik itu dengan teknik pemindahan air, teknik penimbangan berat telur serta menghitung satu persatu-satu telur ikan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam rumus yang telah diterngkan sebelumnya.
Suandson (1949) menyatakan bahwa jumlah telur di dalam ovari ikan secara umum akan bertambah sesuai dengan pertambahan ukuran tubuhnya, dan perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telurnya. Semakin matang gonad ikan tersebut maka semakin besar pula diameter telur ikan itu.
Kemudian Effendie (1992) mengemukakan bahwa semakin berkembang gonad, telur yang terkandung didalam semakin membesar garis tengahnya, sbagai hasil dari pengendapan kuning telur, hidrasi dan pembentukan butir – butir minyak berjalan secara bertahap terliput dalam perkembangan tingkat kematangan gonad. Semakin meningkat tingkat kematangan diameter telur semakin membesar, sebaran diameter telur pada TKG akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.
4.2.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Setelah dilakukan pembedahan pada bidang abdominalnya, maka terdapat 5 jenis mikroorganisme yang dimakan oleh ikan lele ini antara lain yaitu Anabaeropsis raciborskii wal, Lyngbya spirulinoides Gom, Gomphosphaeria aponina Kg, Cylendrocystis brebissoni Menegh, Glococystus vesiculosa Naeg.
Dalam menganalisa isi lambung ikan serta mempelajari kebiasan makan ikan dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya yaitu dengan metode jumlah, metode frekwensi kejadian, metode perkiraan tumpukan dengan persen, metode volumetrik, metode gravimetrik dan metode gabungan.
Namun pada praktikum kali ini untuk melihat ataupun mempelajari kebiasaan makan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) dilakukan dengan menggunakan metode gabungan. Dimana metode jumlah ini dilakukan dengan jalan memperhitungkan individu organisme serta benda-benda lain yang terdapat di dalam alat-alat pencernaan makanannya, dengan menentukan Indeks Relatif penting (IRP). Apabila masing-masing jumlah sudah diketahui maka dapatlah dibandingkan yang satu dengan yang lainnya dan dapat ditarik kesimpulan dari macam-macam isi yang terkandung dalam alat pencernaan makanannya (Lagler. 1977).
Zonnefeld, Hiusman dan Bonn (1991) menyatakan bahwa panjang usus relatif tidak menunjukkan secara tepat tentang kebiasaan makan ikan. Walaupun usus relatif lebih panjang.
Menurut pendapat Bond (1979) yang menyatakan bahwa bentuk usus yang bergulung – gulung dimaksudkan untuk menambah masa penahanan dan pencernaan makanan yang sulit dicerna.
Asmawi (1983) menyatakan bahwa suatu makanan ikan minimal harus mengandung protein, karbohidrat, dan lemak. Ketiga zat tersebut masing – masing akan dirubah menjadi energi yang sangat diperlukan untuk melakukan aktivitas – aktivitas hidup dan biasanya ikan cenderung memilih protein sebagai sumber energi yang utama. Kualitas makanan baru dapat mempengaruhi pertumbuhan apabila jika makanan yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan berkualitas baik. Sebaliknya jika makanan yang tersedia dalam jumlah sedikit maka makanan tidak akan mempengaruhi dalam kecepatan pertumbuhan ikan.
4.2.5. Penentuan Umur Ikan
Dalam praktikum penentuan umur ikan ini, sampel yang digunakan dengan mengambil tulang otolith yang terletak dibagian dalam kepala ikan. Perhitungan umur ikan ini harus dapat dikatakan kurang berhasil dikarenakan garis-garis annulusnya kurang jelas dan terlalu rapat sehingga hanya dapat dibuat gambar otolithnya saja.
Panjang baku dihubungkan dengan panjang otolith, karena setiap pertambahan panjang baku maka panjang kepala akan bertambah sehingga pertumbuhan otolith akan bertambah juga. Tanda tahunan pada otolith ada yang dapat dibaca langsung dibawah mikroskop tetapi kebanyakan tidak, melainkan harus meratakan permukaan agar dapat dilihat dengan hasil yang baik.
Tanda tahunan terjadi karena adanya kelambatan pertumbuhan yang disebabkan oleh musim dingin atau kekurangan makanan atau faktor lain (Effendie, 1997)
Menurut Saanin (1984), karena satu jenis ikan berbeda besarnya disebabkan karena lebih umur atau keadaan tempat hidupnya, maka tidaklah mungkin memberikan ukuran bagian-bagian ikan sebagai tanda untuk identifikasi dalam ukuran mutlak; misalnya cm yang merupakan ukuran dalam mengidentifikasi. Kiemudian Effendie (1997) mengatakan pengukuran waktu yang baik sehubungan dengan pertumbuhan pada ikan adalah umur ikan tersebut. Bila umur ikan diketahui dengan tepat maka analisa pertumbuhan dapat dilkakukan dengan baik.
Cara lain untuk menentukan umur ikan dengan menggunakan mtode Petersen yaitu dengan menggunakan frekuensi panjang ikan. Ikan mempunyai satu umur tersendiri membentuk suatu distribusi normal. Sektor panjang rata-ratanya, bila frekuensi panjang tersebut digambarkan dengan grafik akan membentuk beberapa puncak. Puncak inilah yang dipakai tanda kelompok umur ikan. Untuk ikan yang lain masa pemijahan panjang menyebabkan terdapat pertumpuan ukur dari umur yang berbeda.
4.2.6. Mortalitas Ikan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya untuk melihat gejala yang timbul akibat pencemaran yang terjadi di suatu perairan digunakan sampel dimana bahan pencemar yang dipilih yaitu detergen sebanyak 60 gr dalam jangka waktu 45 menit sehingga dapat dilihat dengan jelas gejala – gejala yang timbul baik berupa gerakan ikan maupun gejala yang timbul pada permukaan tubuh ikan.
Pada ikan sample yang digunakan termasuk ikan yang tidak begitu kuat pertahanan tubuhnya karena tepat pada 45 menit terakhir ikan itu mati dan pada permukaan tubuhnya banyak terdapat lendir – lendir..
Dari hasil di atas ternyata ikan yang hidup pada suatu perairan ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan sekitarnya. Apabila lingkungan sekitar perairan tersebut tidak tercemar maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan berkembang dan tumbuh, namun sebaliknya apabila lingkungan perairan tersebut tercemar baik itu melalui industri dan bahan-bahan lainnya yang berasal dari rumah tangga seperti deterjan dan sebagainya maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan cepat mengalami kepunahan.
Moyle dan Cech (1988) mengatakan kepunahan populasi ikan yang hidup di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kepunahan dapat terjadi apabila kematian secara masal berkelanjutan sepanjang tahun dan dari tahun ke tahun. Faktor yang mendorong suatu populasi ikan cepat mengalami kepunahan antara lain :
Perburuan/penangkapan yang dilakukan berkelanjutan terhadap populasi ikan yang sedang melakukan ruaya pemijahan. Sehingga tidak bisa meneruskan regenerasi berikutnya.
Perburuan / penangkapan yang terus berkelanjutan pada jenis – jenis ikan tertentu yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di pasaran.
Pencemaran yang berkelanjutan pada lingkungan peraiaran yang tertutup
Perusakan lingkungan habitat tertentu seperti penimbunan atau pengeringan perairan rawa – rawa, pengeboran habitat karang dan penimbunan perairan danau-danau berukuran kecil.
Penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan menggunakan tuba atau putas pada lingkungan perairan yang tertutup dan terbatas.
4.2.7. Pendugaan populasi
Untuk memahami dinamika populasi kita harus memahami dulu tentang histori atau aspek –aspek biologi dari suatu spesies fauna serta memahami parameter dari populasi serta aspek – aspek yang berhubungan satu dengan lainnya.
Jumlah individu dalam populasi dari suatu spesies ikan di lingkungan perairan tertentu dalam hal ini benih ikan Patin yang dimasukkan ke dalam ember hitam, selalu berubah karena dipengaruhi banyak factor. Diketahuinya jumlah individu dalam suatu populasi dari setiap jenis fauna yang berada dalam perairan lingkungan tertentu maka akan dapat mendukung untuk mengetahui potensi suatu perairan tertentu, dengan diketahuinya jumlah individu dalam populasi dari spesies ikan yang bernilai ekonomis tinggi dari waktu ke waktu maka akan dapat diperkirakan berapa banyak individu dari spesies tersebut untuk di eksploitasi agar keberadaan populasinya di lingkungan perairan itu dapat dipertahankan (Pulungan, 2004).
Dalam pendugaan populasi dapat digunakan metode yaitu: secara langsung dan tidak langsung sedangkan dalam perhitungan populasi digynakan tiga metode yaitu: 1) Metode Petersen, 2) Metode Schumacher dan Eschemeyer, 3)Metode Zoe Scahnebel.
Dari sejumlah hasil ikan tangkapan kembali akan didapatkan pula ikan yang bertanda. Dengan demikian parameter yang akan didapatkan dalam sensus ini adalh jumlah ikan yang diberi tanda, jumlah ikan tangkapan untuk disensus jumlah ikan yang tertangkap ada tanda, populasi ikan pada waktu pemberian tanda (Effendie, 1979)
Pada praktikum Pendugaan populasi ini menggunakan 50 benih ikan Patin yang dimasukkan ke dalm ember hitam. Dilakukan penangkapan, dan ikan yang sudah tertangkap diberi tanda dengan pemotongan pada ekornya. Kemudian dilakukan penangkapan lagi, apabila ada ikan yang bertanda yang tertangkap di catat. Lalu data tersebut dihitung dengan menggunakan Metode Petersen, Metode Zoeschabel, Metode Schumacher dan Eschmeyer. Indeks bias masing – masing metode juga dihitung.
4.2.8. Larva Ikan
Sebelum embrio menetas, maka embrio akan sering merubah posisinya karena kekurangan ruang gerak di dalam cangkang, sehingga dengan adanya pergerakan tersebut bagian cangkang telur akan menjadi lunak dan akhir nya telur akan pecah. Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio akan dikeluarkan terlebih dahulu, sedangkan bagian kepalanya akan dieluarkan pada bagian akhir, karena bagian kepala ini paling besar jika dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya (Effendie, 1997).
Larva yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dengan ciri-ciri larva belum memiliki bukaan mulut, sirip belum terbentuk sempurna, membawa kuning telur sebagai cadangan maknan selama masa pro larva. Lamanya masa menjadi prolarva atau sampai habis kuning telur bervariasi untuk setiap spesies ikan, biasanya sekitar 3-7 hari. Cepat lambatnya habis cadangan makanan berupa kuning telur dapat dipengaruhi oleh : jumlah kuning telur yang dibawa telur, factor fisiologis selama masa embriologi, kondisi lingkungan seperti suhu perairan, dan sifat spesies itu sendiri. Sesudah habis cadangan makanan berupa kuning telur maka larva memasuki periode post larva dan pada saat ini bukaan mulut sudah terbentuk dan beberapa organ tubuh mulai terbentuk sempurna serta mulai difungsikan (Permana, 1987).
Individu ikan yang masih berada pada vase larva akan mengalami rona kehidupan yang penuh resiko atau merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupannya, karena pada masa ini individu ikan masih berada dalam fase peralihan dari bentuk yang primitif menjadi bentuk yang definitif.
Bentuk primitif yaitu sebagian organ-organ tubuhnya belum terbentuk secara sempurna dan belum dapat melaksanakan fungsinya secara baik. Sedangkan bentuk definitif adalah bentuk individu baru yang sudah memiliki bentuk tubuh secara sempurna dan semua organ tubuh telah berfungsi seperti pada kedua induknya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dengan diperolehnya data-data morphometrik dan meristik diketahui bahwa setia spesies ikan mempunyai ukuran tubuh yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dan juga didapat perbandingan antara panjang tubuh dengan panjang bagian tubuh lainnya. Kemudian dengan melakukan pendeterminasian untuk memperoleh data kita dapat menentukan spesies dari objek praktikum yang kita lakukan yang sering dikenal dengan pengidentifikasian.
Tingkat Kematangan Gonad (TKG) adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelumdan sesudah ikan memijah. Pengamatan tahap-tahap kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Pengamatan morfologi dapat dilakukan di laboratorium dan dilapangan, sedangkan histologi dilakukan dilaboratorium.
Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikali 100 %.
Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengruhi oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan faktor fisiologi tubuh.
Jumlah telur di dalam ovari ikan akan mengalami penambahan sesuai dengan pertambahan ukuran tubuh ikan tersebut dan perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telur yang semakin besar.
Keberadaan jenis makanan dan jumlah makanan yang tersedia diperairan sangat dipengruhi oleh faktor biotik dan abiotik pada perairan dimana tempat ikan itu hidup.
Dalam menentukan umur individu ikan dapat diamatiberdasarkan tanda-tanda tahunan (Annulus) yang dimiliki oleh ikan tersebut. Dengan mengamati sisik kunci, tulang vertebrae, tulang operculu, duri sirip dan tulang otolith.
Dari hasil yang termudah untuk mengetahui berapa umur suatu spesies ikan dapat dilihat dari lingkaran harian atau tahunan yang terdapat pada tulang otolith.
Pertumbuhan tulang otolith melalui permukaan dan endapan material suatu proses yang berhubungan dengan massa. Otolith tersusun dari kontraksi kalsium karbonat dalam bentuk organic dan berserat, kolagen yang menyerupai protein otolith.
Ikan yang hidup pada suatu perairan ditentukan dengan faktor-faktor lingkungan sekitarnya. Apabila lingkungan sekitar perairan tersebut tidak tercemar maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan berkembang dan tumbuh, namun sebaliknya apabila lingkungan perairan tersebut tercemar baik itu melalui industri dan bahan-bahan lainnya yang berasal dari rumah tangga seperti deterjan dan sebagainya maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan cepat mengalami kepunahan.
Ikan–ikan yang habitatnya terkena pencemaran akan mengalami kematian dengan memperlihatkan gejala – gejala yang ditimbulkannya seperti pergerakan ikan yang lambat ataupun hanya diam di dasar perairan dan terkadang bergerak sangat lincah dan pada permukaan tubuhnya banyak terdapat lendir. Mortalitas ikan sangat ditentukan oleh beberapa faktor misalnya suhu, makanan, letak lintang dan umur ikan tersebut.
Manfaatnya dalam penanganan populasi ini perlu diperhatikan parameter—perameter yang terdapat dalam populasi tersebut baik itu parameter pada individu ikan maupun parameter pada populasinya. Pemberian tanda pada ikan dapat dilakukan secara marking dan tagging. Marking adalah pemberian tanda pada tubuh ikan tetapi tidak menggunakan benda asing hanya memotong pada sirip perut ikan dan pemberian tato pada ikan tersebut sebagai tanda bahwa ikan tersebut telah diberi tanda. Sedangkan Pemberian secara tagging adalah dengan cara menempelkan benda asing ketubuh ikan (benda yang tidak berkarat, seperti : perak, almunium, plastik, ebonut dan selulloid.
Ikan yang baru keluar dari cangkangnya tergolong pada fase pro larva yaitu larva ikan yang masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur dan sebagian organ-organ tubuhnya belum terbentuk secara sempurna dan belum berfungsi. Setelah masa ini larva ikan memasuki fase post larva, dimana pada fase ini larva ikan sudah mulai kehilangan cadangan makanannya berupa kuning telur dan sebagian organ-organ tubuhnya sudah mulai terbentuk dan mulai difungsikan secara baik.
Cepat lambatnya habis cadangan makanan berupa kuning telur dipengaruhi oleh jumlah kuning telur yang tersedia di bawah telur, factor fisiologis selamam periode embriologis, kondisi lingkungan seperti suhu perairan, serta sifat spesies ikan itu sendiri.
5.2 Saran
Alat-alat praktikum saat ini sudah cukup tersedia, namun diharapkan untuk yang akan datang agar alat-alat praktikumnya bisa lebih dilengkapi agar lebih bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan dalam praktikum Biologi Perikanan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Gramedia, Jakarta. 82 hal.
Bagenal, t.b. and e. braum. 1967. Eggs and Early Life History. In W. E. Ricker (ed) Methode for Assesment of Fish Production In Freshwater, IPB Hanbook No. 3. International Biological Programme, London. P 166-198
Bailey, k. M. And e. D. Honde. 1989. Predation on Eggs and Larvae of Marine Fishes and the Recruitment Problem, In Marine Biology Vol 25 Ed. JHS Blaxter and Djajasewaka, h. 1985. Pakan Ikan. Jasaguna. Jakarta. 42 hal.Aj sout hward. Academic Press, p 1-83.
Klein. L. 1962. Rever Pollution II: Causes And Effecttens. Butterwouth and Cc. Ltd, London, 293 pp.
Bond, C.E. 1979. Bioloby Of Fishes. WB Saunders Company, London. 512p
Dahuri, R. 2002. Keanekaragaman Hayati Laut Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Damanik, Ningse. 2001. Inventarisasi Ikan Ordo Cypriniformes yang terdapat di Waduk Koto Panjang. Laporan Praktek Lapangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 27 hal. (tidak diterbitkan)
Dinas Perikanan Tingkat I Riau. 2001. Buku Tahunan Statistik Perikanan Provinsi Riau, Pekanbaru.
Djuanda T., 1981. Dunia Ikan . Armico . Bandung . 191 halaman
Effendie,M.I.,1992. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Agromedia. 112 hal
Effendie, M .I., 1978. Biologi Perikanan – bagian I : study Natural History. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, bogor. 105 hal (tidak diterbitkan).
Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri, Bogor. 112 hal .
Effendie, M. I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta. 163 hal .
Hardjamulia,A dan S, rabegnator,1991. Penelitian perikanan air tawar: Hasil dan dampaknya bagi pengembangan perikanan rakyat, hal 63-67.
Jhingran, V. 1975. Fish and Fisheries of India. Hindustan Publishing Corp (India) 6-U. B, Jawahar nagar, Delhi. 954 p.
Jones, R. E. 1978. The Vertebrata Ovary Comparative Biology and Evolution. University of Colombo. New york and London. 63 P.
Katrini, 1995. Tingkat Kematangan Gonad dan Perbandingan Jenis Kelamin Ikan Selais (K. apogon Blkr) yang tertangkap di sungai Kampar kiri, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten kampar. Skripsi Fakultas Perikanan. Universitas Riau. Pekanbaru. 61 hal (tidak diterbitkan)
Kottelat, M. Whitten. S.N. Kartikasari dan S. Wirjoatmodjo, 1993. Ikan- ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Jakrta. 243 hal
Klein. L. 1962. Rever Pollution II: Causes And Effecttens. Butterwouth and Cc. Ltd, London, 293 pp.
Krebs, C.J.1972. Ecology the Experimentel Analysis of Distribution and Abudance, Harper and Rowws. 694 p.
Lagler, K.F ; J. E. Badach; R.R Miller and D,R. Masyarakat Passino., 1977.Ichtiologi. Jonh Willey and Sons. Inc. Toronto, 506 p.
Lam, T. J. 1985. Induced Spawning in Fish. Oceanic Institut and Tungkang Marine Laboratory.
Manda, Ridwan. dkk. 2006. Kumpulan Istilah dalam Materi Kuliah Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Kelautan UNRI.
Morales. nin, B., 1992. Determination of Growth in Bony fisher from Otolith Microstructure. FAO Fisheries Tehnical Paper. 110.332, Rome 51 page.
Moyle, P.B. and J.J. CECH, 1988. Fisher and Introduction to Ichtiology, 2 edition, Prentice Hall. Englewood Cliffs, New Jersey. 559 p.
Mujiman, A. 1987. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. 239 hal
Nelson, 1984. Pengawetan Ikan dan Hasil Perikanan. CV, Aneka Solo, 169hal
Nelson, J. S. 1984. Fishes of the world 2nd edition. Jhon wiley and sons. New york, 524 P.
Nikolsky (1969). Tingkat Kematangan Gonad Pada Ikan Air Tawar
Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.
Paling. J.E. 1971. Causes of Mortality. In Metode for Assessment of Fish Production in Freshwater. ED. W. E. RICKER. IPB Handbook No. 3 Blackwell Scientific Publication. Oxford. 226-235.
Permana, E. 1987. Perkembangan Larva Ikan. Karya Ilmiah, Faperika IPB, Bogor (Tidak diterbitkan)
Pulungan, C. P. 1985. Morphometrik Ikan Selais Siluroidea dari perairan kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Pusat Penelitian UNRI, Pekanbaru. 54 hal (tidak diterbitkan)
Pulungan, 1990. Fekunditas dan Seberan Diameter Telur dari Beberapa enis Ikan Cyprinid dari Danau Lubuk Siam, Riau. Pusat Penelitian Universitas Riau, pekanbaru. 57 hal (tidak diterbitkan)
Pulungan. 2004. Hand Out Kuliah Mata Kuliah Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNRI. Pekanbaru.
Saanin, H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid 1 & 2. Bina Cipta. Jakarta.
Suandson, B. 1949. Natural Selektion and Eggs Fish Freshwater. Drottingholn. 115 :122 P
Syamsudin, A.R, 1980. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara, Jakarta.
Syandri, H. 1996. Aspek Reproduksi Ikan Bilih (Mystacoleusus padangensis Blkr) dan Kemungkinan Pembenihannya di Danau Singkarak. Tesis Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor 99 hal (tidak diterbitkan)
Tang, U. M. dan Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan, Penerbit Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan. Universitas Riau. Pekanbaru. 153 hal
Tee, G. A. C. 1982. Some Aspect of the Ecology of the Mangrove Forest of Sungai Buloh. Selangor II : Distribution Pattern and Population Dynamic of Three Dwelling Fauna. Malay. Nat. Jurn. 35 : 267 – 277.
Uktolseja, J.C.B dan Purwasamita, 1987. Fekunditas dan Diameter telur Ikan Cakalang (Katsuwanus pelamis lineus) di Perairan sekitar Ambon, Jurnal Penelitian Perikanan Laut, 44 – 76.
Weber dan Beaufort, 1931. The Fishes of Indonesia-Australia Archipelogo. Laiden.
Weber, M and L. F. De Beaufort, 1965. The Fishes Of The Indo Australian Archipelago III, Brill Ltd. Leaden. 455 p.
Yuniarti. R. 1995. Perkembangan Telur dan Fekunditas Ikan Selais Yang tertangkap di Sungai Kampar Kiri. Kecamatan Kampar Kiri. Kabupaten Kampar, Skripsi Fakultas Perikanan, Universitas Riau. Pekanbaru. 57 hal (tidak diterbitkan)
Znnofeld, N., E.A. Huisman dan J.H Bonn, 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan. Gramedia, Jakarta. 318 hal.
LAMPIRAN
Lampiran 4. Alat-alat yang digunakan dalam Praktikum
Baki Serbet
Pena Pensil
Penghapus Penggaris
Buku penuntun praktikum Laporan sementara
Jarum Mikroskop
Gunting Timbangan
Sartorius Cawan Petri
Gelas ukur Pipet tetes
Cawan Petri Ember
Saringan Toples
1.1 Latar Belakang
Perikanan adalah suatu usaha manusia untuk dapat memanfaatkan sumber daya hayati perikanan (baik nabati maupun hewani) sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil yang lebih baik dari pada dibiarkan tumbuh secara alami guna memenuhi kebutuhan manusia.
Ikan adalah salah satu diantara organisme pada kelompok vertebrata dan yang paling besar jumlahnya. Ikan mendominasi kehidupan di air seluruh permukaan bumi, sangat beragam dalam adaptasi morfologi, fisiologi dan tingkahlakunya. Jumlah spesies ikan yang telah berhasil dicatat adalh 21.000 spesies dan diperkirakan akan berkembang mencapai 28.000 spesies. Jumlah spesies yang hidup di muka bumi adalah 21.723 spesies, semantara jumlah spesies vertebrata yang ada di permukaan sekitar 43.173 spesies (Nelson, 1984).
Propinsi Riau memiliki keanekaragaman sumberdaya perikanan yang cukup besar baik itu perikanan air tawar maupun air laut. Ikan air tawar sebagian diproduksi dari hasil tangkapan diperairan umum, yaitu sekitar 13.807 ton atau sekitar 97,01 % dari potensi keseluruhan sebesar 14.232 ton/tahun yang telah dimanfaatkan. Sementara produksi perikanan dari hasil budidaya baru mencapai 3,1 % dari potensi yang ada sebesar 36.835 Ha (Dinas Perikanan Tingkat I Riau, 2001).
Dari jumlah tersebut antara satu spesies dengan spesies lainnya sudah tentu memiliki beberapa persamaan dan perbedaan. Saanin (1984) mengatakan bahwa untuk mengidentifikasi ikan harus diperhatikan tanda-tanda, bentuk dan bagian dari tubuh ikan yaitu rumus sirip,perbandingan panjang dengan tinggi, bentuk garis rusuk dan jumlah sisik yang meliputi garis rusuk tersebut, bentuk sisik dan gigi beserta susunannya, tulang-tulang insang. Oleh karena satu macam ikan berbeda besarnya disebabkan oleh umur atau kadang-kadang oleh tempat hidupnya, maka tidak mungkin memberikan ukuran, ukuran yang diberikan hanyalah perbandingan saja.
Pengetahuan tentang kehidupan ikan terdapat dalam ilmu Biologi Perikanan yang merupakan ilmu untuk mempelajari ikan secara ilmiah, namun penekanan dan tinjauannya mengenai ikan sebagai sumber yang dapat dipanenen oleh manusia. Biologi perikanan mencakup ikan dimana penekanannya terhadap spesies penting sebagai sumberdaya, spesies lain dalam komunitas itu dipelajari juga tetapi yang diindahakan kemungkinan pengaruhnya terhadap spesies yang penting.
Jadi ruang lingkup biologi perikanan akan menjadi lebih jelas apabila diperhatikan prinsip–prinsip pengelolaan perikanan seperti telah dikemukakan diatas, dimana biologi perikanan diperlukan untuk melengkapi bimbingan dalam pengelolaan. Dalam laporan ini dibahas beberapa aspek yang dipelajari dalam biologi perikanan yang sangat penting untuk diketahui dan di pelajari mahasiswa perikanan.
Penampakan ciri–ciri seksual ini pada beberapa spesies ikan baru nyata apabila individu ikan sudah mengalami matang gonad (kelamin), akan tetapai pada beberapa spesies ikan lainnya ciri-ciri seksual itu dapat terlihat dengan jelas walaupun individu ikan tersebut belum matang gonad ataupun sudah selesai mijah. Ini dapat diketahui dengan melihat organ reproduksi atau cirri-ciri pada permukaan tubuhnya. Dengan dikenalinya penampakan ciri–ciri seksual dari setiap individu pada spesies ikan maka akan sangat membantu bagi orang–orang yang berusaha di bidang budidaya perikanan dan juga para peneliti di bidang biologi perikanan.
Sedangkan penentuan jenis kelamin ikan dapat dilakukan dengan memperhatikan ciri seksusl pimer (dengan cara membedah bagian abdominal tubuh ikan dan dilihat bentuk gonad nya, apakah ovari atau testes) dan ciri seksual sekunder, meliputi seksual dimorphisme (memperhatikan benda–benda yang terdapat pada tubuh ikan, atau morphologi) dan seksual dichromatisme (memperhatikan warna yang terdapat pada tubuh dan bagian–bagian tubuh ikan).
Oleh karena itu sangat diperlukan pengetahuan tentang tingkat kematangan gonad dari setiap individu ikan sehingga membantu mereka yang berkecimpung di bidang budidaya perikanan dan biologi perikanan untuk menghitung jumlah ikan dewasa yang siap bereproduksi dan memijah, kapan mereka akan memijah dan bertelur serta kapan dan berapa telur yang akan dibuahi dan menetas serta perbandingan antara ikan yang belum matang gonad dengan yang sudah matang, ikan yang belum dewasa dengan yang sudah dewasa dan ikan yang belum bereproduksi dengan yang sudah.
Sumantadinata (1983) menyatakan gonad ikan adalah sebagai kelenjar biak. Gonad ikan betina dinamakan ovari dan gonad ikan jantan dinamakan testes. Ovari dan testes ikan dewasa biasanya terdapat pada individu yang terpisah, kecuali pada beberapa ikan, kadang-kadang gonad jantan dan betina ditemukan dalam satu individu (ovotestes).
Tingkat kematangan Gonad adalah tahap tertentu gonad sebelum dan sesudah ikan itu memijah. Pulungan et. al (2005) menjelaskan bahwa tahap-tahap perubahan perkembangan gonad dari suatu individu ikan adalah sangat penting. Data perkembangan gonad dapat dibandingkan antara ikan yang belum dan yang sudah dewasa, antara ikan yang sudah matang gonad dan yang belum, antara yang akan bereproduksi dengan yang sudah bereproduksi serta dapat diketahui pada ukuran berapa individu dari spesies ikan itu pertama kali mengalami matang gonad dan memijah.
Kematangan gonad dari suatu spesies ikan ada kaitannya dengan pertumbuhan ikan itu sendiri dan faktor lingkungan. Sehingga tahap–tahap perubahan perkembangan gonad dari suatu individu lainnya adalah pengetahuan yang penting sekali dalam biologi perikanan. Gonad sebagai penentu jenis kelamin ikan atupun hewan aquatik lainnya akan memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi. Hal itu sesuai dengan kapasitas rongga yang tersedia dan bentuk tubuh ikan itu sendiri.
Pengetahuan tentang fekunditas dalam bidang budidaya perikanan sangat penting artinya untuk memprediksi berapa banyak jumlah larva / benih yang akan dihasilkan jika individu ikan mijah didalam biologi perikanan adalah untuk memprediksi berapa jumlah stok suatu populasi ikan yang hidup di suatu lingkungan perairan.
Secara garis besar susunan saluran penernaan pada ikan terdiri dari mulut, oseaphagus, lambung, intestenum, anus. Di dalam mulut ikan terdapat gigi yang berperanan membantu mendapatkan makanan sama juga halnya dengan bentuk dan ukuran lambung serata intestenum yang dimiliki setiap jenis ikan bervariasi, maka menyebabkan setiap spesies ikan cara mengambil makanan nya juga bervariasi.
Makanan dapat merupakan faktor menentukan populasi dan pertumbuhan. Jenis makanan suatu spesies ikan tergantung pada umur dan waktu (Effendie, 1979). Dari banyaknya ikan yang hidup pada daerah ini, maka setidaknya para ilmuwan yang bergerak dalam bidang biologi perikanan meneliti jenis makanan apa yang dimakan oleh ikan tersebut atau yang sering kita sebut dengan menganalisa isi saluran pencernaannya. Pencernaan adalah proses penyederhanaan makanan melalui mekanisme fisik, kimiawi sehingga makanan menjadi bahan yang mudah diserap dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui sistem peredaran darah.
Uktolseja dan Purwasamita (1987) mengemukakan bahwa pengetahuan mengenai fekunditas merupakan tahap yang penting untuk mengetahui dinamika populasi dan pada akhirnya dapat memperkirakan populasi ikan yang memijah jika telah dapat ditentukan jumlah telur yang dihasilkan setiap tahunnya dan perbandingan ikan jantan dan betina dalam populasi tersebut. Nilai fekunditas suatu spesies ikan dalam bidang akuakultur berperan untuk memperkirakan jumlah anak–anak ikan yang akan di hasilkan pada setiap kali pemijahan.
Kemampuan untuk menentukan umur dari suatu individu ikan adalah suatu pengetahuan yang penting dalam bidang biologi perikanan. Usaha untuk mempelajari penentuan umur suatu individu telah dimulai beberapa ratus tahun yang lalu. Penentuan umur ikan dapat dilakukan melalui dua cara yaitu mempelajari tanda tahunan yang ada pada tubuh ikan serta dengan cara frekuensi panjang. Bagian – bagian tertentu dari tubuh ikan yang memiliki tanda–tanda tahunan adalah Tulang Vertebrae, Tukang Overculum, Duri sirip dan Tulang otolith.
Dengan diketahuinya umur suatu individu ikan dari suatu spesies ikan maka kita akan dapat mengetahui pada umur berapa pertama kali ikan belajar mencari makan sendiri di alam, mencari makanan sesuai dengan kebiasaan kedua induknya, dan kapan ikan tersebut matang gonad.
Pendugaan populasi pada ikan dapat digunakan sebagai parameter populasi, jumlah individu ikan di dalam populasi dari suatu spesies ikan di lingkungan parameter tertentu selalu berubah karena dipengaruhi oleh banyak factor, dengan mengetahui keberadaan jumlah individu ikan di dalam suatu perairan maka akan dapat mendukung untuk mengetahui potensi di lingkungan perairan tersebut.
Populasi ikan disuatu perairan sangat penting untuk diketahui karena dengan mengetahui jumlah polasi disuatu perairan maka kita akan mengetahui batas tangkap ikan yang boleh diambil agar tidak terjadi over fishing yang lama kelamaan akan menyebabkan kepunahan pada ikan–ikan yang ada, di perairan seperti kita ketahui bahwa kebutuhan gizi dari ikan lama–kalamaan semakin meningkat, dengan mengetahui pendugaan popalsi suatu perairan kita juga dapat mengetahui pada daerah mana yang terdapat banyak ikan namun kita tidak mengambilnya melebihi batas maksimum ikan yang boleh ditangkap agar kelestarian ikan diperairan tetap selalu terjaga.
Telur-telur ikan yang telah dibuahi maka di dalam telur ikan itu akan terjadi proses embriologis hingga terbentuknya individu ikan lalu menetas dan keluar dari cangkang telur. Lamanya proses inkubasi yang terjadi pada telur – telur yang dibuahi bervariasi antara spesies ikan yang satu dengan spesies ikan lainnya, karena dipengaruhi oleh kondisi perairan lingkungan dan kandungan kuning telur yang terdapat dalam telur itu sendiri.
Larva yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dimana pada massa ini larva masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur dan organ-organnya belum terbentuk sempurna. Sesudah habis cadangan makanan berupa kuning telur maka larva akan memasuki periode postlarva dan pada saat ini beberapa organ tubuh sudah mulai terbentuk senpurna serta mulai difungsikan (Pulungan et al, 2005).
1.2 Tujuan dan Manfaat
Biologi perikanan dipelajari untuk mengetahui aspek–aspek perikanaan dan juga untuk menegetahui sebagaimanan sumberdaya yang dapat dipanen oleh manusia, serta merupakan suatu usaha agar orang yang mempelajarinya mengerti dan memahami sumberdaya perikanan serta bagaimanan pemanfaatan sumberdaya tersebut secara optimum dan membuat rekomendasi dalam pemanfaatan serta perbaikananya.
Manfaat yang diperoleh dari biologi perikanan ini adalah kita dapat mengetahui aspek–aspek biologi perikanan, dan mengetahui aplikasi pengetahuan biologi perikanan, dimanan pengelolaan perikanan ini berhubungan dengan sumberdaya masyarakat.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengenalan Jenis Ikan dan Identifikasi
Jumlah spesies ikan yang telah berhasil diidentifikasi para ahli Ichthyologi ada sekitar 20.000-40.000 spesies. Puluhan spesies diantaranya telah memiliki varietas atau strain yang mencapai puluhan dan ratusan varietas. Terutama sekali ikan yang telah berhasil dibudidayakan dan telah popular didunia sebagai ikan hias (Pulungan et.al., 2004).
Untuk mengenal secara jelas jenis ikan yang diamati dan dapat diketahui secara pasti nama spesies ikan yang diamati maka terlebih dahulu perlu dilakukan pendeterminasian agar didapatkan data meristik dan morphometriknya (Pulungan et.al., 2004).
2.2. Seksualitas Ikan
Saanin (1986) Mengklasifikasikan ikan Motan yaitu termasuk Kelas Pisces, Ordo Ostariophysi, Sub Ordo Cyprinoidea, Family Cyprinidae, Sub Famiily Cyprininae, Genus Thynnichthys dan termasuk kedalam species Thynnichthys thynnoides.
Ciri – ciri dari ikan motan adalah badan berbentuk compresed dan panjang mulut terminal dan protactile. Tidak bersungut dan mulut sempit, bibir tebal, posisi sirip perut terhadap sirip dada adalah abdominal, jumlah jari – jari sirip punggung dengan rumus D.8 dada P. 13, perut V. 12 anus A. 5. 59 sisik pada gurat sisi, 13 sisik antar sirip punggung dan gurat sisi, 11 antar sirip anus dengan gurat sisi. Batang ekor dikelilingi 22 sisik, ekor bercagak, warna badan putih mengkilat agak gelap dibagian punggung, garis linnea lateralis sempuran, sisik halus (Kottelat, et. al 1993).
Gambar 1. Morfologi Ikan Motan (Thynnichthys thynnoides)
Seksual dichromatisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu individu ikan merupakan ikan jantan atau betina berdasarkan warna yang dimiliki tubuh dan organ pelengkap lainnya. Sedangkan seksual dimorphisme adalah suatu cara untuk membedakan suatu ikan jantan atau betina berdasarkan morphometrik yang dimiliki seperti ukuran tubuh atau bentuk sirip punggung (Manda Putra, 2006)
Beberapa jenis ikan juga memiliki dua alat kelamin pada tubuhnya yang sering disebut dengan ikan hermafrodit. Ikan hermafrodit dibagi menjadi tiga bagian yaitu hermafrodit sinkroni, hermafrodit protandri, dan hermafrodit protogini. Hermafrodit sinkroni yaitu apabila di dalam gonad individu terdapat sel sex betina dan sel sex jantan yang dapat masak bersama-sama, misalnya pada ikan famili Serranidae. Hermafrodit protandri yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase jantan ke fase betina, misalnya pada ikan Kakap (Lates calcarifer). Sedangkan ikan hermafrodit protogini yaitu ikan yang dalam tubuhnya mempunyai gonad yang mengadakan proses diferensiasi dari fase betina ke fase jantan, misalnya pada ikan belut sawah (Monopterus albus) (Effendie Ichsan, 2002)
Selain hermafroditisme, pada ikan juga terdapat Gonokhorisme, yaitu kondisi seksual berganda dimana pada ikan bertahap juvenile gonadnya tidak mempunyai jaringan yang jelas status jantan dan betinanya. Gonad tersebut akan berkembang sebagian menjadi ovarium dan sebagian lagi menjadi testes tapi tidak terjadi masa diferensiasi atau intersex yang spontan. Misalnya pada ikan Anguila anguila dan Salmo gairdneri irideus adalah gonokhoris yang tidak berdeferensiasi.
Faktor yang mempengaruhi komponen reproduksi atau kematangan gonad diantaranya umur dan fisiologi induk ikan itu sendiri. Secara umum spesies ikan dari ukuran ,maksimum terkecil dan mempunyai siklus hidup yang pendek, mencapai kematangan gonad pada usia lebih muda dari pada spesies ikan maksimum besar Lagler et,al.,(1977).
Effendi (1992) pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/gamet.
2.3. Tingkat Kematangan Gonad
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat ditubuh ikan jantan disebut testis berfungsi menghasilkan spermatozoa, sedangkan gonad yang terdapat dalam ikan betina dinamakan ovari berfungi menghasilkan telur (ovum) (Pulungan, 2004).
Menurut Pulungan (2005) pengamatan tentang tahap-tahap kematangan gonad ikan dapat dilakukan secara morfologi dan secara histologi. Pengamatan secara morphologi dapat dilakukan di lapangan dan di laboratorium, sedangkan pengamatan secara histologi hanya dapat dilakukan di laboratorium dan sangat memerlukan peralatan yang canggih serta teliti dan memerlukan dana yang cukup besar. Bila pengamatan dilakukan pada testes maka yang diamati adalah bentuk testes dan kedua sisinya, ukuran (panjang dan diameter ) testes, perbandingan panjang testes dan rongga tubuh, warnanya serta pembuluh darah pada permukaan testes. Demikian juga halnya bila pengamatan dilakukan pada ovari tetapi yang perlu diamati lagi adalah diameter beberapa butir telur.
Rahardjo (1980) saat pertama ikan mempunyai kemampuan bereproduksi (kematangan seksual ) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Terdapat perbedaan antara masing-masing spesies pada umur dan ukuran yang sama. Secara umum dapat dikatakan bahwa ikan-ikan yang mempunyai ukuran maksimum kecil dan jangka waktu hidup yang pendek akan mencapai kedewasaan pada umur yang lebih muda daripada ikan yang mempunyai ukuran maksimum lebih besar.
Tang (2000) pematangan gonad untuk merangsang proses perkembangan telur sangat penting pada kegiatan budidaya ikan. Karena salah satu masalah utama yang dihadapi dalam produksi benih secara buatan adalah minimnya ketersediaan induk matang gonad. Induk matang gonad dapat diperoleh atau dipacu dengan berbagai cara misalnya dengan memanipulasi faktor lingkungan, makanan dan penggunaan hormon.
Lam (1985) menyatakan proses pembelahan sel-sel bakal telur secara mitosis sampai oosit primer atau fase pembentukan folikel dapat dipercepat dengan mengoptimalkan kondisi lingkungan misalnya suhu, periode cahaya dan penggunaan makanan berprotein tinggi dengan penambahan vitamin E, C atau asam lemak esensial untuk proses vitelogenesis karena dikendalikan oleh kelenjar hypofisa dan estrogen. Maka fase ini sering digunakan hormon-hormon tertentu untuk mempercepat pematangan.
Nikolsky (1969) menggunakan tanda utama untuk membedakan kematangan gonad berdasarkan berat gonad. Secara alamiah hal ini berhubungan dengan ukuran dan berat tubuh ikan keseluruhannya tanpa berat gonad. Perbandingan antara berat gonad dengan barat tubuh, Nikolsky menamakannya “coefficient kematangan” yang dinyatakan dalam persen.
Menurut Effendie (1999) mengatakan bahwa ciri induk ikan betina yang telah matang gonad dapat dilihat dari bentuk perut sangat lembut, dapat juga dengan mengurut perut ikan tersebut. Bila telur yang keluar secara pengurutan berbentuk bulat utuh, berwarna agak kecoklatan maka induk dalam kondisi siap pijah. Pada gonad ikan jantan dapat dilihat dari papilla genitalnya yang terletak dibelakang dan mendekati sirip anus, berwarna merah dan menyebar kearah pangkalan, makan ikan tersebut telah matang kelamin.
Menurut Trenggana (dalam Yuniarti, 1995) bahwa seksualitas, indeks kematangan gunad, tahap kematangan gonad, dan fekunditas sangat berperan dalam proses reproduksi. Dengan mengetahui hal tersebut dapat diperoleh antara lain, yaitu pada umur berapa suatu spesies ikan akan mulai memijah, apakah induk-induk ikan sudah memijah atau belum, banyaknya ikan-ikan tertentu serta frekuensi dan lama pemijahan.
Lagler et al., (1977) melaporkan bahwa tingkat kematangan gonad ialah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Semakin meningkat kematangan gonadnya, telur dan sperma ikan semakin berkembang. Garis telur pada ikan semakin besar pula, ukuran, berat gonad dan garis tengah telur bervariasi sesuai dengan kondisi tingkat kematangan gonad ikan betina.
Terjadinya perbedaan awal mula suatu individu ikan mengalami matang gonad disebabkan oleh umur, ukuran dan faktor fisiologis ikan itu sendiri (Pulungan, 1990)
Effendie (1978) mengemukakan bahwa Indeks Kematangan Gonad antara satu spesies ikan dengan spesies lainnya akan saling berbeda. Hal ini disebabkan karena indeks kematangan gonad suatu spesies ikan dipengaruhi oleh berat gonad dan berat tubuh ikan itu sendiri. Selanjutnya dia menambahkan pada ikan betina nilai Indeks kematangan gonad lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan dan ikan dengan indeks kematangan gonad 19 % ada yang sanggup mengeluarkan telur.
2.4. Fekunditas dan Diameter Telur
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang akan dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur-telur yang kan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1978)
Menurut William (dalam Jones, 1978) fekunditas sangat tergantung pada suplai makanan, terutama untuk mempertahankan musim pemijahan dan ukuran tubuh ikan betina. Selain itu, ikan-ikan yang hidup di sungai mempunyai hubungan dengan tinggi air. Apabila sampai pada tahun-tahun tertentu permukaan air sungai selalu tinggi, fekunditas ikan tinggi pula, bila dibandingkan dengan tahun lain yang permkaan airnya rendah. Kejadian yang sama dapat terjadi pula untuk ikan-ikan yang hidup di rawa, karena sering pula permukaan air rawa dari tahun ke tahun tidak sama sebagai akibat pemasukan air yang tidak tetap (Effendie, 1978)
Umumnya fekunditas realtif lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relatif maksimal dijumpai pula pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky dalam Effendie, 1978). Selanjutnya Effendie (1978) mengemukakan bahwa kapasitas reproduksi dari pemijahan populasi tertentu untuk mengetahui harus menggunakan fekunditas pipulasi relatif. Fekunditas ini dapat berbeda dari tahun ke tahun karena banyak individu yang memijah tiap-tiap tahun.
Untuk mengetahui penyebaran diameter telur dilakukan pengukuran diameter telur dengan mengambil butiran pada bagian anterior, tengah, dan posterior pada ovarium sebelah kanan dan kiri. Serta perkembangan telur ditandai denganukuran diameter telurnya. (Uktoseja dan Purwasasmita, 1987).
Untuk menghitung telur ada beberapa metoda yang dapat digunakan. Setiap metoda memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu sebelum memutuskan untuk memilih metoda dalam menghitung nilai fekunditas ikan harus dikenali dengan baik sifat dari setiap spesies ikan yang diteliti agar pada pelaksanaan menghitung nilai fekunditas ikan tidak terjadi kesalahan (Pulungan, 2005).
Ikan-ikan yang tua dan besar ukurannya mempunyai fekunditas relative yang lebih kecil. Umumnya fekunditas relative lebih tinggi dibandingkan dengan fekunditas individu. Fekunditas relative akan menjadi maksimum pada golongan ikan yang masih muda (Nikolsky,1969)
Fekunditas merupakan salah satu fase yang memegang peranan penting untuk melangsungkan populasi dengan dinamikanya. Dari fekunditas kita dapat menaksir jumlah anak ikan yang dihasilkan dan akan menentukan jumlah ikan dalam kelas umur yang bersangkutan. Fekunditas adalah semua telur – telur yang akan dikeluarkan pada waktu pemijahan (Effendie, 1979).
2.5. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Ikan lele dumbo ini termasuk ke dalam Phylum Chordata, Subphylumnya Craniata, Superkelas Gnathostomata, Kelas Pisces, Subkelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siluroidea, Famili Clariidae, Genus Clarias, dan Spesiesnya adalah Clarias gariepinus (Saanin, 1986)
Gambar 2. Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Menurut Suyanto, S.R., (1993) dan Nijayanti (1992) ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) memiliki bentuk tubuh pipih dengan kepala picak, banyak memiliki lendir, mulutnya lebar dan mempunyai 4 macam sungut, insangnya berukuran kecil, dan terletak pada bagian belakang, dibagian atas rongga pernafasan terdapat alat pernafasan tambahan yang berbentuk seperti batang pohon dan penuh dengan kapiler-kapiler darah. Ikan lele dumbo merupakan jenis ikan air tawar yang baru dibudidayakan di Indonesia. Kendungan protein ikan lele dumbo mencapai 37 %.
Suyanto (1986) mengemukakan Lele Dumbo merupakan hasil persilangan antara betina asli Taiwan (Clarias fucus) dengan lele jantanasal afrika (Clarias mussmbicus). Keadaan morfologi ikan tersebut badan tidak bersisik, ukuran perbandingan panjang batok kepala dibandingkan panjang badan adalah 1:5. lele dumbo ini mirip dengan Clarias mussambicus dilihat dari perbandingan batok kepala. Warna tubuh gelap pada bagian punggung dan sisi tubuh. Mulutnya lebar dan terdapat delapan buah sungut nasal, maxilari, mandibula dalam dan luar yang terletak berdekatan dengan sungut nasal, oleh karena itu penglihatan baginya kurang penting. Memiliki sirip tunggal dan ganda, pada pektoral terdapat duri yang kuat dan tidak beracun. Memiliki alat pernafasan tambahan yang disebut arborescen.
Ikan lele dumbo sejak tahun 1986 sudah populer di Indonesia. Jenis ikan lele ini di introduksi ke Indonesia dari negara Taiwan, tepatnya pada bulan Nopember 1986 dengan nama populernya King catfish yang berarti raja ikan lele (Suyanto, 1993). Pada mulanya nama ilmiah ikan lele dumbo adalah Clarias fuscus dan kemudian diganti menjadi Clarias gariepinus. Penggantian nama ini berdasarkan atas sifat – sifat induk jantan yang dominan diturunkan kepada anaknya. Dari hasil penyilangan itu ternyata keturunan ikan lele dumbo yang dihasilkan mempunyai sifat – sifat yang unggul.
Mujiman (1987) mengemukakan bahwa urutan saluran pencernaan ikan terdiri dari mulut, kerongkomgan, esofagus, lambung, usus sampai anus. Kemudian Ichwan (1997) yang mengatakan bahwa kualitas dan kuantitas makanan ikan juga tergantung pada ukuran makan yang cocok untuk mulut ikan.
Pada umumnya esofagus ikan pendek dan bisa membesar agar makanan yang agak besar dapat ditelan, dinding – dinding esofagus dilengkapi dengan lapisan otot circular dan memanjang. Pada ikan – ikan tertentu esofagus bersambung dengan usus. Lalu ditambahkan lambung berfungsi untuk menyimpan makanan melalui proses pencernaan dengan mencampurkan bahan makanan yang ditelan dengan lelehan gastrik.(Bond ,1979)
Usus merupakan segmen terpanjang dari saluran pencernaan. Menurut Affandi et al (1992), panjang usus sangat bervariasi dan berhubungan erat dengan kebiasaan makan ikan.
Kebiasaan makan ikan (food habits) adalah kualitas dan kuantitas makanan yang dimakan ikan. Kebiasaan makan ikan diperlukan untuk mengetahui gizi alamiah ikan tersebut sehingga dapat dilihat hubungan ekologi diantara organisme diperairan itu, misalnya bentuk – bentuk pemangsaan, saingan dan rantai makanan. Jadi makanan dapat merupakan faktor yang menentukan bagi populasi pertumbuhan dan kondisi ikan. Jenis makanan dari spesies ikan biasanya tergantung umur, tempat dan waktu (Effendie, 1979).
2.6. Penentuan Umur Ikan
Ikan selar tergolong kedalam kelas Osteichtyes, subordo Percomorphi, sub ordo Percoidea, Divisi Perciformes, famili Carangidae, genus Caranx dan spesies Caranx leptolepis (Saanin, 1984)
Gambar 3. Morfologi Ikan Selar (Caranx leptolepis)
Ikan Selar Kuning tergolong ikan pelagis yang suka bergerombol (schooling) ikan ini berkerabat dengan ikan pelagis lainnya seperti golongan famili scombridae, clupeidae dan golongan ikan pelagis lainnya. Ikan Selar Kuning hampir serupa dengan ikan selar biasa dan selar mata besar yang menjadi ciri khas dari ikan ini adalah garis pewarnaan yang berwarna kekuningan mulai dari bagian abdominal sampai pada bagian batang ekor.
Pada bagian otak ikan ini terdapat tulang otholit yang mampu merekam segala aktivitas kejadian yang dialami oleh ikan ini semasa hidupnya. Suku besar ikan yang terutama hidup di laut dikenal dengan nama kuweh, angara atau selar. Hidup di laut kawasan sedang dan tropis. Bentuk badannya bervariasi tetapi kebanyakan memiliki barisan sisik berduri sepanjang batang ekor (Kottelat et al, 1993). Menurut (Djuhanda, 1981), ikan selar tergolong kedalam keluarga carangidae. Tubuh dari ikan ini bentuknya ada yang sedikit gepeng, ada yang lonjong dan ada juga yang tinggi.
Umur merupakan salah satu penduga terbaik dalam menentukan tingkat pertumbuhan relatif pada ikan, walaupun pertumbuhan sebenarnya sangat dipengruhi oleh faktor-faktor lingkungan (Moyle dan Cech, 1988).
Selanjutnya Effendie (1992) menjelaskan tanda tahunan pada tubuh ikan tercatat pada sisik, tulang oprculum, duri sirip punggung atau dada, tulang punggung otolith (batu telinga). Hoffbaur (dalam Effendie, 1992) juga menerangkan bahwa tanda tahunan yang terdapat pada sisik dikenal dengan annulus.
Otolith terbentuk dari kalsium karbonat yang mengeras didalam saluran kanal dari sirkulasi pada tulang ikan yang menonjol, berperan membantu dalam keseimbangan dan menanggapi bunyi (Victor, 1982).
Sebagian diatom berbeda nyata pada diatom morfologi otolith yang terjadi diantara ikan-ikan bertulang sejati yang memberi kesan bahwa otolith ini mempunyai peranan penting untuk pendengaran. Otolith terutama tambahan dari kristalisasi kalsium karbonat, dalm bentuk magnetik dan berserabut. Kolagen yang mempunyai protein otoline (Morals.nin, 1992)
Pertumbuhan otolith mempunyai permukaan dan endapan material, suatu proses yang berhubungan dengan masa peredarannya bergantung pada laju dalam metabolisme kalsium dan pada asam amino sintesis. Hasil tersebut merupakan formasi tambahan dari pertumbuhan harian dalam otolith tersebut, tersususn secara kontingen atau penambahan unit dan suatu unit pengawasan (Morales.nin, 1992).
Penelitian tentang umur dari suatu individu ikan yang berasal dari perairan sudah dilakukan sekitar 100 tahun yang lalu (Ricker dalam Pulungan, 2006). Untuk menentukan umur suatu individu ikan maka kita dapat juga melihat pada bagian-bagian tubuh yang keras. Bagian-bagian tubuh yang keras untuk pembacaan umur suatu individu ikan tersebut menurut (Lagler et al dalam Pulungan, 2006) yaitu sisik kunci, tulang vertebrae, tulang operculum, pangkal duri sirip dada, dan tulang otholit.
Sisik kunci pada ikan bersisik cycloid terletak di atas garis linea lateralis 3 baris sisik di depan pangkal dasar sirip punggung bagian depan dan pada ikan bersisik ctenoid terletak di bawah garis linea lateralis di belakang ujung dasar sirip dada. Arah ke posterior tubuh. Tulang otholit terletak di bawah otak, berjumlah sepasang.
2.7. Mortalitas Ikan
Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan lele dumbo ke dalam kelas Pisces, Sub kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siliraodae, Family Clariidae, Genus Clarias, Spesie Clarias gariepinus.
Gambar 4. Morfologi Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Ciri – ciri bentuk ikan lele menurut Weber dan Baufort (dalam Pulungan, 2005) adalah sebagai berikut badan memanjang, tidak bersisik, tidak bersirip lemak dan kepala gepeng, sirip punggung (D) 60 – 70. panjang nya hampir mencapai pangkal sirip ekor. Sirip dada (P) I,8 – 11, jari – jari keras sirip dada licin dan sedikit bergerigi dan tidak tajam. Sirip perut (V) 6, sirip anus (A) 47 – 58. warna tubuh bagian atas gelap, daerah perut dan sisi bawah kepala terang, kadang – kadang terdapat baris bintik – bintik terang sepanjang sisi badan dan ekor.
Perubahan jumlah individu dalam populasi dari suatu spesies ikan dapat berubah – ubah dari waktu ke waktu. Terjadinya perubahan itu dipengaruhi oleh keberhasilan atau kegagalan produksi selanjutnya dapat mempengaruhi rekuitment ke dalam populasi ikan yang telah ada. Selain itu juga dipengaruhi oleh angka mortalitas yang terjadi. Angka mortalitas agak sukar untuk ditetapkan karena banyak factor yang mempengaruhi ( Bailey,.k.m. And e.d. Honde,1989)
Bailey,.k.m. And e.d. Honde. (1989) menyatakan bahwa penyebab kematian indivu ikan secara masal yang berada di suatu habitat tertentu adalah predasi, penyakit, pencemaran, pemusnahan secara fisik oleh mesin atau manusia dan gejala alam. Sedangkan penyebab kematian yang pengaruhnya tidak langsung kepada individu antara lain makanan, kondisi lingkungan yang kurang menyenangkan, beberapa jenis parasit dan tekanan sosial.
Pencemaran didefenisikan sebagai dampak negatif (pengaruh yang membahayakan) bagi kehidupan biota, sumber daya, kenyamanan ekosistem, serta kesehatan manusia, dan nilai guna lainnya dari ekosistem, baik disebabkan secara langsung maupun secara tidak langsung oleh pembuangan bahan-bahan atau limbah ke dalam perairan yang berasal dari kegiatan manusia. (Dahuri, 2002)
Klein (1962) Mengemukakan bahwa pencemaran air dapat disebabkan oleh padatan maupun cairan, pencemaran dalam bentuk cair ditentukan oleh bahan tersuspensi atau bahan terlarut didalamnya seperti Peptisida, Randap, selanjutnya dikatakan pula penyebab utama pencemaran air oleh limbah cair yang berasal dari limbah industri, pemukiman dan pertambangan.
Menurut Djajasewaka (1985), kematian individu ikan di dalam populasi pada habitat tertentu dapat terjadi mulai dari telur ikan yang baru dilepas ke perairan atau yang telah dibuahi, di masa larva, ikan dewasa dan ikan yang tua siap untuk mati secara alami.
Menurut Paling (1971), sebagian besar bahan pencemar yang ditemukan di perairan berasal dari kegiatan manusia. Pada umumnya bahan pencemar tersebut berasal dari berbagai kegiatan industri, pertanian dan rumah tangga.
Salah satu sumber bahan pencemar yang berasal dari limbah pertanian adalah DDT yang terkandung dalam Roundoup. Secara umum dampak negatif dari pemakaian pestisida maupun insektisida sintesis adalah : 1) pencemaran air dan tanah yang akhirnya akan kembali lagi kepada manusia dan makhluk hidup lainnya dalam bentuk makanan dan minuman yang tercemar. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida sintesis, residunya dapat bertahan di tanah dan air hingga puluhan tahun; 2) matinya musuh alami dari organisme pengganggu tanaman (OPT); 3) kemungkinan terjadinya serangan hama sekunder; 4) kematian organisme yang menguntungkan, seperti lebah yang sangat berperan dalam penyerbukan bunga; 5) timbulnya kekebalan OPT terhadap pestisida sintesis. (Novizan, 2002)
2.8. Pendugaan Populasi
Klasifikasi Ikan Nila yaitu Ordo Perciformes, Family Chiclidae, Genus Oreochromis, Spesies Orechromis niloticus (Kottelat et.all. 2003)
Gambar 5. Morfologi Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan Nila bentuk tubuhnya pipih compressed, badan tinggi, kepala besar, sisik besar-besar, gurat sisi terputus di bagian tengah-tengah badan. Sirip punggung dan sirip dubur memiliki jari-jari keras seperti duri. Warna tubuh cerah dibandingkan ikan Mujair.
Tubuhnya simetris bilateral, sirip ekor berpinggiran tegak, termasuk kedalam kelas Osteichthyes. Hidung monorhinous. Linea lateralis tidak sempurna karena terputus. Bibir tebal, mulut lebar, moncong panjang, bibir atas berhubungan dengan bibir bawah. Letak mulut tegak lurus didepan bola mata. Tubuh dipenuhi sisik dan bagian ekornya/sirip ekornya terdapat 5 garis hitam. Hidup diperairan tawar.
Ikan Nila bentuk tubuhnya seperti ikan mujair, tetapi warnanya lebih cerah, dan dapat tumbuh lebih besar, panjangnya dapat mencapai sampai 50 cm. Ikan ini tersebar di Afrika Timur, Afrika Barat dan Syria. Di Indonesia belum lama dikenal. Tubuhnya jelas lebih besar dari pada ikan Mujair yang sudah ada, tetapi berkembang biaknya lebih lambat (Djuhanda, 1993).
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertenty pada tiap hari atau minggu dan bulan.
Krebs (1972) menyatakan bahwa densitas atau abudance adalah jumlah perunit area atau per unit volume yang dinamakan kepadatan mutlak, sedangkan kepadatan nixbi dari suatu populasi misalnya membandingkan keberadaan populasi spesies ikan tetentu di perairan habitat A lebih banyak dari perairan habitat C.
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)
Sebenarnya populasi mengikuti labih dari satu sifat yaitu :
1. Populasi yang terpisah secara geografi dengan yang lainnya mempunyai kesempatan walaupun sedikit untuk tukar genetis.
2. Dari populasi yang berkelompok yang dinamakan off nes terdapat satu seri perubahan yang gradual.
3. Populasi yang berkelompok harus disertai dengan perbedaan yang tajam dengan daerah hibridasi diantaranya (Royce dalam Pulungan et al, 2006).
Faktor-faktor yang menentukan hadirnya suatu individu di suatu lokasi perairan menurut (Mcnoughton dan Wolf, 1990) adalah distribusi spesies, distribusi lokal akan diatur oleh keseragaman perairan dan predator. Distribusi spesies pada habitatnya mengelompok menandakan ada faktor kecil yang dominan berfungsi sebagai pembatas.
(Odum, 1971) menyatakan bahwa mengelompoknya individu dalam suatu populasi disebabkan oleh respon terhadap lokasi yang berbeda, cuaca dan hasil dari proses reproduksi. Selanjutnya (Tee, 1992) menyatakan penyebaran fauna umumnya terjadi secara mendatar tergantung pada jaraknya dari perairan utama (laut) serta adaptasi fauna terhadap perubahan lingkungan.
Keberadaan suatu populasi dalam perairan dapat diduga melalui metode pendugaan populasi yang terbagi dua yaitu : 1) Secara langsung yang dilakukan dengan pengeringan pada suatu kolam yang luarnya terbatas dan dihitung satu per satu, selain itu dapat dilakukan dengan pemotretan gerombolan ikan-ikan pelagis yang hidup di laut dan dapat mengetahui kepadatannya. 2) Secara tidak langsung, dengan memperhatikan pengurangan “Catch per Unit Effort“. Dalam perhitungan menggunakan metode regresi dari De Lury, Leslie dan Davis. Dan dapat juga dengan metode penandaan (marking dan tagging). (Pulungan, 2006). Selanjutnya dikatakannya bagian-bagian tubuh ikan yang diberi tag adalah : a) Kepala yang meliputi tulang rahang, dan tutup insang, b) Bagian tubuh yang meliputi bagian depan sirip punggung, bagian belakang sirip punggung, sirip lemak (adipose fin) dan batang ekor.
Effendie (1997) menyatakan bahwa populasi ikan yang akan dipelajari sebaiknya memperlihatkan satuan usaha dari populasi tersebut, yang baik hasilnya dari hasil ini apabila jumlah ikan yang tertangkap seleruhnya sekurang – kurangnya sepertiga dari jumlah di dalam populasi, satuan usaha maksudnya seperti hasil tangkapan kapal tertentu pada tiap hari atau minggu dan bulan
Pemberian tanda secara marking adalah dengan cara tidak menempelkan benda asing ketubuh ikan akan tetapi dengan cara pemotongan salah satu sirip ikan atau sirip lainnya, dengan syarat setelah sirip dipotong maka tidak akan mengganggu aktivitas ikan sehingga memudahkan untuk menangkap kembali. Pemberian tanda tato pada overculum ikan, pemberian lubang pada overculum ikan. (Effendie, 1997)
2.9. Larva Ikan
Ikan betina yang telah matang gonad dan siap untuk memijah sebelumnya akan dibuahi oleh spermatozoa maka di dalam sel telur akan terjadi peleburan dan penyatuan kedua inti sel. Pada saat ini mulai terbentuk zygot yang kemudian diikuti dengan pembelahan hingga terbentuknya individu ikan lalu menetas dan keluar dari cangkangnya yang disebut dengan larva (Pulungan et al, 2005)
Effendie (1997) menyatakan bahwa anak ikan yang baru menetas disebut dengan larva dimana tubuhnya belum dalam keadaan sempurna, baik organ dalam maupun organ luarnya. Dibidang budidaya larva yang baru keluar dari telur disebut hatchling. Semasa perkembangannya larva terdiri dari prolarva dan postlarva.
Prolarva ialah larva yang masih memiliki kantung kuning telur berbentuk bundar, oval atau oblong, tubuhnya tran sparan dengan beberapa butir pegment. Sirip dada dan ekor sudah ada tetapi belum sempurna bentuknya, sedangkan sirip perut berupa tonjolan, mulut dan rahang belum berkembang, usus masih berupa tabung lurus. Sistem pernafasan dan peredaran darah tidak sempurna, makanan dari kuning telur yang dibawa oleh telur.
Sedangkan postlarva yaitu larva yang mulai kehilangan kantung kuning telur, mata berpigment, gelembung udara gelap, mulut terbentuk, sirip dada membesar,bntuk badan silinder atau pipih maupun bervariasi, sebagian besar organ sudah terbentuk sehingga diakhir postlarva secara morfologi hampir menyerupai bentuk ikan dewasa (Permana, 1987).
Jhingran (1975) menerangkan bahwa tahap larva adalah tahap paling kritis dalam kehidupan ikan karena banyak faktor penyebab mortalitas mulai dari larva, menetas ke alam sampai dapat mencari makanan sendiri. Terjadinya mortalitas itu karena faktor lingkungan dan diri larva itu sendiri. Kematian larva karena lingkungan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor biologi diantaranya makanan, predator dan kanibal, faktor kimia diantaranya pencemaran, oksigen terlarut, derajat keasaman, dan salinitas, sedangkan faktor fisika diantaranya suhu perairan, arus, dan turbiditas.
Larva yang organ – organ tubuhnya mulai terbentuk secara sempurna dan mulai berfungsi akan memasuki masa juvenil dan akhirnya menyerupai bentuk ikan dewasa ( Blaxter, 1969).
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Biologi Perikanan dilaksanakan mulai tanggal 19 September sampai tanggal 19 Desember 2006. Bertempat di Laboratorium Biologi Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.
3.2. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan setiap praktikum Biologi Perikanan adalah berupa ikan-ikan segar (baik yang hidup maupun yang mati).
Sedangkan alat-alat yang digunakan selama praktikum seperti baki untuk meletakkan ikan, gunting bedah untuk membedah bagian-bagian tertentu ikan, scapel untuk memotong daging ikan, pinset untuk mengambil organ yang akan diamati, timbangan Sartorius untuk menimbang berat, mikroskop untuk melihat organ-organ kecil, serbet untuk membersihkan, alat-alat tulis untuk mencatat hasil praktikum.
3.3. Metode Praktikum
Metode yang digunakan selama praktikum Biologi Perikanan menggunakan metode/pengamatan secara langsung terhadap objek atau ikan sampel.
3.4 Prosedur Praktikum
3.4.1. Seksualitas Ikan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya menimbang berat ikan, mengukur panujang total (TL), panjang baku (SL),panjang fork (FL), panjang kepala (HdL), tinggi badan (BdH), setelah itu menentukan jenis kelamin dari individu ikan dengan cara membedah bagian abdominal ikan, dan mengamati ciri seksual primer. Setelah ikan telah dibedah maka perhatikan antara ikan jantan dan ikan betina terhadap cirri seksual sekunder yang dimiliki meliputi seksual dimorphisme maupun seksual dichromatisme. Data yang didapat dijadikan sebagai laporan kerja sementara. Setelah itu dibuat dalam laporan individu dari setiap praktikan.
[
3.4.2. Kematangan Gonad
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya menimbang berat ikan, mengukur panujang total (TL), panjang baku (SL),panjang fork (FL), panjang kepala (HdL), tinggi badan (BdH), setelah itu menentukan jenis kelamin dari individu ikan dengan cara membedah bagian abdominal ikan, dan mengamati ciri seksual primer.
Selanjutnya, gonad yang ditemukan pada setiap ikan yang telah dibedah tadi, tentukan tingkat kematang gonadnya menurut Nikolsky (1963) dan Kesteven (Begenal dan Bram 1968). Ukur panjang gonad tersebut dengan penggaris dan ukur juga panjang rongga tubuh pada setiap ikan untuk menghitung perbandingannya. Kemudian gonad tersebut ditimbang dengan menggunakan timbangan sartorius. Apabila terdapat ovari yang telah matang gonad, maka disimpan dengan menggunakan botol yang telah berisi formalin untuk digunakan pada praktikum fekunditas yaitu menghitung jumlah telur yang terdapat pada setiap kantong ovari.
Setelah kita mendapatkan data dari pengukuran tadi, maka data yang didapat dijadikan sebagai laporan kerja sementara. Setelah itu dibuat dalam laporan individu dalam bentuk paper untuk setiap praktikan dan dikumpul sebelum masuk praktikum sebelumnya. Praktikum selesai dilaksanakan, cuci nampan dan keringkan kemudian bersihkan meja praktikum.
3.4.3. Fekunditas dan Diameter Telur
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium, praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya mengambil telur pada bagian anterior, tengah, dan posterior baik pada sisi kanan maupun sisi kiri. Letakkan sebanyak 5 telur yang telah diambil dari tempat tadi pada objek glass untuk dilihat nilai sebaran telur pada ovari ikan tersebut. Kemudian setelah diukur berapa diameter telur masukkan kedalam table dengan syarat nilai yang telah didapat dikalikan dengan perbesarannya yaitu 40x10 (0,025).
Pengamatan selanjutnya menghitung fekunditas ikan dengan menggunakan metode gabungan yaitu menghancurkan telur yang telah diberikan formalin ke dalam sebuah cawan Petri dengan menggunakan air 10 ml. Setelah hancur, telur ikan dimasukkan ke dalam gelas ukur setinggi 0,5. Kemudian, timbang berat ikan tersebut didalam timbangan sartorius. Telur yang ditimbang tadi dihitung satu persatu untuk mendapatkan nilai x. Jika telah didapat semua nilai, masukkan kedalam rumus dan hitung nilai fekunditasnya. Data yang diperoleh dijadikan laporan sementara dan nanti akn dipindahkan ke dalam laporan individu dalam bentuk paper.
3.4.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu setibanya di Laboratorium praktikan langsung mempersiapkan alat dan bahan, setelah itu melakukan pengamatan terhadap bahan praktikum diantaranya membedah bagian abdominal ikan untuk mengambil lambung ikan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) tersebut, menghitung volume lambung berisi maupun volume lambung kosong dengan menggunakan gelas ukur, mengamati isi dari lambung ikan dengan menggunakan mikroskop dan menentukan makanan yang paling dominan dimakan oleh ikan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) dan data yang diperoleh dijadikan laporan sementara.
3.4.5. Penentuan Umur Ikan
Melakukan pengamatan dengan mengiris bagian kepala ikan Selar (Caranx leptolepis), kemudian mengambil tulang otolithnya dengan cara mengiris bagian kepalanya.. Lalu diamati dengan menggunakan mikroskop, kemudian data yang diperoleh dijadikan laporan sementara
3.4.6. Mortalitas Ikan
Prosedur yang dilaksanakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut dua buah akuarium yang telah disediakan yang berukuran 60 x 30 x 30 diisi dengan air sebanyak 20 liter. Setelah terisi, air dibiarkan selama ± 10 menit. Setelah itu masukkan 3 ekor ikan ke dalam salah satu akuarium, ikan ini merupakan ikan uji. Sedangkan untuk yang dua ekor lagi masukkan dijadikan kontrol normal yang tidak diberi perlakuan insektisida.
Setelah itu, ikan diaklimatisasi selama ± 15 menit, selama proses aklimatisasi catat tingkah laku ikan baik ikan uji maupun ikan kontrol mulai dari gerakan, jumlah bukaan mulut dan tutup insang dan gerakan sirip. Setelah 15 menit pertama, masukkan 15 ml baycline ke dalam akuarium ikan uji, amati tingkah lakunya seperti 15 pertama.
Kemudian setelah 15 menit, ambil satu ikan uji bedah dan amati warna isang serta jantungnya. Selanjutnya masukkan lagi i5 nl baycline pada ikan uji amati selama 15 menit, setelah 15 menit ambil ikan untuk dibedah. Perlakuan tersebut terus diulang sampai semua ikan yang ada dalam akuarium mati.
Catat berapa ml baycline yang digunakan sampai ikan yang terakhir mati dan hitung juga konsentrasinya, serta catat waktu kematian masing-masing ikan uji. Setelah semua selesai diamati bersihkan semua alat-alat yang digunakan selama praktikum. Kemudian buat laporan dalam bentuk paper yang akan dikumpulkan sebagai syarat untuk mengikuti praktikum minggu berikutnya.
3.4.7. Pendugaan Populasi
Prosedur yang digunakan pada praktikum Pendugaan Populasi ini adalah, benih ikan nila dimasukkan ke dalam ember hitam, kemudian ditangkap dengan menggunakan saringan. Penangkapan dilakukan secara acak. Ikan yang sudah tertangkap, di beri tanda dengan memotong sirip ekornya untuk membedakan dengan ikan yang belum diberikan tanda. Kemudian dilakukan lagi penangkapan secara acak, dan di catat ikan yang sudah di beri tanda apabila tertangkap kembali dan ikan yang belum diberi tanda yang tertangkap juga dicatat kemudian beri tanda pada ikan yang belum diberi tanda. Dilakukan berulang-ulang sampai 10 kali. Hitung dengan menggunakan metode Petersen, Zoe Scehnebel, Schumecher dan Eschmeyer berikut nilai biasnya. Pindahkan di laporan sementara.
3.4.8. Larva Ikan
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan yaitu pengamatan terhadap bahan praktikum dengan melihat larva dibawah mikroskop untuk melihat periode yang sedang dialaminya serta melihat organ-organ yang telah terbentuk, setelah itu gambar bentuk objek yang terlihat dan dilakukan berulang-ulang sebanyak larva yang telah disiapkan. Kemudian dibuat laporan sementara.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
4.1.1. Seksualitas Ikan
Dalam praktikum pengenalan dan identifikasi terhadap jenis-jenis ikan diperoleh hasil dengan melakukan perhitungan dan pengukuran terhadap objek prakrikum tersebut.
Dimana hasil yang diperoleh berupa datadata morphometrik dan data meristik yang meliputi TL, SL, FL, HdL, BdH, jumlah jari-jari sirip pada setiap sirip yang terdapat pada spesies ikan tersebut, jumlah sisik, bentuk mulut, bentuk ekor serta klasifikasi dari spesies ikan yang dipraktikumkan.
Dari praktikum yang telah dilakukan maka diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Penentuan seksualitas ikan
No. Berat Ikan (gram) TL (mm) SL (mm) BdH (mm) HdL (mm) FL (mm) Jenis Kelamin
1. 50 180 140 40 35 150 Jantan
2. 50 180 140 40 40 150 Jantan
3. 60 185 145 45 40 153 Betina
4. 60 185 145 45 40 153 Jantan
5. 48 170 130 40 35 140 Jantan
6. 49 175 135 40 37 143 Jantan
7. 50 180 140 45 43 150 Jantan
8. 60 185 145 40 40 153 Jantan
9. 50 165 145 45 40 153 Jantan
10. 50 188 145 45 40 155 Betina
11. 47 175 135 45 40 145 Jantan
12. 47 175 138 45 40 145 Jantan
13. 50 180 140 45 40 145 Jantan
14. 45 165 125 40 35 135 Betina
15. 45 160 125 35 30 130 Betina
16. 20 170 135 35 30 140 Jantan
17. 60 190 145 45 42 155 Betina
18. 50 190 145 45 42 155 Jantan
19. 50 180 140 40 30 150 Betina
20. 40 165 130 45 40 135 Betina
21. 35 160 120 40 38 125 Jantan
22. 50 180 136 45 42 146 Betina
23. 50 178 135 40 42 145 Jantan
24. 40 145 116 35 35 126 Jantan
25. 30 162 127 37 30 136 Jantan
Data diatas didapat pada saat melakukan pembedahan ikan dan langsung melihat gonad yang dimiliki oleh setiap ikan secara langsung atau juga disebut dengan seksual primer. Sehingga dapat diketahui bahwa ikan jantan sebanyak 17 ekor, sedangkan betina sebanyak 8 ekor.
Sedangkan seksual sekunder dimorphisme maupun seksual dichromatisme yang dimiliki ikan motan ini adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Seksual dimorphisme dan seksual dichromatisme
a. Seksual dimorphisme
Jantan Betina
Permukaan kepalan halus Permukaan kepala kasar
Bentuk abdominal tidak membundar Bentuk abdominal membundar
b. Seksual dichromatisme
Jantan Betina
Warna tubuh lebih cerah Warna tubuh tidak begitu cerah
Warna sirip punggungnya lebih cerah Warna sirip punggung tidak begitu cerah
Warna testes ikan jantan putih susu, sedangkan warna ovari ikan betina adalah hijau pekat, ini dipengaruhi oleh makanan yang makan oleh ikan motan ini.
4.1.2. Kematangan Gonad
Dari praktikum yang telah dilakukan mengenai Tingkat Kematangan Gonad ikan, dihasilkan klasifikasi dan data morphometrik dan berat tubuh ikan rata-rata sebagai berikut:
Tabel 3. Morfometrik ikan motan jantan dan betina serta berat ikan tersebut
No. Berat Ikan (gram) TL (mm) SL (mm) BdH (mm) HdL (mm) FL (mm) Jenis Kelamin
1. 50 180 143 43 40 154 Jantan
2. 50 172 137 40 35 147 Jantan
3. 50 172 134 40 40 146 Jantan
4. 50 173 140 41 37 149 Jantan
5. 40 164 132 37 38 138 Jantan
6. 50 185 145 40 40 155 Jantan
7. 50 175 130 35 35 145 Jantan
8. 50 175 130 45 45 145 Jantan
9. 50 165 125 40 35 135 Jantan
10. 50 170 135 40 40 145 Jantan
11. 60 180 145 45 40 155 Jantan
12. 50 175 140 45 40 145 Jantan
13. 50 170 135 45 40 145 Jantan
14. 40 170 130 40 40 135 Jantan
15. 70 190 145 45 40 150 Betina
16. 50 165 130 40 35 140 Jantan
17. 50 180 140 40 35 150 Jantan
18. 50 180 140 40 35 150 Jantan
19. 50 180 140 45 40 150 Betina
20. 50 175 135 40 35 145 Jantan
21. 50 175 135 40 30 145 Jantan
22. 50 170 132 40 30 140 Jantan
23. 50 170 130 40 30 135 Jantan
24. 48 165 130 40 35 135 Jantan
25. 48 165 127 40 30 135 Jantan
Tabel 4. Tabel Perbandingan/Ratio Perbandingan antara Panjang Gonad dengan Panjang Rongga Tubuh
NO. Pjg Rongga Tubuh
(mm) Pjg Gonad
(mm) Ratio Perbandingan
(mm) Jenis Kelamin
Jantan Betina
1. 45 65 0,85 Jantan
2. 50 60 1,2 Jantan
3. 50 60 1,2 Jantan
4. 55 65 1,18 Jantan
5. 50 60 1,2 Jantan
6. 55 65 1,18 Jantan
7. 50 60 1,2 Jantan
8. 50 60 1,2 Jantan
9. 50 55 0,9 Jantan
10. 45 55 0,81 Jantan
11. 50 60 0,83 Jantan
12. 47 58 0,81 Jantan
13. 48 60 0,8 Jantan
14. 45 55 0,81 Jantan
15. 60 75 0,8 Betina
16. 60 75 0,8 Jantan
17. 65 80 0,81 Jantan
18. 60 75 0,8 Jantan
19. 70 85 0,82 Betina
20. 65 80 0,81 Jantan
21. 50 60 0,83 Jantan
22. 48 60 0,8 Jantan
23. 55 65 0,85 Jantan
24. 50 60 0,83 Jantan
25. 53 65 0,82 Jantan
Tabel 5. Tabel Indeks Kematangan Gonad Ikan Motan
No. Berat IKG (%) Tingkat Kematangan Gonad
Brt tbh+gonad Brt Gonad Nikolsky Kesteven
1. 50 gr 0,4458 gr 0,8916 % I II
2. 50 gr 0,1365 gr 0,2730 % I II
3. 50 gr 0,2808 gr 0,5616 % II III
4. 50 gr 0,3985 gr 0.7790 % II III
5. 40 gr 0,3235 gr 0,8087 % II III
6. 50 gr 0,4138 gr 0,8276 % II III
7. 50 gr 0, 2501 gr 0,5002 % II III
8. 50 gr 0,2510 gr 0,2020 % II III
9. 50 gr 0,0744 gr 0,1488 % II III
10. 50 gr 0,5048 gr 1,0096 % III IV
11. 60 gr 0,3962 gr 0,6603 % II III
12. 50 gr 0,5560 gr 1,1120 % III IV
13. 50 gr 0,7122 gr 1,4244 % II III
14. 40 gr 0,3392 gr 0,8480 % III IV
15. 70 gr 6,0583 gr 8,6547 % IV V
16. 50 gr 0,2257 gr 0,4514 % III IV
17. 50 gr 0,6080 gr 1,2160 % III IV
18. 50 gr 0,3645 gr 0,7290 % III IV
19. 50 gr 7,0266 gr 14,0532 % IV V
20. 50 gr 0,2720 gr 0,5440 % II III
21. 50 gr 0,3130 gr 0,6260 % III IV
22. 50 gr 0,1902 gr 0,3804 % I II
23. 50 gr 0,2902 gr 0,5804 % III IV
24. 48 gr 0,2838 gr 0,5913 % III IV
25. 48 gr 0,1488 gr 0,3100 % III IV
Dari Tabel 5 diambil data ikan sampel yaitu untuk ikan jantan adalah ikan no. 5 dan ikan betina adalah ikan no. 19, gonad pada ikan motan . Dari data ini dilakukan penimbangan terhadap masing-masing gonad ikan dan penghitungan IKG (Indeks Kematangan Gonad) atau sering disebut Coeffisien Kematangan Gonad atau Gonado Somatic Index, yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikali dengan 100 %.
Rumus IKG :
Bg
IKG = X 100 %
Bt
Keterangan : IKG = Indeks Kematangan Gonad
Bg = Berat Gonad dalam gram
Bt = Berat tubuh dalam gram
a. IKG untuk Testes (Sampel no. 1)
Dik : Berat testes = 0,3235 gr
Berat ikan = 40 gr
Dit : IKG ?
0,4458
IKG = X 100 % = 0,8916 %
50
b. IKG untuk Ovari (Sampel no. 19)
Dik : Berat ovari = 7,0266 gr
Berat ikan = 50 gr
Dit : IKG ?
7,0266
IKG = X 100 % = 14,0532 %
50
4.1.3. Fekunditas dan Diameter Telur
Pada praktikum kali ini, fekunditas dihitung dengan menggunakan metode gabungan. Metode gabungan adalah metode yang menggabungkan metode-metode sebelumnya yaitu metode volumetric, gravimetrik, dan metode jumlah. Adapun rumus pada metode gabungan ini adalah sebagai berikut :
F =
Keterangan :
F : Fekunditas
G : Berat gonad (gr)
V : Volume pengenceran (ml)
X : Jumlah butir telur setelah ditimbang dengan menggunakan timbangan sartorius.
Q : Berat telur contoh (sub-sampel) pada tabung ukur 0,5
Dengan menggunakan rumus metode gabungan tadi, maka dapat dihitung nilai fekunditas ikan Motan (Thynnichthys thynnoides)
Diketahui : Berat gonad (G) = 7,0266 gr
Volume pengenceran (V) = 10 ml
Jumlah butir telur (x) = 1882 butir
Berat telur (Q) = 0,8398 gr
Ditanya : Fekunditas (F) ?
Jawab : F =
F =
F =
F = 157466,792
F = 157467
Telur yang telah diambil dari bagian anterior, tengah, posterior kemudian dijajarkan pada objek glass dan dilihat serta ditentukan diameter telurnya dengan menggunakan mikroskop mikrookuler, maka didapat ukuran sebagai berikut :
Tabel 6. Diameter telur ikan motan (Thynnichthys thynnoides)
Ket. Kiri Kanan
Anterior 25 20 30 25 20 33 27 25 30 25
Tengah 25 20 25 30 30 27 33 30 25 30
Posterior 30 25 28 25 20 25 29 20 20 23
Karena pembesaran yang digunakan adalah 40x10, maka nilai diatas dikalikan dengan 0,025. Sehingga didapat hasil pada tabel berikut :
Tabel 7. Diameter telur ikan yang dikalikan dengan perbesaran 40x10 (0,025)
Ket Kiri Kanan
Anterior 0,625 0,5 0,75 0,625 0,5 0,825 0,675 0,625 0,75 0,625
Tengah 0,625 0,5 0,625 0,75 0,75 0,675 0,825 0,75 0,625 0,75
Posterior 0,75 0,625 0,7 0,625 0,5 0,625 0,725 0,5 0,5 0,575
Setelah didapatkan nilai diatas, kemudian ditabulasikan ke dalam tabel berikut.
Tabel 8. Ukuran diameter telur dari keenam bagian ovari ikan
Diameter telur (mm) Frekuensi (butir)
Kiri Kanan
Anterior Tengah Posterior Anterior Tengah Posterior
0,5 II I I II
0,575 I
0,625 II II II II I I
0,675 I I
0,7 I
0,725 I
0,75 I II I I II
0,825 I I
Jumlah = 5,375 5 5 5 5 5 5
Dari data diatas, dilanjutkan dengan menghitung jumlah (∑) diameter telur rata-rata dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
telur rata-rata =
Keterangan :
telur rata-rata : diameter telur dibagi jumlah telur (mm)
: diameter telur ikan
n : jumlah telur ikan yang diamati
Diket : = 5,375
n = 30
Ditanya : telur rata-rata?
Jawab : telur rata-rata =
= 0,1792
Jadi, pada ke 30 diameter yang diambil dari 6 tempat bagian ovari memiliki diameter telur sebesar 0,1792 mm.
4.1.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Tabel 9. Morfometrik , mulut, dan susunan insang ikan Lele dumbo ( Clarias garipinus)
Ikan Morfometrik Bukaan mulut Posisi mulut Jenis gigi Susunan insang
TL SL Bdh HdL
I 270 230 35 65 25 Lebar dan berada tegak lurus dibelakang bola mata Vilivorm Tidak rapat
II 260 225 35 60 20
III 250 220 35 55 20
Setelah diukur data diatas, ketiga ekor ikan dibedah dan diambil saluran pencernaannya yaitu lambung dan intestine. Ketiga lambung tersebut yang masih berisi makanan dimasukkan ke dalam tabung ukur 10 ml. Lambung beserta usus ketiga ikan lele tersebut kemudian dikeluarkan semua isinya dan dimasukkan ke dalam cawan Petri. Setelah semua isi lambung dan intestine dikeluarkan, maka usus dan lambung tadi dimasukkan ke dalam tabung ukur 10 ml air. Kemudian hitung berapa selisih volume air yang dimasukkan lambung berisi dan lambung yang kosong.
Tabel 10. Volume kenaikkan lambung berisi dan lambung kosong beserta selisihnya.
Ikan Volume lambung dan usus berisi dalam 10 ml air Volume lambung dan usus kosong dalam 10 ml air Selisih
1. 10 ml air 14 ml 10 ml air 13,5 ml 0,5 ml
2. 10 ml air 13 ml 10 ml air 12,5 ml 0,5 ml
3. 10 ml air 12,5 ml 10 ml air 12 ml 0,5 ml
Isi lambung yang dimasukkan ke dalm cawan Petri tadi kemudian diencerkan dengan air 10 ml. Setelah encer, ambil cairan tersebut ke dalam pipet tetes dan diletakkan pada objek glass untuk diamati di bawah mikroskop. Pengamatan dalam mikroskop sebanyak 3 kali ulangan / 3 tetes dan dari 3 sudut pandang. Lihat jenis makanan dan dimasukkan ke dalam table.
Tabel 11. Jenis makanan Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Jumlah makanan Ikan Jumlah Persentase
I II III
1.
Anabaeropsis raciborskii wal 6 3 5 14 x100%=18,42%
2.
Lyngbya spirulinoides Gom 4 5 3 12 x100%=15,79%
3.
Gomphosphaeria aponina Kg 18 10 8 36 x100%=47,37%
4.
Cylendrocystis brebissoni Menegh - 6 - 6 x100%=7,89%
5.
Glococystus vesiculosa Naeg - - 8 8 x100%=10,53%
4.1.5. Penentuan Umur Ikan
Hasil yang didapat pada praktikum kali ini sebagai berikut:
Tabel 12. Ukuran Morphometrik
No. TL SL HdL BdH FL
1. 180 150 45 55 160
2. 190 155 43 50 170
3. 195 160 45 45 165
Gambar 6. Otolith Ikan Selar (Selaroides leptolepis)
Perhitungan berat otolith ikan Caranx leptolepis:
1) Kanan = 0,0001g
Kiri = 0,0009 g
4.1.6. Mortalitas Ikan
4.1.6.1. Deskripsi Ikan Lele dumbo
Saanin (1984) mengklasifikasikan ikan Nila kedalam kelas Pisces, subkelas Teleostei, ordo Ostariphysi, subordo Siluridea, famili Claridae, genus Clarias, species Clarias gariepinus.
Gambar 7. Morfologi Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
4.1.6.2. Perhitungan Volume Air Aquarium.
V = p x l x t Dimana: V = Volume air (liter)
20 = 60 x 30 x t p = Panjang aquarium (cm)
20.000 = 1800 t l = Lebar aquarium (cm)
t = t = Tinggi Air (cm)
t = 11,1 cm
4.1.6.3. Reaksi Ikan Terhadap Zat Pencemar
Setelah dilakukan proses pengamatan selama lima belas menit, ikan uji diberi perlakuan berupa pemberian detergen sebanyak 20 gr setiap 15 menit, kemudian diamati bukaan mulut, bukaan operculum serta tingkah laku ikan.
Tabel 13. Hasil Pengamatan Reaksi Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) terhadap bahan pencemar baycline.
Waktu Bukaan
Bukaan Operculum Detak
Jantung
Pergerakan Ikan
Ikan
Kontrol 15 menit 82 96 98 Ikan berenang dengan arah teratur
Ikan
Uji 1 15 menit 124 133 73 Ikan berenang dengan tak teratur
Ikan
Uji 2 15 menit
30 menit 121
129 132
146 69 Ikan melompat keatas perairan
Ikan
Uji 3 15 menit
30 menit
45 menit 121
136
138 129
135
142 70 Ikan membenturkan tubuhnya kedinding
Insang pada ikan kontrol terlihat berwarna merah, sedangkan ikan uji 1 yang sudah tercemar insang berwarna sedikit lebih gelap. Begitu juga dengan ikan uji 2 yang berada 15 menit lebih lama dari ikan uji 1, warna insang lebih merah hati sampai pada ikan uji 3, insang berwarna merah hati dan warna tubuh ikan secara keseluruhan menjadi lebih pucat.
4.1.7. Pendugaan Populasi
Adapun data yang didapatkan dari praktikum adalah sebagai berikut:
Tabel 14. Pendugaan populasi pada ikan Nila
Penangkapan u r u+r m m.r m(u+r) m2(u+r)
1 3 0 3 0 0 0 0
2 7 0 7 0+3=3 0 21 63
3 4 1 5 3+7=10 10 50 500
4 4 6 10 10+4=14 84 140 1.960
5 1 6 7 14+4=18 108 126 2.268
6 2 9 11 18+1=19 171 209 3.971
7 1 8 9 19+2=21 168 189 3.969
8 3 5 8 21+1=22 110 176 3.872
9 5 9 14 21+3=25 225 350 8.750
10 2 5 7 25+5=30 150 210 6.300
Jumlah 30 49 71 162 1.026 1.471 31.653
1. Metode Petersen
Dilakukan pada penangkapan ke-III karena pada penangkapan kedua ikan yang bertanda tidak dapat ditangkap (r = 0).
P^ =
P^ = = 50
Bias =
Bias =
Bias = 0 % (tidak terhingga)
2. Metode Zoe scahnabel
P^ =
=
= 30,0204
Bias = x100%
Bias =
Bias = 39, 96%
3. Metode Schumecher dan Eschmeyer
P^ =
=
= 30,8509
Bias = x100%
Bias =
Bias = 38,30%
Kesimpulan : melihat dari perhitungan indeks bias yang relatif kecil adalah metode Petersen sebesar 0 % sehingga kebiasan pendugaan populasi semakin kecil artinya mendekati tingkat kebenaran.
4.1.8. Larva Ikan
Ikan lele dumbo diklasifikasikan ke dalam kelas Pisces, Sub kelas Teleostei, Ordo Ostariophysi, Sub ordo Siliraodae, Family Clariidae, Genus Clarias, Spesie Clarias gariepinus (Saanin, 1984).
Gambar 8. Morfologi Prolarva Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Gambar 9. Morfologi Postlarva Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus)
Adapun hasil yang diperoleh dalam praktikum ini yaitu antara larva yang satu dengan yang lain mempunyai ciri-ciri morfologi yang berbeda, hal ini dapat dikarenakan oleh perbedaan usia larva walaupun hanya berbeda beberapa jam.
Tabel 15. Data Larva Ikan Lele (Clarias gariepinus)
No. Prolarva Postlarva Ciri - Ciri
1 Kuning telur sedikit, belum ada bukaan mulut, sirip belum terbentuk
2 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
3 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
4 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
5 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
6 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
7 Kuning telur sedikit, belum ada bukaan mulut, sirip belum terbentuk
8 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
9 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
10 Sudah terdapat bukaan mulut, sirip sudah hampir berbentuk sempurna
4.2. Pembahasan
4.2.1. Seksualitas Ikan
Gonad yang berkembang didalam tubuh individu ikan akan mempengaruhi pertambahan berat tubuh. Individu – individu ikan yang sudah matang gonad sempurna berat testes mempengaruhi pertambahan berat tubuh ikan jantan sekitar 10 – 15%, sedangkan pada ikan sekitar 15 – 25% (Pulungan, 2006)
Ciri seksual ikan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ciri seksual primer dan ciri seksual sekunder. Ciri seksual primer adalah alat atau organ yang berhubungan langsung dengan proses reproduksi. Sedangkan ciri seksual sekunder berguna dalam membedakan ikan jantan dengan ikan betina dan dapat dilihat dari luar, meskipun kadang kala tidak memberikan hasil yang positif (Bond, 1979).
Testes dan salurannya pada ikan jantan serta Ovari dan salurannya pada ikan betina merupakan ciri seksual primer. Ikan Motan yang diamati ialah ikan Motan jantan. Menurut (Pulungan, 2006) pada ikan Motan jantan terdapat testes. Testes pada ikan terdapat dalam tubuh ikan jantan. Bentuknya juga bergantung pada rongga tubuh yang tersedia. Tetapi pada umumnya mempunyai bentuk tubuh yang memanjang. Jumlahnya sepasang dan menggantung pada mesenteries (mesorchia). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai berwarna putih susu.
Sedangkan pada ikan Motan betina terdapat ovari yang terletak di samping kanan dan kiri gelembung renang, dibawah ruas-ruas vertebrae, di atas saluran pencernaan dan menggantung pada mesovaria, warnanya bervariasi mulai dari orange sampai kuning keemasan (Pulungan,2006)
Alat pengeluaran atau organ uropoetica pada ikan Motan terdiri atas tiga bagian, antara lain : 1) mesonephros, terdapat sepasang berwarna merah tua dan terletak di antara gelembung renang dan tulang punggung. Mempunyai bentuk yang bervariasi, agak memanjang dan mempunyai bagian yang membesar yang terjepit di antara kedua bagian pneumatocyt. 2) ureter (ductus mesonephridicus), merupakan saluran keluar dari mesonephros 3) gelembung kencing (vesica urinaria), merupakan persatuan ureter kanan dan kiri (Pulungan, 2006).
4.2.2. Kematangan Gonad
Gonad adalah organ reproduksi yang berfungsi menghasilkan sel kelamin (gamet). Gonad yang terdapat pada tubuh ikan jantan disebut testes berfungsi menghasilkan spermatozoa sedangkan gonad yang terdapat pada ikan betina disebut ovari yang nantinya akan menghasilkan telur (ovari).
Gonad yang ada dalam tubuh ikan umumnya berjumlah sepasang. Gonad yang sepasang berfungsi untuk keseimbangan badan dalam bergerak. Tidak selamanya gonad yang disebelah kanan sama ukurannya dengan gonad disebelah kiri namun yang ukurannya lebih pendek akan menyeimbangkan diri dengan berat.
Testes pada ikan terdapat dalam rongga tubuh, bentuknya sangat tergantung pada rongga tubuh yang tersedia tetapi umumnya berbentuk panjang, jumlahnya sepasang dan tergantung di sepanjang mesenteries pada rongga atas bagian tubuh. Posisinya persis di bawah tulang punggung di samping gelembung udara. Warna bervariasi mulai dari transparan sampai warna putih susu. Ovari pada ikan terdapat dalam tubuh, bentuknya juga tergantung pada rongga tubuh. Namun pada umumnya memanjang, jumlahnya sepasang dan menggantung kepada mesenteries (mesovaria). Posisinya persis di bawah tulang punggung dan ginjal serta di samping gelembung udara. Warnanya bervariasi mulai dari transparan sampai kuning emas dan keabu-abuan. (Pulungan et all, 2006)
Untuk mempermudah mengetahui perkembangan gonad maka oleh para peneliti dilakukan pentahapan terhadap perkembangan gonad yang bervariasi. Hal ini disesuaikan dengan kondisi jenis ikan yang dianalisa dan digunakan. Gonad yang terdapat di dalam tubuh mengalami perkembangan dari bentuk sehelai benang berisi cairan bening kemudian berkembang dan membesar sesuai dengan kapasitas rongga perut yang dimiliki individu ikan. Perkembangan gonad ini dipengaruhi oleh adanya perkembangan gamet yang diproduksi oleh gonad itu sendiri. Semakin matang gonad suatu individu ikan maka semakin besar bentuk dan berat gonad serta tubuh individu ikan. Beberapa peneliti memperkirakan pertambahan berat gonad ikan berkisar 10-25 % dari berat tubuh. Akan tetapi pada jenis ikan tertentu pertambahan gonad dapat mencapai 50 % dari berat tubuh. (Pulungan, 2005)
Effendi (1997) pada proses reproduksi sebelum terjadi pemijahan sebagian besar hasil metabolisme tertuju untuk perkembangan gonad, gonad semakin bertambah berat diimbangi dengan bertambah ukurannya. Kemudian (Siregar, 1989) menyatakan bahwa perkembangan gonad ikan secara garis besar dibagi atas dua tahap perkembangan utama yaitu pertumbuhan gonad sehingga ikan mencapai tingkat dewasa kelamin (sexually mature) dan tahap pematangan produk seksual/ gamet.
Tahap kematangan gonad yang umum digunakan menurut Kesteven yaitu 1) dara, 2) dara berkembang, 3) perkembangan I, 4) perkembangan II, 5) Bunting, 6) Mijah, 7) Mijah/salin, 8) salin/spent dan 9) pulih salin. Sedangkan menurut Nikolsky,tahap perkembangan gonad pada ikan terdiri dari 1) tidak masak, 2) tahap istirahat, 3) pemasakan, 4) masak, 5) reproduksi, 6) kondisi salin, 7) tahap istirahat.
Selama proses reproduksi, sebagian besar hasil metabolisme tertuju pada perkembangan gonad. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam gonad itu sendiri. Umumnya pertamabahan bobot gonad pada ikan betina 10 – 25 % dan pada ikan jantan 5 – 10 % dari bobot tubuh. Pengetahuan tentang perubahan/tahap-tahap perkembangan gonad diperlukan untuk mengetahui kapan ikan akan/tidak melakukan reproduksi. Dengan mengetahui tingkat-tingakat kematangan gonad, kita akan dapat mengetahui kapan ikan akan memijah, baru memijah atau sudah selesai memijah. Ukuran ikan saat pertama sekali gonadnya masak ada hubungannya dengan pertumbuhan ikan serta faktor lingkungan yang mempengaruhinya. (Tang, 2000)
Tiap-tiap spesies ikan pada ukuran pertama kali gonadnya matang tidak sama ukurannya. Demikian juga pada ikan yang spesiesnya sama. Faktor utama yang mempengaruhi kematangan gonad ikan antara lain : suhu, makanan dan faktor keberadaan hormon. Pengetahuan tentang kematangan gonad tidak akan sempurna apabila tidak diiringi dengan pengetahuan tentang anatomi, histologi alat reproduksi baik jantan maupun betina. Demikian juga proses-proses pembentukan sel kelamin sampai terjadinya kematangan gonad. Berdasarkan hal tersebut, kajian mengenai perkembangan gonad perlu diungkapkan (Affandi, 2000)
4.2.3. Fekunditas dan Kematangan Telur
Menurut Bagenal (1967) menerangkan bahwa fekunditas adalah jumlah telur yang dikeluarkan oleh ikan dalam rata-rata masa hidupnya. Parameter ini relevan untuk studi populasi, karena kematangan ikan pada waktu pertama kalinya dapat diketahui dan juga statistik kecepatan mortalitas dapat ditentukan dengan pengelolaan perikanan yang baik.
Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengaruhi oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan factor fisiologi tubuh.
Untuk menghitung fekunditas (butiran telur) pada ikan dapat dilakukan dengan lima cara yaitu, : 1) Metoda jumlah (menjumlahkan secara langsung), 2) Metoda volumetrik, 3) Metoda gravimetric, 4) Metoda gabungan volumetrik, gravimetric, dan jumlah, 5) Metoda Von Bayer (Effendie, 1992).
Namun pada praktikum yang dilakukan menggunakan gabungan yaitu menghitung secara langsung dengan menggabungkan metode sebelumnya diantaranya metode jumlah, metode gravimetrik, dan metode volumetrik. Dengan menggunakan metode ini, maka kita melakukan semua metode baik itu dengan teknik pemindahan air, teknik penimbangan berat telur serta menghitung satu persatu-satu telur ikan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam rumus yang telah diterngkan sebelumnya.
Suandson (1949) menyatakan bahwa jumlah telur di dalam ovari ikan secara umum akan bertambah sesuai dengan pertambahan ukuran tubuhnya, dan perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telurnya. Semakin matang gonad ikan tersebut maka semakin besar pula diameter telur ikan itu.
Kemudian Effendie (1992) mengemukakan bahwa semakin berkembang gonad, telur yang terkandung didalam semakin membesar garis tengahnya, sbagai hasil dari pengendapan kuning telur, hidrasi dan pembentukan butir – butir minyak berjalan secara bertahap terliput dalam perkembangan tingkat kematangan gonad. Semakin meningkat tingkat kematangan diameter telur semakin membesar, sebaran diameter telur pada TKG akan mencerminkan pola pemijahan ikan tersebut.
4.2.4. Analisa Isi Saluran Pencernaan
Setelah dilakukan pembedahan pada bidang abdominalnya, maka terdapat 5 jenis mikroorganisme yang dimakan oleh ikan lele ini antara lain yaitu Anabaeropsis raciborskii wal, Lyngbya spirulinoides Gom, Gomphosphaeria aponina Kg, Cylendrocystis brebissoni Menegh, Glococystus vesiculosa Naeg.
Dalam menganalisa isi lambung ikan serta mempelajari kebiasan makan ikan dapat dilakukan dengan beberapa metode diantaranya yaitu dengan metode jumlah, metode frekwensi kejadian, metode perkiraan tumpukan dengan persen, metode volumetrik, metode gravimetrik dan metode gabungan.
Namun pada praktikum kali ini untuk melihat ataupun mempelajari kebiasaan makan ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) dilakukan dengan menggunakan metode gabungan. Dimana metode jumlah ini dilakukan dengan jalan memperhitungkan individu organisme serta benda-benda lain yang terdapat di dalam alat-alat pencernaan makanannya, dengan menentukan Indeks Relatif penting (IRP). Apabila masing-masing jumlah sudah diketahui maka dapatlah dibandingkan yang satu dengan yang lainnya dan dapat ditarik kesimpulan dari macam-macam isi yang terkandung dalam alat pencernaan makanannya (Lagler. 1977).
Zonnefeld, Hiusman dan Bonn (1991) menyatakan bahwa panjang usus relatif tidak menunjukkan secara tepat tentang kebiasaan makan ikan. Walaupun usus relatif lebih panjang.
Menurut pendapat Bond (1979) yang menyatakan bahwa bentuk usus yang bergulung – gulung dimaksudkan untuk menambah masa penahanan dan pencernaan makanan yang sulit dicerna.
Asmawi (1983) menyatakan bahwa suatu makanan ikan minimal harus mengandung protein, karbohidrat, dan lemak. Ketiga zat tersebut masing – masing akan dirubah menjadi energi yang sangat diperlukan untuk melakukan aktivitas – aktivitas hidup dan biasanya ikan cenderung memilih protein sebagai sumber energi yang utama. Kualitas makanan baru dapat mempengaruhi pertumbuhan apabila jika makanan yang tersedia dalam jumlah yang banyak dan berkualitas baik. Sebaliknya jika makanan yang tersedia dalam jumlah sedikit maka makanan tidak akan mempengaruhi dalam kecepatan pertumbuhan ikan.
4.2.5. Penentuan Umur Ikan
Dalam praktikum penentuan umur ikan ini, sampel yang digunakan dengan mengambil tulang otolith yang terletak dibagian dalam kepala ikan. Perhitungan umur ikan ini harus dapat dikatakan kurang berhasil dikarenakan garis-garis annulusnya kurang jelas dan terlalu rapat sehingga hanya dapat dibuat gambar otolithnya saja.
Panjang baku dihubungkan dengan panjang otolith, karena setiap pertambahan panjang baku maka panjang kepala akan bertambah sehingga pertumbuhan otolith akan bertambah juga. Tanda tahunan pada otolith ada yang dapat dibaca langsung dibawah mikroskop tetapi kebanyakan tidak, melainkan harus meratakan permukaan agar dapat dilihat dengan hasil yang baik.
Tanda tahunan terjadi karena adanya kelambatan pertumbuhan yang disebabkan oleh musim dingin atau kekurangan makanan atau faktor lain (Effendie, 1997)
Menurut Saanin (1984), karena satu jenis ikan berbeda besarnya disebabkan karena lebih umur atau keadaan tempat hidupnya, maka tidaklah mungkin memberikan ukuran bagian-bagian ikan sebagai tanda untuk identifikasi dalam ukuran mutlak; misalnya cm yang merupakan ukuran dalam mengidentifikasi. Kiemudian Effendie (1997) mengatakan pengukuran waktu yang baik sehubungan dengan pertumbuhan pada ikan adalah umur ikan tersebut. Bila umur ikan diketahui dengan tepat maka analisa pertumbuhan dapat dilkakukan dengan baik.
Cara lain untuk menentukan umur ikan dengan menggunakan mtode Petersen yaitu dengan menggunakan frekuensi panjang ikan. Ikan mempunyai satu umur tersendiri membentuk suatu distribusi normal. Sektor panjang rata-ratanya, bila frekuensi panjang tersebut digambarkan dengan grafik akan membentuk beberapa puncak. Puncak inilah yang dipakai tanda kelompok umur ikan. Untuk ikan yang lain masa pemijahan panjang menyebabkan terdapat pertumpuan ukur dari umur yang berbeda.
4.2.6. Mortalitas Ikan
Dari praktikum yang telah dilaksanakan sebelumnya untuk melihat gejala yang timbul akibat pencemaran yang terjadi di suatu perairan digunakan sampel dimana bahan pencemar yang dipilih yaitu detergen sebanyak 60 gr dalam jangka waktu 45 menit sehingga dapat dilihat dengan jelas gejala – gejala yang timbul baik berupa gerakan ikan maupun gejala yang timbul pada permukaan tubuh ikan.
Pada ikan sample yang digunakan termasuk ikan yang tidak begitu kuat pertahanan tubuhnya karena tepat pada 45 menit terakhir ikan itu mati dan pada permukaan tubuhnya banyak terdapat lendir – lendir..
Dari hasil di atas ternyata ikan yang hidup pada suatu perairan ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan sekitarnya. Apabila lingkungan sekitar perairan tersebut tidak tercemar maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan berkembang dan tumbuh, namun sebaliknya apabila lingkungan perairan tersebut tercemar baik itu melalui industri dan bahan-bahan lainnya yang berasal dari rumah tangga seperti deterjan dan sebagainya maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan cepat mengalami kepunahan.
Moyle dan Cech (1988) mengatakan kepunahan populasi ikan yang hidup di suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kepunahan dapat terjadi apabila kematian secara masal berkelanjutan sepanjang tahun dan dari tahun ke tahun. Faktor yang mendorong suatu populasi ikan cepat mengalami kepunahan antara lain :
Perburuan/penangkapan yang dilakukan berkelanjutan terhadap populasi ikan yang sedang melakukan ruaya pemijahan. Sehingga tidak bisa meneruskan regenerasi berikutnya.
Perburuan / penangkapan yang terus berkelanjutan pada jenis – jenis ikan tertentu yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di pasaran.
Pencemaran yang berkelanjutan pada lingkungan peraiaran yang tertutup
Perusakan lingkungan habitat tertentu seperti penimbunan atau pengeringan perairan rawa – rawa, pengeboran habitat karang dan penimbunan perairan danau-danau berukuran kecil.
Penangkapan ikan yang berkelanjutan dengan menggunakan tuba atau putas pada lingkungan perairan yang tertutup dan terbatas.
4.2.7. Pendugaan populasi
Untuk memahami dinamika populasi kita harus memahami dulu tentang histori atau aspek –aspek biologi dari suatu spesies fauna serta memahami parameter dari populasi serta aspek – aspek yang berhubungan satu dengan lainnya.
Jumlah individu dalam populasi dari suatu spesies ikan di lingkungan perairan tertentu dalam hal ini benih ikan Patin yang dimasukkan ke dalam ember hitam, selalu berubah karena dipengaruhi banyak factor. Diketahuinya jumlah individu dalam suatu populasi dari setiap jenis fauna yang berada dalam perairan lingkungan tertentu maka akan dapat mendukung untuk mengetahui potensi suatu perairan tertentu, dengan diketahuinya jumlah individu dalam populasi dari spesies ikan yang bernilai ekonomis tinggi dari waktu ke waktu maka akan dapat diperkirakan berapa banyak individu dari spesies tersebut untuk di eksploitasi agar keberadaan populasinya di lingkungan perairan itu dapat dipertahankan (Pulungan, 2004).
Dalam pendugaan populasi dapat digunakan metode yaitu: secara langsung dan tidak langsung sedangkan dalam perhitungan populasi digynakan tiga metode yaitu: 1) Metode Petersen, 2) Metode Schumacher dan Eschemeyer, 3)Metode Zoe Scahnebel.
Dari sejumlah hasil ikan tangkapan kembali akan didapatkan pula ikan yang bertanda. Dengan demikian parameter yang akan didapatkan dalam sensus ini adalh jumlah ikan yang diberi tanda, jumlah ikan tangkapan untuk disensus jumlah ikan yang tertangkap ada tanda, populasi ikan pada waktu pemberian tanda (Effendie, 1979)
Pada praktikum Pendugaan populasi ini menggunakan 50 benih ikan Patin yang dimasukkan ke dalm ember hitam. Dilakukan penangkapan, dan ikan yang sudah tertangkap diberi tanda dengan pemotongan pada ekornya. Kemudian dilakukan penangkapan lagi, apabila ada ikan yang bertanda yang tertangkap di catat. Lalu data tersebut dihitung dengan menggunakan Metode Petersen, Metode Zoeschabel, Metode Schumacher dan Eschmeyer. Indeks bias masing – masing metode juga dihitung.
4.2.8. Larva Ikan
Sebelum embrio menetas, maka embrio akan sering merubah posisinya karena kekurangan ruang gerak di dalam cangkang, sehingga dengan adanya pergerakan tersebut bagian cangkang telur akan menjadi lunak dan akhir nya telur akan pecah. Pada bagian cangkang yang pecah ujung ekor embrio akan dikeluarkan terlebih dahulu, sedangkan bagian kepalanya akan dieluarkan pada bagian akhir, karena bagian kepala ini paling besar jika dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya (Effendie, 1997).
Larva yang baru keluar dari cangkang telur digolongkan sebagai prolarva dengan ciri-ciri larva belum memiliki bukaan mulut, sirip belum terbentuk sempurna, membawa kuning telur sebagai cadangan maknan selama masa pro larva. Lamanya masa menjadi prolarva atau sampai habis kuning telur bervariasi untuk setiap spesies ikan, biasanya sekitar 3-7 hari. Cepat lambatnya habis cadangan makanan berupa kuning telur dapat dipengaruhi oleh : jumlah kuning telur yang dibawa telur, factor fisiologis selama masa embriologi, kondisi lingkungan seperti suhu perairan, dan sifat spesies itu sendiri. Sesudah habis cadangan makanan berupa kuning telur maka larva memasuki periode post larva dan pada saat ini bukaan mulut sudah terbentuk dan beberapa organ tubuh mulai terbentuk sempurna serta mulai difungsikan (Permana, 1987).
Individu ikan yang masih berada pada vase larva akan mengalami rona kehidupan yang penuh resiko atau merupakan masa yang paling kritis dalam kehidupannya, karena pada masa ini individu ikan masih berada dalam fase peralihan dari bentuk yang primitif menjadi bentuk yang definitif.
Bentuk primitif yaitu sebagian organ-organ tubuhnya belum terbentuk secara sempurna dan belum dapat melaksanakan fungsinya secara baik. Sedangkan bentuk definitif adalah bentuk individu baru yang sudah memiliki bentuk tubuh secara sempurna dan semua organ tubuh telah berfungsi seperti pada kedua induknya.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dengan diperolehnya data-data morphometrik dan meristik diketahui bahwa setia spesies ikan mempunyai ukuran tubuh yang berbeda antara satu dengan yang lainnya dan juga didapat perbandingan antara panjang tubuh dengan panjang bagian tubuh lainnya. Kemudian dengan melakukan pendeterminasian untuk memperoleh data kita dapat menentukan spesies dari objek praktikum yang kita lakukan yang sering dikenal dengan pengidentifikasian.
Tingkat Kematangan Gonad (TKG) adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelumdan sesudah ikan memijah. Pengamatan tahap-tahap kematangan gonad dapat dilakukan secara morfologi dan histologi. Pengamatan morfologi dapat dilakukan di laboratorium dan dilapangan, sedangkan histologi dilakukan dilaboratorium.
Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) yaitu suatu nilai dalam persen sebagai hasil dari perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad dikali 100 %.
Nilai fekunditas suatu individu ikan selalu bervariasi, karena dipengruhi oleh umur atau ukuran individu ikan, jenis dan jumlah dari makanan yang dimakan, sifat ikan, kepadatan populasi, lingkungan hidup dimana ikan itu berada dan faktor fisiologi tubuh.
Jumlah telur di dalam ovari ikan akan mengalami penambahan sesuai dengan pertambahan ukuran tubuh ikan tersebut dan perkembangan telur ditandai dengan ukuran diameter telur yang semakin besar.
Keberadaan jenis makanan dan jumlah makanan yang tersedia diperairan sangat dipengruhi oleh faktor biotik dan abiotik pada perairan dimana tempat ikan itu hidup.
Dalam menentukan umur individu ikan dapat diamatiberdasarkan tanda-tanda tahunan (Annulus) yang dimiliki oleh ikan tersebut. Dengan mengamati sisik kunci, tulang vertebrae, tulang operculu, duri sirip dan tulang otolith.
Dari hasil yang termudah untuk mengetahui berapa umur suatu spesies ikan dapat dilihat dari lingkaran harian atau tahunan yang terdapat pada tulang otolith.
Pertumbuhan tulang otolith melalui permukaan dan endapan material suatu proses yang berhubungan dengan massa. Otolith tersusun dari kontraksi kalsium karbonat dalam bentuk organic dan berserat, kolagen yang menyerupai protein otolith.
Ikan yang hidup pada suatu perairan ditentukan dengan faktor-faktor lingkungan sekitarnya. Apabila lingkungan sekitar perairan tersebut tidak tercemar maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan berkembang dan tumbuh, namun sebaliknya apabila lingkungan perairan tersebut tercemar baik itu melalui industri dan bahan-bahan lainnya yang berasal dari rumah tangga seperti deterjan dan sebagainya maka ikan yang hidup pada perairan tersebut akan cepat mengalami kepunahan.
Ikan–ikan yang habitatnya terkena pencemaran akan mengalami kematian dengan memperlihatkan gejala – gejala yang ditimbulkannya seperti pergerakan ikan yang lambat ataupun hanya diam di dasar perairan dan terkadang bergerak sangat lincah dan pada permukaan tubuhnya banyak terdapat lendir. Mortalitas ikan sangat ditentukan oleh beberapa faktor misalnya suhu, makanan, letak lintang dan umur ikan tersebut.
Manfaatnya dalam penanganan populasi ini perlu diperhatikan parameter—perameter yang terdapat dalam populasi tersebut baik itu parameter pada individu ikan maupun parameter pada populasinya. Pemberian tanda pada ikan dapat dilakukan secara marking dan tagging. Marking adalah pemberian tanda pada tubuh ikan tetapi tidak menggunakan benda asing hanya memotong pada sirip perut ikan dan pemberian tato pada ikan tersebut sebagai tanda bahwa ikan tersebut telah diberi tanda. Sedangkan Pemberian secara tagging adalah dengan cara menempelkan benda asing ketubuh ikan (benda yang tidak berkarat, seperti : perak, almunium, plastik, ebonut dan selulloid.
Ikan yang baru keluar dari cangkangnya tergolong pada fase pro larva yaitu larva ikan yang masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur dan sebagian organ-organ tubuhnya belum terbentuk secara sempurna dan belum berfungsi. Setelah masa ini larva ikan memasuki fase post larva, dimana pada fase ini larva ikan sudah mulai kehilangan cadangan makanannya berupa kuning telur dan sebagian organ-organ tubuhnya sudah mulai terbentuk dan mulai difungsikan secara baik.
Cepat lambatnya habis cadangan makanan berupa kuning telur dipengaruhi oleh jumlah kuning telur yang tersedia di bawah telur, factor fisiologis selamam periode embriologis, kondisi lingkungan seperti suhu perairan, serta sifat spesies ikan itu sendiri.
5.2 Saran
Alat-alat praktikum saat ini sudah cukup tersedia, namun diharapkan untuk yang akan datang agar alat-alat praktikumnya bisa lebih dilengkapi agar lebih bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan dalam praktikum Biologi Perikanan ini.
DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, S. 1983. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba. Gramedia, Jakarta. 82 hal.
Bagenal, t.b. and e. braum. 1967. Eggs and Early Life History. In W. E. Ricker (ed) Methode for Assesment of Fish Production In Freshwater, IPB Hanbook No. 3. International Biological Programme, London. P 166-198
Bailey, k. M. And e. D. Honde. 1989. Predation on Eggs and Larvae of Marine Fishes and the Recruitment Problem, In Marine Biology Vol 25 Ed. JHS Blaxter and Djajasewaka, h. 1985. Pakan Ikan. Jasaguna. Jakarta. 42 hal.Aj sout hward. Academic Press, p 1-83.
Klein. L. 1962. Rever Pollution II: Causes And Effecttens. Butterwouth and Cc. Ltd, London, 293 pp.
Bond, C.E. 1979. Bioloby Of Fishes. WB Saunders Company, London. 512p
Dahuri, R. 2002. Keanekaragaman Hayati Laut Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Damanik, Ningse. 2001. Inventarisasi Ikan Ordo Cypriniformes yang terdapat di Waduk Koto Panjang. Laporan Praktek Lapangan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, Pekanbaru. 27 hal. (tidak diterbitkan)
Dinas Perikanan Tingkat I Riau. 2001. Buku Tahunan Statistik Perikanan Provinsi Riau, Pekanbaru.
Djuanda T., 1981. Dunia Ikan . Armico . Bandung . 191 halaman
Effendie,M.I.,1992. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Agromedia. 112 hal
Effendie, M .I., 1978. Biologi Perikanan – bagian I : study Natural History. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor, bogor. 105 hal (tidak diterbitkan).
Effendie, M. I. 1979. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Dwi Sri, Bogor. 112 hal .
Effendie, M. I. 1997. Metode Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta. 163 hal .
Hardjamulia,A dan S, rabegnator,1991. Penelitian perikanan air tawar: Hasil dan dampaknya bagi pengembangan perikanan rakyat, hal 63-67.
Jhingran, V. 1975. Fish and Fisheries of India. Hindustan Publishing Corp (India) 6-U. B, Jawahar nagar, Delhi. 954 p.
Jones, R. E. 1978. The Vertebrata Ovary Comparative Biology and Evolution. University of Colombo. New york and London. 63 P.
Katrini, 1995. Tingkat Kematangan Gonad dan Perbandingan Jenis Kelamin Ikan Selais (K. apogon Blkr) yang tertangkap di sungai Kampar kiri, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten kampar. Skripsi Fakultas Perikanan. Universitas Riau. Pekanbaru. 61 hal (tidak diterbitkan)
Kottelat, M. Whitten. S.N. Kartikasari dan S. Wirjoatmodjo, 1993. Ikan- ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition Limited. Jakrta. 243 hal
Klein. L. 1962. Rever Pollution II: Causes And Effecttens. Butterwouth and Cc. Ltd, London, 293 pp.
Krebs, C.J.1972. Ecology the Experimentel Analysis of Distribution and Abudance, Harper and Rowws. 694 p.
Lagler, K.F ; J. E. Badach; R.R Miller and D,R. Masyarakat Passino., 1977.Ichtiologi. Jonh Willey and Sons. Inc. Toronto, 506 p.
Lam, T. J. 1985. Induced Spawning in Fish. Oceanic Institut and Tungkang Marine Laboratory.
Manda, Ridwan. dkk. 2006. Kumpulan Istilah dalam Materi Kuliah Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Kelautan UNRI.
Morales. nin, B., 1992. Determination of Growth in Bony fisher from Otolith Microstructure. FAO Fisheries Tehnical Paper. 110.332, Rome 51 page.
Moyle, P.B. and J.J. CECH, 1988. Fisher and Introduction to Ichtiology, 2 edition, Prentice Hall. Englewood Cliffs, New Jersey. 559 p.
Mujiman, A. 1987. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. 239 hal
Nelson, 1984. Pengawetan Ikan dan Hasil Perikanan. CV, Aneka Solo, 169hal
Nelson, J. S. 1984. Fishes of the world 2nd edition. Jhon wiley and sons. New york, 524 P.
Nikolsky (1969). Tingkat Kematangan Gonad Pada Ikan Air Tawar
Novizan. 2002. Membuat dan Memanfaatkan Pestisida Ramah Lingkungan. PT Agromedia Pustaka. Jakarta.
Paling. J.E. 1971. Causes of Mortality. In Metode for Assessment of Fish Production in Freshwater. ED. W. E. RICKER. IPB Handbook No. 3 Blackwell Scientific Publication. Oxford. 226-235.
Permana, E. 1987. Perkembangan Larva Ikan. Karya Ilmiah, Faperika IPB, Bogor (Tidak diterbitkan)
Pulungan, C. P. 1985. Morphometrik Ikan Selais Siluroidea dari perairan kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau. Pusat Penelitian UNRI, Pekanbaru. 54 hal (tidak diterbitkan)
Pulungan, 1990. Fekunditas dan Seberan Diameter Telur dari Beberapa enis Ikan Cyprinid dari Danau Lubuk Siam, Riau. Pusat Penelitian Universitas Riau, pekanbaru. 57 hal (tidak diterbitkan)
Pulungan. 2004. Hand Out Kuliah Mata Kuliah Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNRI. Pekanbaru.
Saanin, H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan Jilid 1 & 2. Bina Cipta. Jakarta.
Suandson, B. 1949. Natural Selektion and Eggs Fish Freshwater. Drottingholn. 115 :122 P
Syamsudin, A.R, 1980. Pengantar Perikanan. Karya Nusantara, Jakarta.
Syandri, H. 1996. Aspek Reproduksi Ikan Bilih (Mystacoleusus padangensis Blkr) dan Kemungkinan Pembenihannya di Danau Singkarak. Tesis Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor 99 hal (tidak diterbitkan)
Tang, U. M. dan Affandi. 2001. Biologi Reproduksi Ikan, Penerbit Pusat Penelitian Kawasan Pantai dan Perairan. Universitas Riau. Pekanbaru. 153 hal
Tee, G. A. C. 1982. Some Aspect of the Ecology of the Mangrove Forest of Sungai Buloh. Selangor II : Distribution Pattern and Population Dynamic of Three Dwelling Fauna. Malay. Nat. Jurn. 35 : 267 – 277.
Uktolseja, J.C.B dan Purwasamita, 1987. Fekunditas dan Diameter telur Ikan Cakalang (Katsuwanus pelamis lineus) di Perairan sekitar Ambon, Jurnal Penelitian Perikanan Laut, 44 – 76.
Weber dan Beaufort, 1931. The Fishes of Indonesia-Australia Archipelogo. Laiden.
Weber, M and L. F. De Beaufort, 1965. The Fishes Of The Indo Australian Archipelago III, Brill Ltd. Leaden. 455 p.
Yuniarti. R. 1995. Perkembangan Telur dan Fekunditas Ikan Selais Yang tertangkap di Sungai Kampar Kiri. Kecamatan Kampar Kiri. Kabupaten Kampar, Skripsi Fakultas Perikanan, Universitas Riau. Pekanbaru. 57 hal (tidak diterbitkan)
Znnofeld, N., E.A. Huisman dan J.H Bonn, 1991. Prinsip – Prinsip Budidaya Ikan. Gramedia, Jakarta. 318 hal.
LAMPIRAN
Lampiran 4. Alat-alat yang digunakan dalam Praktikum
Baki Serbet
Pena Pensil
Penghapus Penggaris
Buku penuntun praktikum Laporan sementara
Jarum Mikroskop
Gunting Timbangan
Sartorius Cawan Petri
Gelas ukur Pipet tetes
Cawan Petri Ember
Saringan Toples
Langganan:
Postingan (Atom)
